Kado untuk Bapak Ibu Guru di Hari Guru Nasional


Hari Guru. Tanpa mengurangi makna ketakziman dan penghargaan terhadap guru-gurunya, anak-anak sekolah di masa lalu tidak terlalu heboh dengan urusan Hari Guru. Hal ini ternyata sangat berbeda dengan anak-anak sekolah jaman now. Si Ponang yang duduk di kelas V SD Panunggangan V, sudah sedari hari kemarin disibukkan dengan ide untuk memberikan sebuha kado istimewa untuk guru kelasnya. Tentu saja jika hal ini sepenuhnya merupakan ide, gagasan, dan inisiatif dari anak-anak, tentu sungguh diacungi jempol dan patut didukung sepenuh hati oleh para orang tua.

Sedari pagi di hari Minggu ini, si Ponang dan beberapa teman sekelasnya sudah janjian untuk kumpul bersama, menyiapkan kado istimewa untuk Bu Ning, guru wali kelas mereka. Belum sempat semua bregodo anggota kelompok mereka berkumpul, hujan datang mengguyur. Mereka kemudian malah hanyut dalam obrolan dan sebagian yang membuka-buka buku bacaan milik si Ponang, bahkan ada yang menyetel lagu dari The Cramberries yang ngerock itu. Petikan gitar melengking dan hentakan drum dari hp yang ngerock itu menambah gemuruh hujan di teras rumah kami. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , | 2 Komentar

Sinau Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng Sepuluh Tahun Tangsel


Gambar | Posted on by | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Jembatan Jokowi dan Air Terjun Susun Empat di Kaki Merapi


Jembatan, secara fisik, merupakan penghubung dua titik lokasi yang saling berseberangan. Dua titik tersebut bisa berseberangan karena terpisahkan oleh sebuah aliran sungai. Pun ada yang berseberangan terpisah oleh lautan, jurang, gunung, bahkan perbatasan negara. Jembatan menjadi sarana akses terpendek, sehingga juga yang tercepat, di antara dua titik lokasi dimaksud. Untuk menunjang aktivitas sehari-hari, peran dan fungsi jembatan menjadi sangat vital.

Salah satu jembatan yang memiliki peran sangat penting sebagai jalur penghubung dua wilayah yang terpisah oleh Kali Telingsing di Kaki Merapi adalah Jembatan Jokowi. Jembatan ini secara resmi bernama Jembatan Gantung Mangunsuko, sebagai mana tercantum pada prasasti yang dibuat oleh Kementerian PUPR. Penamaan jembatan pada Tahun Anggaran 2016, yang mengambil nama dari Presiden RI ke-7 ini, dikarenakan Jokowi pernah mengunjungi jembatan yang dibangun pasca erupsi besar Merapi di tahun 2010 silam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , , | 1 Komentar

Sekaten di Mata Seorang Bocah


Sholatulatullah salamullah, ‘ala toha rasulillah. Sholatullah salamullah, ‘ala yasin khabibillah. Pagi ini si Noni dan Diska, teman sepermainannya, melantunkan kalimat sholawat tersebut. Ia tentu belum sadar, terlebih paham, bahwa lantunan itu sedemikian tepat menemukan momentumnya. Hari ini, Selasa Wage, 20 November 2018 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1440 H. Tanggal keramat ini diyakini dan diperingati oleh sebagian ummat muslim sebagai Hari Maulid atau Kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW, nabi akhir penutup jaman.

Di masa kecil dahulu, kami teringat sebuah kisah. Kala itu keluarga kami dan beberapa kerabat, serta tetangga, menyewa colt untuk pergi ke Kutagara Ngayojakarta. Umur kami waktu itu sekira 4-5 tahun. Usia yang belum genap ijir. Ingatan tentang kejadian itupun hanya samar tersangkut di ingatan. Namun peristiwa itu seolah begitu melekat di dasar sanubari. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | 1 Komentar

Kolaborasi Melukis Pagi Bersama Noni


Jumat pagi di medio November. Sebagaimana November Rain-nya GNR, pagi itupun cuaca sedikit mendung. Dalam keremangan terbitnya sang fajar, kebetulan saya buka plastik buku berjudul Sekolah Biasa Saja karya catatan Toto Rahardjo dari Sanggar Anak Alam (Salam) Yogyakarta. Selepas membaca bagian pengantar, tersembul sebuah gambar anak-anak yang erat berangkulan sebagai latar sebuah lukisan rumah dengan gambaran anak-anak sedang bermain sudamanda, layangan, dan membuat gunung tanah di latar halaman depan.

Seketika itu pula terbersit niat untuk mengambil spidol dan menggoreskan lukisan di whiteboard miliki si Noni. Begitu saya mulai mencorat-coret. Lha si Genduk Noni langsung berinisiatif untuk turut nimbrung dan bergantian menggambar sesuatu. Jadilah pagi itu kami awali dengan aktivitas kolaborasi bersama duet lukis ala bapak dan anak perempuannya.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi November 2018


Monggo dihadiri bersama-sama.

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Satrya Gunung: Kesatrya Anak-anak Gunung Merapi


Satrya, sudah pasti yang dimaksudkan adalah satria atau kesatria. Satrya merupakan sosok manusia yang digambarkan memiliki perilaku utama. Mungkin ia gagah dari sisi fisiknya. Mungkin ia sakti, memiliki aji jaya kawijayan, ataupun berpusaka ampuh. Mungkin ia pandai dengan segudang ilmu kepintaran. Mungkin pula ia seorang darah biru putra bangsawan. Namun lebih daripada itu semua, seorang satrya adalah manusia paripurna utama. Segala pemikiran, perkataan, perbuatan, dan perjuangannya dilakukan atas nama darma kepada sesama, kepada negara, kepada dunia alam semesta raya, bahkan kepada Tuhan.

Satrya mungkin bisa disepadankan dengan sosok patriot atau pahlawan. Ia, seolah sudah meniadakan keinginan, kepentingan, dan cita-cita pribadinya. Kepentingan sesama, negara, dan agama terletak jauh lebih tinggi di atas kepentingan diri pribadinya. Kita bisa menyebut beberapa tokoh sebagai kesatrya. Para Pandawa merupakan kesatrya utama di dunia pewayangan. Airlangga, Gadjah Mada, Pati Unus, Sultan Agung adalah beberapa nama kesatrya dari kerajaan-kerajaan Nusantara di masa silam. Ada pula Pattimura, Diponegoro, Hasanuddin, hingga Jenderal Sudirman kita yakini pula sebagai kesatrya negara kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Sablon Kreatif ala Komunitas Oemah Daon


Masih berbagi serpih kisah dari Festival Tlatah Bocah XII Tahun 2018 di Desa Sumber, Kabupaten Magelang. Begitu pagi menjelang siang, banyak anak-anak telah berkumpul di Pendopo Balai Desa Sumber, tempat berbagai workshop digelar. Di tengah pendopo, anak-anak perempuan berseragam Pramuka coklat muda coklat tua sudah asyik dengan seni kerajinan hias temple berbahan tisu. Di sudut yang lain, serombongan peserta tengah tenggelam dengan praktik theraphy healing yang diajarkan. Ada pula sekelompok bapak-bapak dan ibu-ibu yang tengah menunggu petugas untuk mengurus pembuatan dokumen kependudukan, seperti KTP, KK, atau akta kelahiran. Rangkain kegiatan pada dua hari puncak Festival Tlatah Bocah XII memang beragam.

Di tengah keriuhan anak-anak yang tengah asyik dengan beberapa workshop tadi, datang dua orang dengan seperangkat tas barang bawaan. Tampang kedua orang tersebut cukup nganeh-anehi, bahkan terkesan medeni. Bagaimana tidak medeni bin sangar coba, yang satu berambut panjang, gimbal, bertindik lagi. Ia bertopi anyam bamboo warna coklat muda. Satunya meskipun rambutnya tidak gondrong, tetapi bertato dan bergiwang di telinganya. Melihat tamang keduanya, saya langsung teringat kelompok anak-anak punk yang sering ngamen ataupun meminta-minta di perempatan lampu merah. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , , , | 2 Komentar