KC Edisi September 2019


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Iklan
Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Bahagia Sederhana Bahagia Sekarang Juga


Tuhan sendiri banyak memberikan pengibaratan bahwa hidup di dunia hanyalah sebuah permainan. Dunia dan segala isinya adalah kefanaan semata. Semestinya semua kefanaan janga sampai memenuhi rongga hati dan pikiran kita. Hanya dengan cara demikian manusia akan dapat menggapai kebahagian yang sejati. Kebahagiaan sejati akan membawa keceriaan, kegembiraan, always happy everyday. Rasa inilah yang selalu memenuhi hati dan perasaan anak-anak. Tiada merasa memiliki masalah.

Anak-anak adalah kepolosan, bahkan kesuciaan nurani manusia yang belum mengenal masalah dan dosa. Hatinya masih murni. Kebahagiaan, keceriaan, kegembiraan pada anak-anak hadir setiap hari, setiap saat, setiap waktu, setiap suasana, melalui aktivitas bermain. Melalui berbagai permainan. Maka dunia anak adalah dunia permainan. Sangat sesuai sekali sebuah slogan yang mengatakan bocah kudu dolanan, bocah dudu dolanan. Anak harus bermain. Anak-ana bukan suatu permainan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Rem Cadangan Antisipasi Kecelakaan


Berita kecelakaan beruntung di ruas Tol  Cipularang beberapa hari silam tentu mengundang kerpihatinan semua pihak. Meskipun di antara para korban tidak ada sanak saudara kita, namun sebagai sesama manusia tentu kita turut berduka. Salah satu dugaan kuat penyebab kecelakaan maut tersebut adalah akibat rem blong dari dump truck yang mengangkut muatan tanah dan pasir. Lagi-lagi rem blong memangsa korban jiwa. Akankah hal ini terus berulang kali terjadi?

Rem merupakan perlengkengkapan kendali kendaraan raya yang sangat penting. Jika pedal gas berguna untuk memacu atau memberi kelajuan kendaraan, sebaliknya rem berfungsi untuk mengurangi kecepatan, bahkan menghentikan laju kendaraan. Terlebih pada jalur jalanan yang menurun, rem yang penting untuk mengendalikan dan tetap menjamin keselamatan kendaraan. Tidak dipacu dengan percepatan gaspun, sebuah kendaraan yang tengah menggelinding pada jalanan yang menurun akan secara otomatis memiliki tambahan percepatan dari gaya gravitas akibat berat kendaaraan. Besarnya gaya gelinding yang berkenaan dengan gaya gravitasi ini sebanding dengan bobot kendaraan yang melaju. Semakin berat kendaraan, gaya gelinding ini akan semakin besar. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , | Meninggalkan komentar

Kontriversi Jajanan Bocah Mengandung Babi


Jajanan yang satu ini memang sudah lama menjadi kontroversial. Bentuknya sederhana. Bulat lonjong alias oval laksana telur. Telur yang satu ini memang bukan telur asli selayaknya telur ayam, telur bebek, telur puyuh atau telur-telur lain yang banyak dijuag di pasar. Baik dalam kondisi mentah maupun telah matang dan siap disantap. Telur yang ini jelas bukan telur rebus, atau telur asin. Pun telur ini juga tidak dapat didadar dan digoreng. Namun yang jelas, telur ini memiliki merk yang cukup termasyur. Namanya berbau asing, Kinder Joy.

Tambov, Russian Federation – June 01, 2017 Kinder Joy eggs with three Kinder Сars toys on gray background. Kinder Joy manufactured by Italian company Ferrero. Studio shot.

