Festival Cisadane 2019


Iklan
Gambar | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

Menulis di Atas Tulisan


Menulis di atas tulisan? Haneh numpuk-numpuk hurufnya! Haneh ruwet bin nggak bisa dibaca tulisannya! Sebentar Lur! Tentu maksudnya nggak seperti itu nggih! Ungkapan tersebut tentu bukanlah ungkapan yang wantah alias denotatif. Terlebih jika hal tersebut dituturkan oleh seorang Presiden Puisi Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Sudah pasti ada maksud tersirat yang teramat dalam dan mungkin tidak pernah dipikirkan oleh kalangan masyarakat awam puisi, seperti kita-kita

Oke. Ketika berlangsung malam penganugerahan Ijazah Maiyah saat Kenduri Cinta awal bulan ini, Bang Tardji ditanya, “Darimana mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi?” Bagaimanapun nama Sutardji dengan ribuan karya puisi yang unik dengan bobot sastra yang luar biasa tentu menarik untuk diungkap bagaimana proses kreatif yang dijalani. Apakah ia mendapatkan wisik kata-kata dari langit? Bagaimana ia memilih kata, merangkai satu sama lain, menyusunnya menjadi kalimat dan bait-bait yang kaya makna? Ada keindahan puisi, namun yang terlebih penting lagi adalah pesan-pesan mendalam di dalamnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Bocah dan Tlatah Bocah


Bocah alias anak-anak adaah sebuah fase perjalanan hidup paling awal dan mendasar bagi setiap insan manusia, Karena sangat mendasar itulah, masa bocah bagaikan sebuah lapisan pondasi bagi bangunan kehidupan seseorang. Dengan demikian, masa tumbuh kembang menjadi sangat penting dan menentukan bagi keberhasilannya di masa depan. Masa bocah adalah masa dimana ia subur untuk menerima setiap benih nilai kehidupan yang singgah dan tertanan di kedalaman jiwa sanubarinya. Anak adalah sosok peniru yang paling ulung dari setiap apa yang dilihat, didengar, diajarkan atau dicontohkan oleh manusia-menusia dewasa di sekitarnya.

Seumpama pada masa yang subur tersebut, ia dihadapkan dengan kebaikan, kebenaran, kejujuran, dan segala nilai positif yang lain, maka ia akan bertumbuhkembang menjadi sosok pribadi yang baik, yang jujur, yang benar. Namun sebaliknya, jika di masa tumbuhkembangnya si anak banyak terpapari keburukan, kesalahan, ketidakjujuran, tentu sangat wajar jika jiwa dan pikirannya juga bertumbuhkembang ke arah nilai-nilai yang tidak terpuji. Kedua hal ini sangat menentukan apakah si anak akan menjadi pribadi yang berkarakter dan berjati diri kuat, atau sebaliknya menjadi sosok yang lemah karakter lemah jatidiri.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Darah Jiwa Raga Tempe


Tempe. Ya, si tempe makanan dari bahan dasar kedelai itu. Mendengar ataupun bersentuhan dengan makanan yang satu ini bagi kebanyakan orang mungkin merupakan suatu hal yang biasa saja. Tidak demikian halnya dengan saya. Tempe tidak hanya soal sebuah kata semata. Tempe bukan hanya soal nama makanan thok. Pun tempe bukan hanya soal persepsi kaum bermental rendahan. Tempe merupakan bagian dari sejarah dan perjalanan hidup keluarga kami.

Biyung Harjo, nenek kami, adalah maestro perajin tempe di masanya. Tidak hanya saja menyejarah, penggelan hidup tersebut bahkan semakin melegenda di dalam sanubari kami, segenap para cucu-cucunya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag | 2 Komentar

Kembali Berguru Ilmu Padi


Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Seyogyanya seseorang yang semakin pandai, maka wajarnya ia akan semakin berendah hati. Hikmah ilmu padi ini sudah puluhan tahun diajarkan di bangku sekolah dan menjadi pedoman bagi manusia budiman. Jangan berkebalikan dengan ilmu padi, celakalah bagi anak manusia yang sudahlah tidak berilmu, sudahlah tidak berharta, sudahlah tidak berpangkat jabatan, sudahlah tidak memiliki apa-apa namun bersikap sombong, angkuh, dan tinggi hati.

Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Ilmu padi yang satu ini memang hikmah tersohor buah nasehat dari tanaman yang menghasilkan beras si cikal bakal nasi. Namun sebagai sebuah ayat kauniyah Tuhan, tanaman padi tentunya masih menyimpan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan hikmah ilmu kebijaksanaan yang senantiasa bisa digali dan dihikmahi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Presiden Sejati Pujangga Abadi (1)


Wahai Pemuda Mana Telurmu?
Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Apa gunanya merdeka
Kalau tak bertelur?
Apa gunanya bebas
Kalau tak menetas?
Wahai bangsaku
Wahai Pemuda
Mana telurmu?

Burung
Jika tak bertelur
Tak menetas
Sia-sia saja terbang bebas Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Juli 2019


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, segera rilis.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | 1 Komentar

Mengenang Asal-usul Kota Bandung


Bandung di masa kini merupakan ibukota Provinsi Jawa Barat. Bandung di masa lalu, setidaknya pada masa pra Daendels dan Raffless pernah berperan penting sebagai tempat kedudukan Residen Priangan yang sebelumnya berada di Cianjur. Dalam perkembangannya, Bandung bahkan menjadi kandidat peralihan ibukota pemerintahan Hindia Belanda dari Buitenzorg, alias Bogor. Keberadaan Gedung Sate dan beberapa kantor pusat departemen bahkan sudah ditempatkan di kawasan pusat kota Bandung. Lalu bagaimana sebenarnya masa lalu dan sejarah kota Bandung ditorehkan?

Bandung, sebuah kota yang berkembang di atas cekungan danau purba. Tatkala Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram hendak menyerang Batavia di bawah Gubernur Jenderal JP Coen, tersebutlah nama penguasa Bandung. Ia bergelar Adipati Ukur. Dialah sosok penguasa yang diamanatkan Sultan Agung untuk memimpin penyerangan ke tanah Betawi pada sekitar tahun 1625-1627. Namun sayang beribu sayang, serangan tersebut gagal. Untuk mempertanggungjawabkan kegagalannya, bahkan Adipati Ukur dihuku mati oleh Sultan. Kelak dari waktu ke waktu penguasa atau adipati wilayah Bandung senantiasa dipegang oleh anak keturunan Adipati Ukur ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , | Meninggalkan komentar

Jelang Festival Lima Gunung 2019


Ndherek mangayubagya. Sepekan jelang Festival Lima Gunung XVIII Tahun 2019. Monggo sedulur semua, bisa mulai dikepoin agenda pertunjukan non stop selama tiga hari tiga malam bertema Gunung Lumbung Budaya.

JADWAL PENGISI ACARA FESTIVAL LIMA GUNUNG XVIII 5-7 JULI 2019 di Dsn. Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kec. Dukun, Kab. Magelang Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , | 1 Komentar

Keliling Bandung ala Bandros Tour


Bandros. Setahu saya bandros yang pertama kali saya kenal merupakan nama sejenis minuman. Tentu saja minuman tradisional khas Sunda atau Tanah Priyangan. Mirip atau sebelas dua belaslah dengan bajigur. Mungkin terinspirasi dari minuman bandros ini Kang Emil, pada saat menjabat Walikota Bandung, menggagas bus untuk wisata keliling kota dinamakan Bandros. Bandros, Bandung Tour on Bus!

Adalah sebuah kelaziman sebuah kota tujuan wisata kelas dunia rata-rata memiliki layanan wisata keliling kota dengan kendaraan tertentu. Di negara tetangga saja, semisal Singapura dan Kuala Lumpur telah lama memiliki hop on hop off bus. Fungsi utama kendaraan tersebut untuk mengantarkan turis ke berbagai sudut kota. Mulai dari pusat kota, kawasan sejarah atau kota tua, kawasan perbelanjaan, kawasan pemerintahan, jalanan protokol, merupakan spot-spot yang lazim dilalui atau disinggahi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar