Kenduri Cinta Edisi Juli 2017


Mukadimah selengkapnya dapat di sini. Monggo hadir bersama.

Gratis,  Lesehan, dan Barokah.

Iklan
Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , | Meninggalkan komentar

UDD: Ujung dan Duit


Manusia modern sebagai human economicus tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan uang, alias duit. Duit merupakan sarana transaksi modern. Berbagai barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari bisa mudah didapatkan dengan duit sebagai alat tukarnya. Butuh makan, pakai duit. Butuh pakaian, beli dengan duit atau pesan ke tukang penjahit juga pakai duit. Ingin pergi ke suatu tempat, butuh kendaraan ataupun naik angkutan umum juga perlu duit. Ingin sekolah, berwisata, dolan-dolanpun tidak luput dari duit. Duit ibarat kata sudah menjadi kebutuhan primer manusia dewasa ini.

Apa-apa pakai duit. Apa-apa butuh duit. Ada manusia yang berpandangan duit hanyalah sekedar sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun tidak sedikit pula kalangan manusia yang berpendapat bahwa duit itu sendiri yang menjadi kebutuhan. Bahkan tidak sedikit diantara kita yang sudah sedemikian menjadi hamba uang. Seolah-olah tanpa duit dunia telah kiamat. Bagi kelompok manusia yang terakhir, hidup kemudian seolah-olah hanya menjadi ajang untuk menumpuk duit. Setiap hal yang dilakukan selalu dikonversi menjadi seberapa rupiah atau dollah duit yang bisa diraup. Setiap hal selalu berujung ke duit. Setiap hal dihitung ke ujung-ujungnya duit, alias UUD. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | 2 Komentar

Top Selfie Hutan Pinus Kragilan


Spot Wanawisata Terpopuler selama Lebaran di Kabupaten Magelang

Kemajuan teknologi digital telah menggabungkan berbagai fitur komunikasi dalam genggaman smartphone atau hp kita. Ingin berfoto ria, bisa dengan hp. Tidak perlu kamera khusus dan keahlian yang jago selayaknya fotografer profesional. Ingin mengunggah file foto kita ke internet, juga bisa melalui hp kita. Tidak perlu lagi menggunakan laptop khusus yang terkoneksi internet maupun jauh-jauh pergi ke warnet. Kedua hal yang kini semakin populer itu cukup dikerjakan langsung dari genggaman tangan kita. Bisa dilakukan kapanpun dan dimananapun, selama hp kita terkoneksi internet.

Ber-selfie ria. Inilah fenomena yang sedang ngeksis saat ini. Kemajuan dunia maya melalui media sosialnya telah mengubah gaya hidup manusia modern. Dimanapun, kapanpun, dan sedang melakukan apapun ingin kita rekam dan segera kita sebarkan kepada khalayak yang lebih luas. Eksistensi diri adalah kata kunci yang selalu terpikirkan di benak setiap orang dan setiap waktu pada saat ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , , | 4 Komentar

Grebeg Kupat ala Magelangan


Idul Fitri tidak terlepas dari simbol ketupat. Ketupat bagi masyarakat Jawa disebut sebagai kupat. Kupat berasal dari tembung kerata basa, ngaku lepat. Maknanya adalah mengaku bersalah. Di samping itu, kupat juga dapat diartikan laku papat, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Orang yang mengaku bersalah dan banyak dosa senantiasa akan beribadah kepada Allah SWT, akan memegang teguh ajaran dan amalan agama Islam, akan senantiasa meningkatkan keimanannya, akan selalu membersihkan diri dan berserah diri hanya kepada-Nya, sehingga benar-benar mencapai derajat manusia taqwa yang berakhlakul karimah.

Bagi daerah se-wilayah Magelangan, maupun beberapa tempat yang lain, selain identik sebagai simbol Idul Fitri, kupat juga menjadi sajian kuliner yang khas. Magelang sendiri memiliki kupat tahu, atau terkadang disebut juga tahu kupat. Sepanjang pinggiran jalan raya di tikungan Blabak tersohor sebagai pusat kuliner kupat tahu yang paling awal di Magelang. Adapun kupat tahu Pak Pangad merupakan idola kupat tahu ternama di Kota Magelang. Di samping itu, di beberapa lokasi juga tersaji kuliner bakso kupat. Sajian bakso bulat yang dilengkapi dengan irisan kupat. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Dari Ujung Hingga Ujung


Ujung merupakan istilah yang sangat lekat dengan Idul Fitri atau Lebaran. Ujung merupakan istilah yang memiliki makna saling berkunjung untuk menyambung tali silaturahim dan utamanya adalah untuk saling meminta maaf. Dalam aktivitas ujung, saudara yang lebih muda berkunjung ke kediaman saudara yang lebih tua. Para cucu sowan kepada simbah, simbah buyut dan seterusnya. Demikian halnya para ponakan sowan kepada Pak Lik dan Bu Liknya. Para prunan sowan kepada Pakdhe dan Budhenya.

