Gugur Gunung Gotong Royong


Gugur gunung. Apa yang terbayang atau terpikirkan ketika kita mendengar kata gugur gunung? Gugur gunung, sebuah ungkapan peninggalan para leluhur yang kini semakin jarang disebut orang. Gugur gunung, semakin terpinggirkan. Ke desa-desa, ke hutan-hutan di pedalaman, dan akhirnya ke puncak-puncak gunung yang sepi dan sunyi. Tidak sekedar terpinggirkan, bahkan spirit gugur gunung juga semakin terlupakan, Terseok-seok di sudut roda jaman. Semakin dilupakan, tentu semakin sedikit pula manusia yang bersedia untuk berendah hati guna memahami, meresapi, terlebih mengamalkan semangat gugur gunung.

Pencapaian pengembangan bahasa dan sastra bagi masyarakat Jawa menurut kami memang sungguh luar biasa. Betapa kaya rayanya Bahasa Jawa dengan kosa kata. Belum lagi mengenai ungkapan ataupun perumpamaan-perumpamaan yang sungguh kaya makna akan nilai-nilai kearifan lokal yang sungguh luhur. Sebut saja salah satu kata tersebut adalah gugur gunung. Gugur gunung? Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Masjid Saka Tunggal Taman Sari Yogyakarta


Matahari memang menjelang lingsir sore. Pengunjung Taman Sari yang selesai berkeliling komplek yang dulunya merupakan tempat pemandian kerabat Keraton sore itu, sebagian besar sudah beranjak keluar. Para petugas pengelola taman wisata yang selalu ramai itupun nampak sibuk untuk berkemas. Hari memang menjelang sore. Sudah menjadi standar layanan wisata Taman Sari hanya buka sampai pukul 15.00. Nuansa bertambah sibuk dengan adanya kumandang adzan Ashar yang menggema.

Kumandang adzan itu rupanya berasal dari sebuah bangunan masjid yang berada tepat di samping pintu utama akses masuk ke area Taman Sari. Beberapa pengunjung maupun masyarakat setempat nampak bergegas menuju masjid untuk memenuhi panggilan sholat. Kamipun kemudian bergabung dengan barisan orang-orang tersebut. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Top Selfi Tepi Kali: Spot Wisata Baru Pertemuan Kali Progo dan Kali Pabelan di Magelang


Air adalah sumber kehidupan. Manusia tidak dapat hidup tanpa air. Sungai merupakan jalur perpindahan air sebagai bagian dari alam. Hal demikian menjadikan yang manusia hidup di masa-masa awal perkembangannya memilih tepian sungai sebagai tempat tinggalnya. Dari tepi sungai itulah peradaban dan kebudayaan tinggi dilahirkan. Ingatlah dengan lembah Sungai Nil di Mesir, dataran luas antara Eufrat dan Tigris di Irak, tepian Sungai Yang Tse Kiang di China, tepian Sungai Gangga di India, bahkan Bengawan Solo di negeri kita.

Sungai sebagai jalur sumber kehidupan kemudian dipercaya menjadi anugerah luar biasa dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sungai memiliki energi magis, energi potensial dan mekanikal air yang sungguh luar biasa. Kedahsyatan itu dipercaya akan bertumbuh kali lipat manakala satu sungai bertemu (ber-tempur) dengan sungai lainnya. Pada titik pertemuan itulah energi mikrokosmis dan makrokosmis berpadu. Kesatuan antara dunia lahir dan batin, antara jiwa dan raga, antara fisik dan psikis. Titik dimana dapat dimaknai sebagai koordinat manunggaling kawula lan gusti. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , , , , , | 3 Komentar

Pesan Nilai di Balik Drama Tari Barong


Masyarakat Nusantaran dalam pencapaian peradaban dan budaya senantiasa mengutamakan keluhuran budi pekerti. Budi pekerti, atau nilai-nilai kebaikan dan kebijakan secara umum, dengan demikian senantiasa ditanamkan, ditumbuhkembangkan, dipelihara, disebarluaskan, hingga diharapkan menjadi pengamalan perilaku dalam kehidupan sehar i-hari. Langkah untuk menanam, menumbuhkembangkan, memelihara, menyebarluaskan budi bekerti luhur, kebaikan, dan kebajikan tersebut dilakukan melalui berbagai cara dan simbolisasi. Salah satu simbolisasinya melalui seni tari.

Jika negeri tirai bambu memiliki seni tari barongsai, masyarakat di Jawa memiliki barongan, maka masyarakat di Pulau Bali memiliki tari Barong. Ketiga sosok barongsai, barongan,dan barong dapat dikatakan memiliki banyak keserupaan, bahkan kesamaan. Barongsai, barongan, maupun barong diperagakan oleh dua orang yang masing-masing memerankan kepala dan bagian ekor. Lalui seperti apakah  Barong dari Pulau Dewata menjadi cara dan sarana untuk menebarkan nilai-nilai kebajikan dan kebaikan? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Fantasi Animasi Asal-Usul Sang Garuda


Garuda. Sebagai warga Negara Indonesia, kita tentu mengenal Garuda Pancasila sebagai simbol negara. Tetapi pernahkah kita lebih dalam meneliti keberadaan burung garuda tersebut. Apakah burung garuda benar-benar ada, atau setidaknya pernah ada? Ataukah sebenarnya sosok burung garuda hanyalah bayang-bayang imajinasi yang dihadirkan dari dunia dongeng ataupun sebuah kepercayaan dan mitologi semata?

Di dalam beberapa kitab kuno yang berlatar sejarah masa lalu, pernah dituliskan bahwa garuda digambarkan sebagai tunggangan dari Dewa Wisnu. Hal inilah yang menjadi landasan adanya mitologi mengenai Garuda Wisnu Kencana. Lalu bagaimana kisah tentang asal-usul sosok garuda tersebut. Berdasarkan pahatan relief yang terdapat di kawasan wisata Garuda Wisnu Kencana di ujung selatan Pulau Bali, kami pernah menuliskan dan memposting kisah Asal-usul Sang Garuda. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Merapi Hari Ini, Esok, Lusa dan Masa Depan


Merapi. Pagi ini Merapi memberi kabar. Kepulan asap membumbung tinggi menembus cakrawala pagi dalam latar birunya langit di bawah sinar cemerlang sang mentari. Ada yang mewartakan kabar Merapi erupsi pagi ini.

 

Merapi. Sebagaimana kami pahami, Merapi tidak biasanya erupsi dengan tiba-tiba. Meski samar dalam sunyi, Merapi selalu memberikan sinyal tanda-tanda  peningkatan aktivitasnya. Melalui pijar lava merah yang nampak menyala merah di malam hari. Melalui getaran-getaran vulkanik yang terekan di berbagai stasiun pemantau yang tak henti dua puluh empat jam mengamatinya. Atau melalui mimpi-mimpi di dalam lelap tidur segenap anak negeri di kala malam hari. Merapi tak pernah ingkar janji. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , , , | 2 Komentar

Berguru Kepada Sang Ombak


Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Bukankah demikian kira-kira pesan dari Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional kita. Pesan itu menggambarkan betapa proses pendidikan itu dapat dilakukan dimanapun dan dengan siapapun. Pendidikan tidak terbatas sebagai pendidikan formal di bangku sekolah. Tidak harus dalam kelas di sekolah, tidak harus didampingi seorang guru kelas, proses pendidikan tetap dapat dilangsungkan. Di luar sekolah, di rumah, di lingkungan masyarakat, di jalan, di pasar, di mushola, dan di semua tempat tidak terlepas dari sebuah proses untuk membentuk sosok pribadi setiap orang. Bukankah pendidikan berlangsung sepanjang waktu, dari lahir hingga menuju liang kubur?

Ada lagi orang Minang berpegang bahwa alam terkembang menjadi guru. Alam adalah maha guru yang maha luas. Jika ilmu Tuhan yang tertulis di dalam kitab-kitab disebut sebagai kalam, maka ilmu-ilmu Tuhan yang tercipta dan tergelar di semesta raya disebut sebagai alam. Alam dengan anak, alam dengan pendidikan adalah sebuah kesatuan utuh yang tidak data saling dipisahkan. Kita manusia modern menggagas untuk kembali lagi ke alam, back to nature, maka demikian halnya pendidikan juga kembali ke alam. Kita mungkin kini akrab dengan istilah sekolah alam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Alam | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Begawan Nuklir BAPETEN Itu Telah Mangkat


Pertama kali kami bergabung dengan institusi BAPETEN, lelaki sepuh itu sudah menyandang gelar Begawan. Tidak berlebihan gelar tersebut disandangnya. Ia termasuk salah seorang sesepuh, tetua, pendahulu, dan pendiri BAPETEN. Sebuah institusi yang memilki tugas utama untuk melaksanakan pengawasan terhadap semua kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir di tanah air. Pak Moendi, demikianlah lelaki bernama lengkap Moendi Poernomo itu biasa disapa.

Meskipun dituakan sebagai Begawan, dalam keseharian Pak Moendi merupakan sosok yang murah senyum dan gapyak kepada siapapun. Tidak terkecuali kepada kami yang masih baru bergabung dengan BAPETEN. Karena kebetulan seketika kantor kami pindah dari Jalan M.H. Thamrin ke Jalan Gajah Mada kami disatukan di ruangan yang sama, kami menjadi sangat intens berinteraksi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , , | Meninggalkan komentar