Andai Tetap Mudik (2)


MEMET ALIAS MEMANEN IKAN

Rumah kami di kampung halaman memang berada di lingkungan pedesaan. Secara kebetulan pula rumah tersebut berada di sudut dusun yang dibatasi dua batang anak sungai yang bertemu di pojok pekarangan belakang rumah. Kebun dan pekarangan di samping dan belakang rumah masih cukup luas. Di samping masih menyisakan beberapa rumpun bambu betung dan apus, tepat di tepian kali orang tua kami juga memiliki sepetak empang atau kolam ikan.

Kolam ikan yang kami miliki sebenarnya hanyalah sekedar kolam ikan kelangenan keluarga, terutama almarhum Bapak. Disebut kolam ikan kelangenan karena memang ikan yang kami pelihara lebih sebagai hiburan atau hobi, dan bukan dipelihara untuk dipanen rutin ataupun dijual hasilnya. Ikan di kolam kami khusus dipanen untuk menyambut Idul Fitri. Hal ini seolah menjadi tradisi unik di keluarga kami maupun pada keluarga lain tetangga kami yang juga memiliki kolam ikan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , | Meninggalkan komentar

Lebaran Rasa Corona: Andai Tetap Mudik (1)


RERESIK BIN BEBERSIH RUMAH PUSAKA

Mudik terpaksa ditunda gegara corona. Sejatinya rasa kangen kampung halaman, rasa rindu ayah-ibu, rasa ingin bertemu itu sungguh nyata. Hari-hari penghujung Ramadhan seperti ini belum pernah sekalipun tidak ditakhirkan di kampung halaman. Merantau lebih dari 17 tahun belum pernah sekalipun berlebaran di tanah rantau. Mudik setiap lebaran telah menjadi sebuah keharusan. Desa tercinta senantiasa memanggil untuk berpulan saat Idul Fitri.

Mudik bukan saja keingin kami di rantau semata. Ayah-ibu, kakek-nenek, pakdhe-mbokdhe, paklik-bulik, juga sanak kerabat lain pasti berharap dapat berjumpa di hari raya. Bukan hanya soal perjumpaan itu semata, mudik juga merupakan rangkaian agenda untuk melakukan banyak hal terkait rumah pusaka kami. Rumah dimana kami lahir dan dibesarkan, rumah dimana kami berangkat dan senantiasa menjadi tempat kembali. Rumah istana bagi jiwa-jiwa kami dan kakak-adik yang sebagian diantaranya sudah tidak lagi tinggal bersama oran tua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Indonesia Terserah


Duh alahiyung. Ampun Gusti! Lelakon apa ini, corona belum reda melanda masyarakat justru semakin abai terhadap protokol kesehatan. Memang seribu satu alasan yang ketemu nalar bisa dimaklumi sebagai argumentasi. Namun segala arumentasi tersebut seharusnya kalah prioritas dibandingkan keselamatan nyama, keselamatan jiwa dan raga manusia. Tanpa kecuali, tanpa kompromi!

Saat-saat awal corona tidak terelakkan lagi, kita taat untuk tetap di ruma ajah. Stay at home. Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga lebih dari dua bulan ini kita sami’na wa atho’na dengan anjuran para pemimpin. Bekerja dari rumah, belajar di rumah, juga beribadahpun juga di rumah ajah. Meski demikian tidak dipungkiri tetap ada saudara-saudara kita yang tidak bisa tetap di ruma ajah. Mungkin karena tugas atau pekerjaan. Mungkin juga karena desakan kebutuhan. Saya tetap berprasangka baik, hanya segelintir yang karena cuek dan tidak mau tahu dengan corona. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Lamunan Mudik Lebaran Kampung Halaman


Semenjak usia bocah, sesuatu yang paling menggembirakan dan selalu ditunggu itu bernama Lebaran. Kami lebih akrab menyebut bakda (bada) atau riaya untuk Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri hari suci. Hari istimewa selepas selama sebulan penuh ummat Islam menjalankan rangkaian iabdah di bulan suci Ramadhan. Ya puasa itu sendiri. Ya tarawihannya, ya tadarusannya, takjilannya, kuliah tujuh menit, kuliah Subuh. Juga zakat fitrahnya tak ketinggalan. Puncaknya sudah pasti malam takbiran dan sholat Ied yang dilanjut tradisi ujung, silatirahmi dengan tetangga kanan-kiri sedusun, juga kerabat sanak saudara.

Bagi kami kaum perantauan, momentum Lebaran adalah momentum istimewa untuk mudi ke kampung halaman. Tidak hanya sekedar tradisi, mudik bahkan telah menjadi semacam ‘ritual wajib’. Bagaimanapun saat untuk berkumpul dengan keluarga besar di tanah kelahiran adalah sebuah anugerah nikmat yang sungguh indah. Tahun ini adalah tahun corona. Gara-gara si corona ini, maka hasrat dan keinginan untuk mudik terpaksa harus ditangguhkan sementara waktu. Virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan menyebar rupanya tidak mengenal libur di masa Lebaran. Bagaimanapun kami harus sadar untuk bersabar demi kesehatan dan kebaikan kita bersama. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | 2 Komentar

Kidung Tarawihan Ramadhan


Anyekseni ingsung saktuhune mboten wonten Pangerang, ingkang sinembah, kelawan sakbenere ing ndalem ujude, aning Allah.

Anyekseni ingsung saktuhune, Kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Allah.

Kawulane Allah kang rama Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah, ingkang dzahir wonten Mekah, jumeneng rasul wonten Mekah.

Pindah ning Medina, gerah ning Medinah, seda ning Medinah, sinareaken ning Medinah. Bangsane bangsa Arab, bangsa rasul, bangsa Quraisy.

Monggo lurr……. Kidung Tarawihan Ramadhan

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sholat Ashar Nan Misterius


Hari itu demikian indah. Cerah namun tidak terik. Sinar mentari seolah terpayungi oleh gugusan mega mendung, namun tidak ada tanda-tanda akan hujan. Angin sepoi berhembus lembut memberikan kesejukan. Waktu saat itu sebenarnya peralihan siang menjelang sore. Kira-kira tepat saat jelang waktu Ashar. Namun waktu yang demikian di saat bulan puasa merupakan waktu yang demikian hikmat jika dinikmati dengan sepenuh hati. Sepenggal waktu yang penuh ketentraman dan kedamaian.

Berdua dengan si Ponang, kami tengah berkendara motor menyusur sebuah jalanan. Jalan tersebut beralas aspal yang halus, mulus, dan sungguh terpelihara. Sedikit berkelok, sedikit pula naik turun. Sebuah lintasan sirkuit yang memanjakan siapapun yang tengah berkendara melintasinya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Meninggalkan komentar

Mengenal Tumbuhan


Belajar di rumah ajah, belajar dimanah ajah #Seri02

Salam saudara. Gimana? Corona masih melanda ya? Masih di rumah ajah to? Memang kondisi belum memungkinkan kita untuk beraktivitas normal seperti biasanya. Protokol penanganan Covid-19 tentu harus kita taati bersama. Tetap tinggal di rumah. Sering-sering cuci tangan dengan sabun pada air mengalir. Kenakan masker jika terpaksa bepergian ke luar rumah.

Gimana anak-anak belajar? Bagaimana kegiatan belajar di rumah ajahnya? Hampir dua bulan tidak belajar di sekolah tentu menimbulkan sedikit atau banyak kebosenan putra-putri kita. Sekali-kali mungkin ayah-bunda bisa meluangkan waktu untuk mengajak anak-anak belajar di lingkungan sekitar rumah. Aktitivitas di luar rumah, namun masih di sekitar lingkungan tempat tinggal tentu masih dapat dilakukan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Jejak Pengawasan Nuklir di Tanah Air


Nuklir memang masih mengesankan hal yang menakutkan bagi sebagian kalangan. Namun masyarakat awam mungkin pernah merasakan sinar-X atau yang lebih dikenal sebagai pesawat Ronsen (Roengent) di klinik atau unit radiologi rumah sakit. Pesawat sinar-X sesungguhnya merupakan salah atau aplikasi tenaga nuklir yang dimanfaatkan untuk kegiatan medis. Ternyata nuklir sudah hadir nyata dalam kehidupan masyarakat.

Energi nuklir merupakan bentuk energi yang dilepaskan dari proses transformasi inti atom yang tidak stabil. Rentang energi yang dihasilkan mulai dari energi sangat rendah hingga energi super dahsyat sebagaimana bom nuklir. Apakah energi nuklir berbahaya? Lalu bagaimana memastikan keselamatan penggunaannya? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , | 2 Komentar

Ambyar Rasa Corona: Lord Didi Mudik ke HaribanNya


Ah, hari ini 05052020 secara de facto memang telah menjadi Hari Ambyar Nasional. Didi “The Godfather of Broken Heart” Kempot telah berpulang ke haribaanNya. Belum lama dalam konser dari rumah yang digelar dalam menggalang dana untuk solidaritas saudara-saudara terdampak corona, sang maestro demikian menekankan kepada sedulur sebangsa setanah air untuk sementara menunda mudik di tengah pandemi corona yang tengah melanda, rupanya Tuhan berkehendak lain dengan menjemputnya mudik terlebih dahulu. Ya, Mas Didi telah mudik ke alam akherat.

Malam-malam seperti saat menuliskan tulisan ini, dulu sekira 20 tahun silam, suara Mas Didi yang menembangkan lagu-lagu hitsnya setia menemani saya. Melalui sebuah stasiun radio, saya mendengarkan aacara Dikempongi. Dikempongi merupakan sebuah akronim dari Didi Kempot Wayah Bengi. Saya termasuk penggemar setia maestro seniman campursari dari Solo ini dengan lagu-lagu berlirik sentimentil dan sangat menyentuh rasa sepi yang sedemikian indah nan dalam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Pendidikan Rasa Corona


Corona memang mengubah banyak hal dalam kehidupan keseharian kita. Pemberlakuan social distancing dan PSBB dalam rangka memutus rantai penularan Covid-19 mengharuskan masyarakat harus bekerja di rumah, belajar dari rumah, dan beribadahpun jug adi rumah. Hal demikian tentu berimbas pada dunia pendidikan. Anak-anak dari pendidikan PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi harus belajar dari rumah. Mau tidak mau, suka tidak suka, proses belajar mengajar harus dilakukan dari jarak jauh dengan mengandalkan alat komunikasi, seperti handphone dan internet.

Kemajuan atau kecanggihan handphone dan internet membangkitakn kreativitas guru, anak, termasuk orang tua untuk menggunakannya sebagai sarana penunjang utama proses belajar mengajar. Tidak hanya menyajikan materi ajar yang dibagi bersama, tugas-tugas dan pekerjaan rumahpun diberikan secara online. Bukti pengerjaan tugas ada yang sekedar foto screen shoot dari buku PR, namun ada juga tugas yang diwujudkan sebagai sebuah video. Dalam kondisi demikian sejatinya semua pihak, mulai dari siswa, guru, dan orang tua dituntutkan untuk juga mempelajari teknologi komunikasi. Repotnya tidak semua siswa, guru, bahkan kebanyakan orang telah melek teknologi. Di sinilah timbul tantangan yang seringkali menghambat proses pendidikan sistem daring ini. Demikianlah pendidikan di jaman pandemi corona. Kita bisa mengatakannya sebagai pendidikan rasa corona. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar