Dongeng dari Festival Dongeng


Dongeng merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan dari anak kecil. Secara umum, alam pikiran seorang bocah sangat menyukai dongeng. Orang Jawa memiliki ungkapan bahwa dongeng dipaido keneng. Sebuah kisah dongeng dapat dipercaya ataupun sama sekali tidak perlu dipercaya. Hal ini sangat berkaitan dengan bentuk kisah dongeng yang pada umumnya merupakan cerita fiksi atau khayalan. Hanya saja, meskipun dongeng secara umum hanya cerita fiksi, namun di dalamnya termuat pesan-pesan pendidikan dan tuntunan yang sangat dalam bagi tumbuh kembang karakter dan pengetahuan seorang bocah.

Penanaman nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak akan jauh lebih efektif dilakukan melalui dongeng dibandingkan apabila seorang anak dinasehati secara langsung. Semua anak Indonesia mungkin paham bahwa seorang anak harus senantiasa patuh dan taat kepada orang tua, dan tidak boleh durhaka kepada orang tua. Bercermin dari cerita Malin Kundang, si Anak Durhaka dari Sumatera Barat, anak-anak dapat dipahamkan mengenai nilai bakti kepada kedua orang tua tersebut. Tentu akan sangat jauh berbeda efeknya jika anak hanya diceramahi oleh orang tuanya, “Nak, kamu harus berbakti dan tidak boleh durhaka kepada ayah-bunda ya!” Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Duka Keluarga Besar Kami


Dua sosok pada gambar foto ini adalah Biyung Tuwo Dalmi dan adiknya, Mbah Surti. Foto lawas tersebut diambil sekitar tahun 1985-an di atas Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Keduanya merupakan dua diantara anak-anak dari Simbah Buyut kami, Mbah Mangun dari Dusun Mangunan. Meskipun kakak-beradik, namun diantara kedua sosok tersebut berselang beberapa saudara-saudari yang lain. Seingat dan sepengetahuan saya, nama-nama putra-putri Mbah Mangun meliputi Mbah Sarinten, Biyung Tuwo Dalmi, Mbah Reso, Mbah Norjo, Mbah Kijo, Mbah Cokro, Mbah Rabinem, Mbah Sari, dan Mbah Surti. Dua bungsu yang terakhir terlahir sebagai sepasang kembar perempuan.

Biyung Tuwo Dalmi sendiri adalah nenek saya dari pihak ibu kandung. Pertengahan bulan November tepat satu tahun silam Beliau dipanggil kehadirat-Nya. Diantara mbah-mbah kami dari Mbah Buyut Mangun kemudian tinggal tersisa Mbah Kijo, Mbah Sari, dan Mbah Surti. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Nostalgia Kuncung Bawuk


 

 

Jauh sebelum, atau hamper bersamaan dengan kehadiran film boneka si Unyil di TVRI pada era 80-an, TVRI Jogja sudah memiliki film boneka sejenis yang bertajuk Kuncung Bawuk. Sebagaimana si Unyil yang diambil dari salah seorang peran bocah yang ada, demikian halnya Kuncung Bawuk yang diambil dari nama dua kakak beradik, si Kuncung dan si Bawuk. Kedua film tersebut sama-sama film bocah yang menggali kehidupan sehari-hari dari sebuah keluarga sederhana. Satu hal yang paling membedakan kedua film tersebut adalah penggunaan Bahasa Jawa dalam serial Kuncung Bawuk.

Dengan mengambil setting masyarakat pinggiran yang sehari-hari berbahasa Jawa, tayangan Kuncung Bawuk menampilkan kisah sehari-hari yang dialami oleh sebuah kecil nan sederhana. Sebagai tokoh sentral, tentu saja si kakak beradik Kuncung dan Bawuk. Di samping itu, ada tokoh Bapak dan Simbok yang merupakan inti dari keluarga Kuncung Bawuk. Meski mengangkat cerita sehari-hari yang ringan, namun Kuncung dan Bawuk selalu menghadirkan kelucuan-kelucuan bahkan kekonyolan yang sanggup mengundang gelak tawa bagi siapapun yang menontonnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Bus Kota dan Mahasiswa Jogja


Permasalahan transportasi public di perkotaan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang pelik. Konon hal tersebut dikarenakan peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat yang kini rata-rata sudah mampu memiliki kendaraan pribadi sendiri, meskipun sekedar kendaraan roda dua dan didapatkan melalui kredit alias hutang. Jalanan semakin padat dengan kendaraan. Akhirnya kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan yang lumrah di berbagai kota besar di tanah air.

Seiring dengan kisah transisi bus kota atau angkot menjadi busway-nya Transjakarta di ibukota Jakarta, maka di berbagai kota besar lainnya muncul gagasan untuk menciptakan trans-lokalnya masing-masing. Semarang memiliki TransSemarang. Bandung dengan TransBandung-nya. Surabaya mempunyai TransSurabaya. Termasuk Jogjakarta dengan TransJogja-nya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Pandu Swarga – Pandawa Mensurgakan Orang Tua


Meskipun senja menjelang malam, wilayah Tangerang dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras, namun bintang gemintang kemudian menyibak awan mencerahkan malam. Selepas tengah malam, badan yang sejatinya masih menyisakan setengah lebih rasa lelah dan kantuk melangkah untuk mangayubagyo pagelaran wayang semalam suntuk oleh Dalang Kondang dari wilayah Surakarta Hadiningrat, Ki Anom Suroto.

Memasuki sebuah lapangan di tepian jalan raya yang menjadi tempat perhelatan wayang tersebut, nampak kerumukan ribuan warga yang antusias menyaksikan salah satu kesenian warisan yang sudah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO tersebut. Rupa-rupanya, sesi pagelaran tengah memasuki episode goro-goro dimana empat punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tampil di muka kelir pertunjukan. Gorogoro inilah episode paling favorit bagi semua penikmat dan pandemen pertunjukan wayang kulit. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

indONEsia


Pernahkah Anda melihat cara penulisan indONEsia sebagaimana judul tulisan ini? Suatu pagi busway yang saya tumpangi melintasi kawasan antara Grogol dan Tomang, tepat di depan Kantor Kodim Jakarta Barat. Tanpa sengaja, saya mencermati sebuah spanduk yang terbentang dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda. Sepanduk tersebut kembali mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk mempererat kembali tali persatuan dan kesatuan sebagai anak manusia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, Indonesia.

Terus terang dari sapnduk tersebut saya baru tersadar, tentang unsur kata ONE dalam kata Indonesia. Kenapa kata Indonesia yang di dalamnya ada unsur kata ONE itu yang kemudian disepakati oleh para wakil pemuda yang hadir pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 sebagai identitas kita. ONE dalam Bahasa Inggris artinya satu. Betapa sejara kodrat dan takdir bangsa kita dipersatukan. Saya yakin hal ini bukan sebagai sebuah kebetulan semata. Hal ini saya yakini sudah direncanakan secara akurat oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , | Meninggalkan komentar

Nyekik Hape lan Minggah Montor Mabur


“Nyuwun kawigatosipun. Para penumpang Lion Air ingkang nomer penerbangan JT607 tujuan Balikpapan. Kasumanggakaken minggah montor mabur mios pintu nomer tiga.  Para penumpang kasumanggakaken nyekik hape lan mriksa malih bagasi panjenengan. Matur nuwun.”

Pengumuman berbahasa Jawa sebagaimana tulisan di atas mungkin pernah Anda dengar tatkala menunggu atau akan memulai penerbangan dari Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Selazimnya pengumuman persiapan penerbangan di berbagai bandara yang ada di tanah air menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Mungkin baru di Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta yang ditambah dengan Bahasa Mandarin. Tetapi pengumuman di bandara dengan bahasa Jawa, saya baru menemukannya di Yogyakarta. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , | Meninggalkan komentar

RTIK Magelang Fasilitasi Domain Gratis


Internet adalah sebuah keniscayaan di era informasi. Facebook, whatshapps, merupakan contoh aplikasi internet yang bagian dari keseharian masyarakat pada saat ini. Tidak hanya masyarakat kota, masyarakat desa juga melek FB dan WA. Tidak hanya kaum terpelejar, bahkan orang awam yang tidak pernah mengenyam pendidikanpun sangat terlatih menarikan jari-jemarinya untuk up date status. Intinya internet sudah sangat lekat dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan sehari-hari.

Internet atau dunia maya, sejatinya menghamparkan tak terhingga sumber daya. Kita bisa mendapatkan berbagai informasi melalui internet. Kita bias berkarya, menghasilkan produk, dan memasarkannya melalui internet. Internet dapat dijadikan sarana untuk mendapatkan penghasilan. Intinya, internet menyimpan tak terhingga peluang untuk mengembangkan potensi diri ataupun masyarakat yang akan membawa kepada keadaan yang lebih baik. Internet dapat menunjang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Blogger | Tag , , | 4 Komentar