Bocah Mbeling Nginjak Beling


Beberapa hari dalam seminggu ini memang saya sedang tidak berada di rumah. Sebagai orang tua dari anak-anak yang masih bocah, tentu saja seribu kata petuah telah kami tinggalkan untuk buah hati yang ditinggal. Dari urusan keperluan sekolah, sholat, ngaji, dolan hingga dolanannya si Ponang dan si Noni. Semua tentu saja demi kebaikan bersama. Kalau yang ditinggal baik-baik saja, maka yang meninggalnyapun akan tenang di tanah seberang. Begitu kira-kira harapan kami.

Baru dua-tiga hari terdengarlah kabar si Ponang tidak masuk sekolah. Sebabnya sakit. Kelihatannya sakit memang alasan klasik. Namun dengan mengirimkan sebuah foto, anak saya tersebut menyampaikan bukti dan alibi. Dari gambar foto yang dikirimkan memang Nampak bagian kaki di bawah lutut kanan terlihat bengkak bin memar berwarna kebiruan. Usut punya usut ketika si Ponang kami desak untuk memberikan rekonstruksi cerita mengenai hal-ihwal asbabun sikil bengkaknya, ia memberikan penjelasan bahwa kondisi yang dialaminya diakibatkan terjatuh pada saat ditekel temannya pada saat bermain bola di lapangan sekolahan. Yo, wis. Alasannya memang kuat. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , , , , | Meninggalkan komentar

Alumni Cah De: Sosok#D27


Erwin saya kira kembarannya Erwan. Pertama kali mendengar nama kawan saya yang satu ini ada sedikit perasaan aneh. Seperti mendengar nama anak perempuan, padahal jelas kawan saya tersebut sosok cowok tulen. Mungkin hal itu terbawa karena pada masa-masa sebelumnya saya memiliki kawan sekolah Wiwin yang tentu saja seorang perempuan. Erwin yang memiliki nama lengkap Erwin Susanto ini merupakan kawan yang senantiasa berada tepat di bangku belakang saya setiap tes semesteran hingga Ebtanas. Ya, dia menyandang nomor absen 5 di kelas satu dan nomor 27 di kelas dua dan kelas tiga. Yang jelas dari awal masuk hingga lulus bangku SMP 1 Muntilan ia memiliki nomor induk 6524.

Menilik nasab dari kakeknya, Erwin menyandang gelar lengkap Erwin bin Mursidi bin Mbah Jayus. Mbah Jayus? Bukan Jayusrono dan bukan Jayuskusumo lho ya! Hanya Jayus thok! So pasti jika kita mendengar nama Mbah Jayus kita mungkin langsung ingat sebuah plang di sisi Jalan Pemuda bilangan Pasar Jambu. Lho? Mbah Jayus yang itu kan Jayus Gudeg nyamleng. Yes, you right! Erwin adalah trahnya Mbah Jayus sang gudeg expert from Karaharjan, Gunung Pring. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar

My Family WA Group Created by si Ponang


Senja itu saya tengah membelah rimba saya di jantung Pulau Sumatera. Kanan kiri jalanan yang kami lalui dipagari dengan deretan pohon sawit dan pepohonan hutan akasia. Berada di pedalaman menjadikan berbagai sinyal saluran telekomunikasi tentu saja angot-angotan, alias byar-pet karena blackspot area. Jalanan Trans Sumatera Lintas Timur yang mengubungkan Jambi dengan Pekanbaru, sore itu tentu saja sangat lengang. Meskipun jalanan tidak terlalu lebar, namun kondisinya yang sepi menjadikan mobil kami dapat dipacu selayaknya pada jalan tol di Pulau Jawa.

Ketika memasuki wilayah Muaro Jambi, sinyal telekomunikasi yang kami butuhkan terdeteksi. Bagaikan pucuk dicinta ulam tiba, saat itu memang kebetulan saya sedang ingin menghubungi anak-anak di rumah. Sesaat setelah alat komunikasi terhubung ke jariangannya, sayapun segera mengecek saluran WA. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, nampak muncul undangan untuk bergabung dalam sebuah grup dengan judul My Family. Tentu saja hal ini membangkitkan rasa penasaran tersendiri. Siapakah di balik grup baru tersebut. Namun sebelumnya pertanyaan tersebut menemukan jawabnya, saya segera setuju untuk bergabung ke grup tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan


Sejujurnya teramat sangat jarang saya menuliskan hal yang tengah dialami istri dalam suatu postingan di blog. Saya biasanya lebih intens untuk menuliskan hal-hal kecil yang dialami si Kecil-si Kecil kami, ada si Ponang dan si Noni. Namun tulisan kali ini sengaja ingin membagi cerita kejadian yang kini tengah dialami istri nun jauh di negeri seberang.

Berawal dari sebuah aplikasi pendaftaran suatu pelatihan di Oak Ridge Natinal Laboratory (ORNL) di Negeri Paman Sam, akhirnya istri benar-benar mendapatkan undangan untuk menghadirinya. Dikarenakan keterbatasan kuota untuk setiap negara, istri saya tersebut menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia. Untungnya ada salah seorang calon peserta dari Malaysia sudah dikenalnya. Namun demikian tentu saja untuk soal keberangkatan pulang-pergi ke sana tidak ada teman seperjalanan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | 4 Komentar

Memaknai Kembali Pusaka di Balik Pustaka


Membaca status beberapa teman di media sosial, saya baru teringat kembali bahwa Hari ini 23 April dikenal sebagai Hari Buku Internasional (World Book Day). Semenjak di bangku sekolah kita sudah diajarkan oleh guru-guru kita bahwa membaca adalah jendela dunia. Saya kembali terkenang sebuah artikel yang pernah saya tuliskan berkaitan dengan menggugah kembali budaya membaca masyarakat kita. Sebuah tulisan yang pernah dimuat di Majalah Suara Gemilang edisi November 2011 berjudul Pusaka di Balik Pustaka. Silakan disimak dan direnungkan kembali.

Pusaka bisa diartikan sebagai senjata. Masyarakat Jawa memaknai pusaka lebih dari sekedar wujud fisik sebagai piandel atau sipat kandel, artinya sebagai tameng ataupun pelindung diri dari segala marabahaya. Jadi pusaka tidak saja hanya bermakna sebagai alat untuk bertempur apalagi membinasakan lawan, tetapi sebagai hal yang dapat menambah rasa percaya diri, kemantapan hati, serta keyakinan tekad yang bulat di dalam melakukan suatu hal. Pusaka menjadi sebuah sarana untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Oleh sebab itu, pusaka memiliki muatan makna magis, sakti, dan tentu saja keramat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Redalah Jakarta Kita


Hiruk pikuk Pilkada Jakarta telah mengaduk-aduk emosi kita. Tidak hanya warga Jakarta, hawa panas suasana ibukota bahkan menyebar sampai ke pelosok-pelosok desa dan gunung. Berbagai perdebatan telah membawa perbedaan pendapat yang cukup tajam. Tidak di dunia nyata, bahkan hawa panas itu semakin terasa di ranah dunia maya. Hampir seluruh elemen masyarakat terseret kepada arus pro dan kontra.

Hari penentuan telah berlalu. Hasil pungutan suara pilihan warga yang memiliki hak pilih telah kita ketahui bersama (setidaknya hasil penghitungan cepat dari beberapa lembaga survei, meski bukan versi resmi KPUD). Kontestasi di antara dua kandidat yang turut serta dalam sebuah pemilihan, tentu hanya akan memunculkan dua kemungkinan bagi masing-masing kandidat. Satu menjadi yang terpilih, dan lainnya menjadi yang tidak terpilih. Di sinilah kemudian dibutuhkan sikap kedewasaan politik diantara kedua pihak tersebut. Yang terpilih jangan jumawa, dan yang tidak terpilih jangan pula nelangsa. Semua ini hanyalah sekedar permainan dunia. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Negara dalam Gelembung, Indonesia Terkotak-kotak


Gelembung merupakan fenomena fisika dimana sejumlah volume udara tertentu terjebak oleh suatu lapisan pembatas yang sangat tipis. Seiring dengan terjadinya pengembangan tekanan dan udara di dalam gelembung yang menyebabkan gelembung bertambah besar, maka lapisan pembatas yang dimaksud di depan justru semakin menipis. Pada suatu batas kritis dimana lapisan pembatas tersebut sudah tidak dapat lagi menahan tekanan udara di dalam gelembung, terjadilah ledakan gelembung. Gelembung udara yang sebelumnya ada menjadi tidak ada. Hilang tiada berbekas. Yang tertinggal hanyalah kehampaan. Kosong!

Dalam konteks demokratisasi yang tengah berlangsung di negara kita, terapan demokrasi telah menghadirkan ekslusivisme masyarakat atas nama kelompok, golongan, atau partai tertentu. Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, mau atau tidak mau, rakyat akan terbawa kepada arus polarisasi atas nama demokrasi. Orang-orang dengan kesamaan pandangan hidup, kesamaan kepentingan idealism ataupun pragmatisme, kesamaan warna, dan lain sebagainya cenderung akan berdiri di bawah panji-panji kelompok, golongan, atau partai yang sama. Sayangnya pihak atau bagian masyarakat lain yang berada di luar panji-panjinya dianggap sebagai pesaing, bahkan musuh. Demokrasi justru telah mengkotak-kotakkan masyarakat. Demokrasi telah memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi April 2017


Gratis, Lesehan, dan Barokah. Monggo hadir bersama.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar