Selamat Jalan Ustadz Yunahar Ilyas


Berita kepergiannya di medsos sungguh mengejutkan. Salah seorang tokoh cendekiawan dan pendakwah Muhammadiyah yang senantiasa menjadi rujukan perihal seluk-beluk urusan fikih tersebut ternyata telah dipanggil-Nya. Prof.Dr.KH. Yunahar Ilyas, L.C.,M.Ag. telah berpulang keharibaannya pada Kamis, 2 Januari 2020 menjelang tengah malam di RSUP Sardjito, Yogyakarta. Kita, Muhammadiyah, ummat muslim, dan Indonesia kembali kehilangan sosok putra, ulama, suri tauladan terbaiknya.

Kepergian beliau di Hari Jumat ini langsung mengingatkan saya akan khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Kampus UGM sekitar setahun silam. Khutbah Jumat 25 Januari 2019. Khutbah tersebut rupanya menjadi khutbah beliau yang turut kami dengar dengan khitmad dan senantiasa teringat hingga saat ini. Lain daripada khutbah Jumat yang selazimnya menghantarkan jamaah ke puncak kantuk, bahkan tidur pulas, khutbah beliau sungguh menarik. Dan anehnya saya kala itu bisa dengan penh minat dan konsentrasi menyimaknya dengan seksama hingga menyimpan di dalam memori hingga masih terngiang hingga hari ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , | Meninggalkan komentar

Pesona Situs Istana Kaibon Banten Lama


Salah satu jejak sejarah Kasultanan Banten adalah keberadaan Istana Kaibon. Istana tersebut merupakan situs reruntuhan salah satu istana Kasultanan Banten yang sangat penting. Situs ini masih berada di Kawasan Banten Lama, tepat di sisi kiri jalan Serang arah Banten Lama atau Pelabuhan Karangantu. Bekunjung ke Banten Lama serasa kurang lengkap tanpa singgah di tempat ini.

Menyusul Kerajaan Demak dan Cirebon sebagai kerajaan Islam di Pulau Jawa, hadir pula Kasultanan Banten di ujung barat tanah Jawa. Baik Cirebon ataupun Banten konon dirintis oleh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Adalah Maulana Hasanudin, salah seorang putra Gunung Jati naik tahta sebagai sultan Banten yang pertama. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Rumah Dunia: Rumah Baca, Rumah Bahasa


Setahun sudah berlalu ketika kami berkesempatan menimba ilmu kepenulisan esai kepada penulis  yang satu ini. Kang Haris, demikian nama panggilan lelaki penulis Balada Si Roy ini. Ia memang lebih dikenal publik dengan nama pena Gol A Gong. Lelaki berlengan satu ini, selain masih terus aktif di dunia kepenulisan, ia juga mengampu dan mengelola Rumah Dunia. Rumah Dunia merupakan sebuah sanggar literasi sebagai tempat bernaung para penggiat sastra di Kota Serang.

Gol A Gong, dengan kekuatan magic lima jarinya, telah menulis lebih dari 125 buku. Tulisan tersebut berbentuk kumpulan puisi, cerita pendek, esai, hingga scenario tayangan acara tivi. Pada umur 11 tahun lelaki aruh baya ini harus menghadapi sebuah kenyataan yang sungguh menyedihkan, kehilangan sebelah lengan. Saat bermain dengan teman-teman sebayanya di pinggiran Alun-alun Kota Serang, ia terjatuh dari pohon, cidera, dan pata tulang. Penanganan luka yang sedikit terlambat menyebabkan jalan amputasi tidak terhindarkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Berkarib Dengan Kesederhanaan


Hidup sederhana konon merupakan salah satu ajaran berdasarkan perilaku Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Derasnya gelombang hidup materialisme saat ini justru semakin menjauhkan ummat Islam dari perilaku hidup sederhana. Terlebih bagi yang berpandangan dan menganut paham materialisme, seringkali segala hal diukur dengan nilai material, ya dengan uang, dengan harta, dan bentuk kekayaan yang lainnya.

Ada hal menggelitik dalam sebuah diskusi pada sebuah grup di sebuah media sosial. Seorang ibu meng-copy paste, dan mengunggah postingan panjang lebar tentang kebanyakan sikap orang tua masa kini yang justru “membunuh anaknya secara halus”. Tentu tidak sedikit orang tua milenial masa kini dulunya bertumbuh-kembang dalam suasana serba keterbatasan, bahkan serba kekurangan. Betapa banyak generasi sukses masa kini dulunya berasal dan bertumbuh sebagai generasi yang harus banyak laku prihatin, bekerja keras, hidup dalam kesederhaan, menjalani segala proses kesusahan hidup. Intinya segala keterbatasan dan kesusahan tersebut telah menggembleng, menempa, mendidik, membentuk sosok-sosok berketerbatasan meraih dan menggapai kehidupan yang lebih baik, sukses, bahkan kaya raya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag | Meninggalkan komentar

Ruwetnya Ngurus Surat Tanah


Dalam sistem kerajaan tanah adalah milik raja. Dalam sistem negara, tanah secara prinsip adalah milik negara. Rakyat, sebagai warga negara, sejatinya hanya memiliki hak untuk menggunakannya dalam rangka mengambil manfaat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Mungkin terkadang kita merasa memiliki hak penuh atas sebidang tanah yang diperoleh dari waris ataupun perpindahtanganan melalui proses jual-beli. Namun ketika kita berproses dalam rangka mendapatkan jaminan kepastian hukum atas “hak milik kita” tersebut, barulah terasa betapa tidak berdayanya rakyat yang berhadapan dengan negara. Ringkasnya saat pengurusan Sertipikat Tanah. Pernahkah merasakan?

Seorang kolega menerima waris sebidang tanah sawah berlima saudara. Taruhlah untuk mudahnya, masing-masing menerima bagian yang sama. Sebelumnya sertifikat hak milik sudah atas nama orang tua mereka. Setelah hak waris jatuh, maka secara hukum sertifikat kepemilikan itupun harus dibagi atau dipecah menjadi lima atas nama masing-masing penerima waris. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tips Antisipasi Ular Kobra Masuk Rumah


Secara prinsip keluarga kami termasuk keluarga yang terbuka. Jika ada salah satu dari kami berada di rumah pada sian hari, tentu pintu depan senantiasa terbuka. Hal itu menandakan bahwa siapapun dipersilakan bertandang, bertamu, ataupun sekedar main ke rumah kami. Tentu saja konteks siapapun di atas terkhusus untuk sesama makhluk bernama manusia, tidak untuk hantu atapun binatang liar, terlebih tamu tak diundang bernama ular kobra!

Petang kemarin hari memang menjelang maghrib. Suasana dingin sangat terasa sebagai sisa hujan deras di siang hari. Hujan memang semakin rutin menyambangi daerah kami. Meskipun tidak berlangsung lama, intensitas hujan yang cukup deras benar-benar menyejukkan. Nah di kala kami sedang leyeh-leyeh bersenda gurau, tiba-tiba ibunya anak-anak berteriak histeris. “Ular! Ada ular!” demikian teriakannya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , | 2 Komentar

KC Edisi Desember 2019


Monggo dihadiri bersama-sama.

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Hujan-hujanan Musim Hujan


Pernah lihat raut muka para bocah yang ceria berhujan ria. Betapa bahagia raut muka bocah-bocah itu. Dengan sekedar berbaku kaos oblong, atau bahkan tanpa baju sama sekali, anak-anak itu berlarian sambal tertawa lepas. Kita sebagai orang dewasa mungkin secara praktis pragmatis berpikir dengan akal, apa enaknya hujan-hujan begitu? Kedinginan. Kotor. Bisa-bisa masuk angin ataupun remati kambuh. Bukannya kegembiraan, namun paling mungkin justru penyakit yang dating. Dari sini saja sudah sangat nampak perbedaan standar atau kriteria ala para bocah dan orang dewasa. Bahagia harusnya sederhana, sebagaimana bahagianya para bocah yang berhujan ria menyambut musim penghujan yang sungguh telah terlambat tiba.

Bahagia memang sederhana. Bahagia jelas soal hati. Sesederhana itu. Uang yang melimpah belum tentu bisa menjamin hati seseorang merasa bahagia. Buktinya, banyak orang yang uangnya pas-pasan cengar-cengir, ketawa-ketiwi always happy. Jabatan yang menterengpun tidak serta merta menjadikan orang bahagia. Pejabat sekelas Hansip yang hanya jadi suruhan Pak RT, Pak RW, paling pol jadi kepercayaan Pak Lurah juga sudah merasa adem-ayem jiwa raganya. Tidak perlu uang berlimpah, memiliki rumah mewah, mempunyai kendaraan gagah hanya untuk merasakan bahagia. Intinya bahagia ya soal hati itu tadi. Sederhana, sebagaimana para bocah yang riang bermandi hujan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , | Meninggalkan komentar

Gigi Tanggal Dua


Tanggal yang saya tuliskan ini tidak berkaitan dengan kalender. Tanggal dengan makna lain dapat diartikan lepas. Peristiwa inilah yang baru-baru ini dialami oleh Noni Nadya, putri sewayang kami. Tepat di awal bulan dan penghujung bulan November silam, peristiwa tersebut terjadi. Memang sih tanggal sengaja dicabut dan bukan tanggal oleh sebab yang lain. Namun baru hari-hari ini kami jadi kepikiran sesuatu hal. Tentang makna gigi yang tanggal!

Tanggalnya gigi si Noni memang sebuah kesengajaan. Meskipun masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, kebetulan giginya rapi dan utuh. Tidak ada yang griwing ataupun berlubang. Tidak pernah pula ia mengeluhkan sakit gigi. Secara buliknya yang kebetulan seorang perawat gigi senantiasa memberikan pengajaran perawatan dan kebersihan organ mulut dan gigi dengan baik serta sangat mengena. Jadilah memang si Noni tergolong sebagai anak yang rajin menggosok gigi dan tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan minuman yang terlalu manis. So what gigi mesti dicabut segala? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag | Meninggalkan komentar

Nikmat Yang Selalu Terlupakan


Secara sederhana, hidup yang enak adalah hidup yang penuh berlimpah kenikmatan. Badan sehat adalah nikmat. Kerja lancer dan karir terus menanjak adalah kenikmatan. Anak-anak yang penurut dan pintar adalah kenikmatan. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa berucap, hidung bisa bernafas, semua adalah kenikmatan. Rasa damai dan hati yang tentram juga nikmat. Nafas adalah nikmat. Semua yang berkenaan dengan hidup kita sejatinya adalah kenikmatan-kenikmatan yang dilimpahkan Sang Pemberi Nikmat, Tuhan Yang Maha Kasih Maha Penyayang. Maka nikmat manalagi yang bisa kita dustakan?

Dalam beberapa waktu akhir-akhir ini, Tuhan tengah menunjukkan kepada diri kami pribadi berbagai peristiwa yang sungguh bermakna untuk berkaca tentang kenikmatan. Orang tua kami yang dipanggil keharibaanNya melalui lantaran tidak bisa buang air besar air kecil adalah salah satu pembelajaran tentang nikmat yang luar biasa. Dalam keseharian, kita mungkin berpikir bahwa mekanisme buang air besar buang air kecil adalah sebuah hukum alam yang terjadi secara alamiah. Kita seringkali melupakan bahwa di balik hukum alam senantiasa ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Sepandai apapun seseorang, sekaya apapun dia, secanggih apapun alat dan teknologi yang dimiliki manusia, ternyata tidak akan sama sekali dapat membantu saat Tuhan menentukan seseorang tidak bisa buang air besar air kecil. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag | Meninggalkan komentar