Tradisi ujung tidak dibatasi hanya terhadap saudara yang tersangkut hubungan darah. Ujung juga dilakukan terhadap pihak yang dituakan, seperti kepada para guru, kyai, lurah, tokoh masyarakat, camat, dan sebagainya. Apabila selama sebulan penuh ummat Islam intensif menjalankan ibadah hablum minallah, maka kesempatan Lebaran dipergunakan sebaik-baiknya untuk salaing bermaafan kepada sesama manusia dan lebih utamanya memelihara hubungan sosial kemasyarakatan, hablum minannas. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Tradisi Among-among Lebaran


Dulu, semasa masih kecil, banyak sekali saya menjumpai berbagai tradisi dalam rangka penyambutan Hari Raya Idul Fitri atau Hari Lebaran. Salah satu diantaranya adalah among-among. Among-among sendiri sebenarnya serupa dengan kenduri. Namun among-among biasanya merujuk kepada kenduri yang diperuntukkan bagi anak-anak atau para bocah.

Secara kultur, masyarakat di pedesaan sangat lekat dengan berbagai kebiasaan untuk mensyukuri kelimpahan kenikmatan yang diterima, sekaligus sebagi wujud permohonan keselamatan. Termasuk tentu saja dengan tradisi among-among sebagaimana saya singgung di atas. Lahiran anak, bikin among-among. Neton atau hari kelahiran dalam hitungan selapan hari juga dibikin among-among. Hajatan manten hingga kematian juga tidak lepas dari among-among. Maka jangan heran jika kedatangan Idul Fitri juga disambut dengan among-among. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Tarikan Nafas dan Rahasia Kematian


Maut memang salah satu misteri ang rapat tertutup tabir rahasia-Nya. Kapan, dimana, dan dalam kondisi seperti apa kita menghadi maut, kitapun tidak ada yang tahu. Maut adalah sebuah kepastian yang pasti akan datang, dan jika ia sudah datang maka tak seorangpun akan dapat mengelaknya. Mau orang kaya raya, pejabat berpangkat tinggi, artis terkenal, bahkan orang sholeh sholihin sekalipun tidak ada yang memiliki daya untuk menghindari kepastian maut.

Hari-hari dan detik-detik menjelang akhir Ramadhan tahun ini, saya menjadi sedikit lebih serius merenungkan tentang peristiwa kematian. Setidaknya dalam hitungan Ramadhan tahun ini, ternyata Tuhan telah memanggil beberapa kaum kerabat keluarga besar kami. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Nadya, Kereta Api, dan Jokowi


Niat pulang mudik dengan kereta api yang sudah diniatkan dan digadang-gadang lebih dari tiga bulan silam akhirya terlaksana. Dengan kereta Argo Muria, kami start dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tawang Semarang. Ya, kami memang sengaja ingin transit sejenak di ibukota Provinsi Jawa Tengah. Tentu saja ada agenda untuk lebih mengenalkan para bocah dengan Simpang Lima, Masjid Baiturahman, Tugu Muda, Klentheng Sam Pho Kong, hingga Masjid Agung Jateng yang memiliki menara sangat tinggi dan payung megar-mingkupnya itu.

Juga-juga…..jug-jug! Juga-juga….jug-jug!” demikian Gendhuk Nadya sangat riang ketika kereta kami mulai melaju menjauhi bayangan Tugu Monas yeng berdiri angkuh di pusat ibukota Jakarta. Sudah pasti fantasi si Gendhuk langsung membayangkan petualangan Dora ketika naik kereta api. Bukan lagi suara “ojo jajan-ojo jajan……nguk-nguk” yang difantasikan anak sekarang tetapi ya itu tadi, “juga-juga…..jug-jug, juga-juga…..jug-jug! Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , | Meninggalkan komentar