Kinder Joy, sejatinya bukanlah jajanan camilan. Meskipun di sebagian bagian dalam telur ada coklat yang lumayan digemari anak-anak, namun takarannya sangat minimalis hingga tidak mungkin mengenyangkan perut. Kita bisa langsung bisa membedakannya dengan jenis jajanan makanan kecil yang lain, seperti ciki-ciki, mie kremes, wafer, donat, aneka ragam gorengan, cireng, cimol, cilor, dan lainnya. Daya tarik jajanan yang satu ini bagi anak-anak memang bukan terletak pada sedikit coklat tersebut. Anak-anak menjadi sangat gandrung dengan jajanan ini justru karena adanya mainan kecil yang seolah menjadi bonus, bagaikan model lotre. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Bunganya Bu Ngadirin


Namanya Bunga. Ibunya juga bernama Bunga, tepatnya Bu Ngadirin. Tentu karena suaminya, alias Bapaknya si Bunga, bernama Pak Ngadirin.  Bunga anak ke dua dari pasangan Pak dan Ibu Ngadirin. Anak pertama alias si sulung bernama Sari. Ingat kan sebutan benang sari? Tentu masih sangat terkait erat dengan bunga. Karena serba bunga ini, tidak berlebihan jika keluarga yang satu ini kita sebut sebagai Keluarga Bunga.

Keluarga Bunga bagi keluarga kami bukanlah keluarga biasa. Dari segi hubungan darah atau silsilah sebenarnya tidak ada tali persaudaraan kekerabatan. Mungkin karena Bu Ngadirin dulunya dinas satu pabrik dengan kami, serta kebetulan juga rumah kami searah dan tetangga kampung, jadilah kami cukup sering berbarengan di kendaraan umum saat berangkat dan pulang kerja. Kebetulan pula sebagai sesama orang Jawa yang sama-sama di perantauan, kami akrab sebagai saudara. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Ngisor Blimbing | Tag , , | 2 Komentar

Api Amrah nan Tak Kunjung Padam


Api. Kemarau dan api. Panas dan api. Demikianlah hari-hari ini kita mendengar kabar tentang kemarau, tentang kekeringan, juga tentang kebakaran. Kebakaran rumah, kebakaran pabrik, kebakaran semak-belukar, kebakaran hutan belantara di Sumatera, Kalimantan, bahkan dataran Amazon di Amerika Selatan. Musim kemaarau memang tengah mendera kita. Sekian minggu dan bulan hujan tiada pernah datang. Hari-hari senantiasa diwarnai dengan terik sinar matahari. Daun-daun menguning, bahkan layu, untuk kemudian gugur berjatuhan.

Jadilah dedaunan itu menjadi seresah. Berserak dan menumpuk di atas tanah. Rerumputan dengan serabut akar bersumbu pendek tak lagi mampu efektif menyerap sisa-sisa air. Mereka lunglai, lalu layu, untuk kemudian mati mongering. Demikian halnya dengan semak belukar dan rumpun-rumpun perdu. Semua kering, semua gersang. Mereka rentan jika tersulut api. Daun kering, rumput kering, semak kering, perdu dan belukar kering seolah sekam yang siap meluncurkan api. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Memohon kepada Pohon


Dulu saya pernah didongengi tentang keberadaan Tuhan di atas pohon. Maka doa disebut sebagai memohon kepada Tuhan. Memohon berasal dari kata dasar pohon. Ada juga perihal orang yang berdoa sedang memanjatkan permohonan. Bukankah ketika seseorang menaiki batang pohon dikatakan ia sedang memanjat pohon. Demikianlah pohon-pohon dimuliakan Tuhan semenjak penciptaanya pertama kali.

Pasca bumi dana lam semesta dihamparkan, mulailah diciptakan makhluk bersel satu. Diantara makhluk bersel satu tersebut ada yang dianugerahi dengan sel hijau daun. Dapatlah ia berfotosintesa. Dapatlah ia memancarkan oksigen. Dapatlah ia menghasilkan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Dari bersel satu muncullah makhluk bersel banyak. Semakin banyak dan mengantarkan perkembangan kepada tumbuh tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Barulah setelahnya hewan-hewan dan binatang dihadirkan membentuk ekosistem-ekosistem. Tanaman berposisi di tingkat terendah dari piramida jaring-jaring makanan. Hewan di tingkat tengah. Sedangkan manusia menempati tingkatan paling tinggi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tragedi Rumpun Kembang Anggrek


Menanam. Tidak harus menjadi petani untuk sekedar menanam kembang dalam pot di teras atau halaman rumah mungil kita. Termasuk, tentu saja menanam jenis tanaman hias puspa gumantung sebagaimana tanaman anggrek. Anggrek yang asli tanaman endemik Nusantara ini memang membutuhkan ketekunan, ketelatenan, dan ketelitian tersendiri untuk menanam serta memeliharanya. Effort yang tidak ringan ini justru bisa menjadi semacam penyeimbang otak kanan dan otak kiri. Antara sisi jiwa dan sisi raga. Antara sisi psikis dan fisik kita. Antara jasmani dan ruhaniah kita.

Menanam. Di dalam kegiatan menanam ada etos kekaryaan. Tidak hanya sekedar niat, namun menanam membutuhkan tekad. Tidak hanya berteori, dalam menanam memerlukan kerja praktik. Tidak hanya menebar bibit ataupun menyemai benih. Menanam bermakna memberikan curahan perhatian, cinta kasih, bahkan kasih sayang yang suci. Menanam berarti memberikan kesempatan hidup bagi makhluk hidup yang lain.Menghidupi kehidupan itu sendiri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

Cancut Tali Wanda


Wayahe….wayahe! Wayahe cancut tali wanda. Wayahe bermakna telah tiba saatnya. Adapun cancut tali wanda memiliki arti ajakan bersama untuk bersiaga, bersiap, bergegas, bahkan juga waspada karena situasi dan kondisi telah mengharuskan untuk bersikap atau bertindak. Cancut tali wanda dapat dimaknai jauh lebih luas untuk segala macam kondisi. Bisa dilakukan sebagai sebuah tindakan pencegahan dan antisipasi. Pun cancut tali wanda juga bisa dilakukan dalam ketersegeraan untuk mengantisipasi sebauh kejadian yang sudah di depan mata, bahkan baru saja kejadian.

Menghadapi tantangan globalisasi dimana persaingan bebas semakin tidak terhindarkan lagi, kita harus bersikap cancut tali wanda. Tidak lagi banyak berwacana dan berteori muluk-muluk. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus segera giat belajar, giat bekerja, giat berusaha, giat dalam segala apapun untuk mempertahankan hidup. Inilah makna cancut tali wanda secara umum. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Manusia Nilai Manusia Harta Manusia Istana


Manusia yang manakah kita? Sebuah pertanyaan retoris yang tidak mudah dijawab oleh masing-masing pribadi. Ada beragam dimensi yang dimiliki setiap individu manusia. Ada bermacam cara pandang untuk mengidentifikasi sifat atau karakter seseorang. Menarik saat menyimak ungkapan Cak Nun yang melakukan pendekatan karakteristik manusia sebagai manusia nilai, manusia harta dan manusia istana. Hal tersebut diungkapkan salah satunya pada saat pemberian ijazah maiyah kepada tiga tokoh penyair, Taufik Ismail, Sutardjo Calzoum Bachri, dan Iman Budi Santosa.

Manusia nilai merupakan sosok pribadi yang taat berkarya dalam rangka menegakkan nilai-nilai luhur yang dimiliki dalam kesejarahan antropoligis manusia atau masyarakat. Nilai kebajikan, nilai kebenaran, nilai kejujuran, nilai keindahan, nilai keagamaan, bahkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Mereka adalah segolongan orang yang meyakini, menghayati, dan mempraktikkan setiap nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai luhur tersebut dapat berasal dari sumber manapun. Agama, tata susila, tradisi dan adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan dari setiap kebijaksanaan apapun dari setiap proses yang terbimbing oleh-Nya. Mereka adalah manusia yang telah lulus menyandang sebagai manusia sejati. Mereka sangat tahu bagaimana menempatkan dunia dan akhirat, memposisikan harta dan martabat, antara jasmani dan rohani, antara jiwa dan raga, antara apapun yang berdimensi material dan spiritual. Mereka berdiri di atas semua itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | Meninggalkan komentar