Membayang Kain Kebayang


Tengah hari itu kekhusyukan saya dalam membaca sebuah buku sedikit terusik. Dari balik jendela terdengar riuh rendah obrolan tiga bocah di teras luar. Merekalah Nadya, Rara, dan Syifa. Trio bocah kelas Nol Kecil dari RA Permata Hati itu memang karib tak terpisahkan. Ketiganya selalu lengket di sekolah. Selepas pulang sekolahpun mereka seringkali bermain bersama. Meskipun rumah masing-masing tidak dekat, bahkan sudah beda kampung, namun ketiganya sering saling berganti kunjung-mengunjungi.

Siang itu mereka memang baru membawa warta pengumuman dari sekolah. Menjelang bulan April, mereka sudah menerima pengumuman akan diadakannya peringatan Hari Kartini di sekolah mereka. Seumumnya Hari Kartini yang sudah-sudah, siswa diwajibkan mengenakan pakaian adat. Negera kita yang beragam suku memang memiliki beragam pakaian adat. Kesempatan Hari Kartini menjadi salah satu momentum untuk lebih menanamkan jiwa nasionalisme kepada anak-anak sejak dini. Salah satunya ya melalui pengenalan terhadap pakaian adat tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Keluarga | Tag , , | Meninggalkan komentar

Refreshing Memahami Rumus Pythagoras


Berhitung merupakan kecakapan yang penting untuk menunjang berbagai aktivitas manusia. Dalam penumbuhkembangan kemampuan kognitif seorang bocah, berhitung bahkan menjadi bagian dari pilar ca-lis-tung. Baca, tulis, dan berhitung merupakan kemampuan dasar yang menjadi dasar pijakan untuk penguasaan ilmu pengetahuan pada fase-fase pembelajaran selanjutnya. Tiga kemampuan dasar inilah yang diperkenalkan pertama kali kepada seorang bocah semenjak di bangku TK, bahkan kini di tingkat PAUD atau taman bermain.

Berhitung terformulasikan menjadi ilmu hitung. Dulu lebih populer sebagai ilmu aljabar. Secara umum kalangan awam kini lebih mengenalnya sebagai matematika. Bagi sebagian siswa, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan tidak semua guru bidang studi matematika mampu menerangkan konsep-konsep dengan sederhana, menggunakan berbagai alat peraga yang memadai, dan senantiasa dihubungkan dengan konteks penggunaan atau penerapan ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Kenyung | Tag , , | Meninggalkan komentar

Emak Jaman Now pada Suatu Kereta pada Suatu Ketika


Kereta yang saya tumpangi sejenak memasuki Stasiun Prujakan, salah satu stasiun kereta api di Kota Cirebon. Rasanya belum begitu lama saya terlelap. Tak satu kisah mimpi singgah dalam tidur yang setengah sadar setengah tak sadar tersebut. Dengan demikian sejatinya kesadaran jiwa dan raga sayapun juga dalam keadaan setengah sadar setengah tak sadar. Berhubung penumpang kereta cukup senggang, sayapun dapat tidur telentang pada bangku barisan tiga penumpang yang kebetulan hanya saya duduki seorang diri.

Ketika kereta kembali melaju, sekonyong-konyong ada sesuatu yang mengejutkan. Ada getaran angina berdesir di atas kepala. Seketika saya bangun dan terduduk. Bukan khayalan, bukan ilusi. Bukan hantu ataupun lelembut atau makhluk halus yang telah mengejutkan saya. Rupanya seorang bocah yang belum genap berumur dua tahun tengah berdiri di lorong kereta persis di atas kepala saya. Ia adalah seorang bocah yang tengah naik kereta menuju Jakarta sebagaimana saya. Ia bersama dengan ibunya duduk di bangku kursi sebrang temat duduk saya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , | Meninggalkan komentar

KLB Demam Berdarah Ing Lereng Merapi


Sakparipurnane acara tahlil Pak Dhukuh mbiwarakake, “Ing mbenjang-enjang sedaya warga kasuwun nindaki kerja bakti reresik ing lingkungan griyanipun piyambak-piyambak. Dhawuhipun saking Pak Lurah anggenipun reresik punika katujukaken kangge mbrantas sesakit ingkang dipun sebaraken dhening lemut utawi nyamuk. Kawuningan bilih ing wekdal punika tlatah panggenan kita saweg waspada demam berdarah.”

Keprungu tembung demam berdarah, Atiku krasa mak dheg. Ora mung ndredheg, nanging kaya krasa ana angina kang liwat mak ser. Kelingan banget nalika ing seminggu sakdurunge adhine Bapak, ya bulikku dhewe, dirawat ing rumah sakit juga jalaran gejala lelara demam berdarah kuwi mau. Kawiwitan ndredheg demam amarga hawa awak kang panase ora umum, kahanan trombosit utawa sel getih abang langsung suda. Ora mung cukup diusada kanthi transfuse utawa tambah darah, sakabehing upaya kanggo mulihake gunggungan sel getih abang kuwi kudu ditindakake kanthi cepet. Kahanan ngono kuwi mesthi wae mujudake kahanan kang kritis lan ndrawasi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Jawa | Tag , | Meninggalkan komentar

Tragedi Belum Berhenti: Pray for New Zealand


Manusia selayaknya saling kasih-mengasihi dan sayang-menyayangi. Apapun agama, bangsa, status sosial dan segudang predikat pembeda yang lain tidak boleh melunturkan persaudaraan sebagai sesama manusia. Tidak ada ajaran agama manapun yang memerintahkan untuk mencampakkan dan menginjak-injak nyawa sesama manusia.

Tragedi penembakan sekelompok ummat muslim yang tengah melaksanakan ibadah di Selandia Baru beberapa hari silam benar-benar mengoyak nilai-nilai peri kemanusiaan. Tindakan teror seperti itu harus dikutuk oleh semua anak manusia yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaannya. Teroris siapapun, tidak peduli siapa yang menjadi sasaran dan korbannya harus diusut secara tuntas dan diberikan hukuman yang setimpal secara seadil-adilnya.

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag | Meninggalkan komentar

Kenduri Cinta Edisi Maret 2019


Monggo dihadiri bersama-sama. Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah. Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Tangis Lelayu, Tangis Kelayung Layung


“Ana tangis kelayung-layung, tangise wong kang wedi mati. Gedongana, kuncenana, yen wus mati mangsa wurunga.”

Ada tangis haru biru menyayat-yayat  kalbu. Tangis yang menyayat kalbu itu merupakan tangis dari seseorang yang takut akan kematian namun di saat itu ia justru tengah benar-benar menghadapi dan mengalami kematian itu. Sekuat apapun tembok, gedung, bahkan benteng yang dilengkapi kunci-kunci pintu yang kuat nan kokoh, jika memang tiba saatnya malaikat maut menjemput tidak akan dapat terelakkan lagi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , | Meninggalkan komentar

Transportasi Multimoda Terintegrasi


Jakarta sebagai ibukota negara, ibukota pemerintahan, dan ibukota ekonomi ibarat segumpal gula yang menarik ribuan semut-semut kecil dari berbagai daerah. Jakarta masih menjadi ladang harapan penghidupan bagi banyak warga daerah lain. Tak dipungkiri arus urbanisasi di ibukota menjadikan kepadatan penduduk terus meningkat. Keterbatasan lahan menjadikan pengembangan perumahan-perumahan baru bergeser semakin kea rah pinggiran. Jadilah daerah seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebagai daerah penyangga dan tempat bermukin ribuan warga yang sehari-harinya nglaju kerja di Jakarta.

Keberadaan permukiman di pinggiran kota di satu sisi dan tempat bekerja di tengah kota pada sisi yang lain memerlukan dukungan sarana dan prasarana transportasi pendukung yang memadai. Kemacetan menjadi dampak yang harus dinikmati warga sehari-hari karena tidak berimbangnya antara jumlah dan sarana transportasi dengan banyaknya warga yang bermobilitas. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , | Meninggalkan komentar

Sugeng Kondur Pakdhe Aris


Sosok lelaki itu memang telah memasuki usia paruh senja. Rambut di atas kepalanya sudah memutih semua. Gurat keriput di raut muka nampak dengan nyata. Beberapa deret gigi telah tanggal dan tidak utuh lagi. Perawakan tubuhnya tidak lagi tegap sebagaimana ketika ia masih muda. Demikian kekuatan tubuhnya sudah pasti tidak lagi seperkasa di masa-masa sebelumnya.

Sebagaimana para lelaki seusianya di kampungnya, ia adalah seorang petani sejati. Sedari para kakek-nenek buyut dan juga para simbah-simbahnya menekuni petani secara turun-temurun. Bagaimanapun bentang alam dan tanah subur di sepanjang batas desa telah menyediakan lahan sebagai sawah ladang sumber penghidupan. Bertani dan bercocok tanam adalah keahlian turun-temurun yang menjadi sebuah ladang kemuliaan pengabdian. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Tokoh | Tag , , | Meninggalkan komentar

Nyepi Selami Diri


Hari ini merupakan Hari Raya Nyepi. Hari raya yang sangat sakral bagi ummat penganut ajaran Hindu. Bagi ummat tersebut, Nyepi merupakan hari untuk berkontemplasi dan berefleksi. Di hari Nyepi ada beberapa aktivitas yang menjadi pantangan alias tidak boleh dilakukan. Amati geni, amati karya, amati lelungan. Tidak menyalakan api, tidak melakukan kerja, dan tidak bepergian. Dengan tidak melakukan beberapa aktivitas keseharian tersebut, ummat Hindu berkonsentrasi untuk merenung dan berevaluasi diri.

Nyepi tentu dapat dipahami dari kata dasarnya, sepi. Sepi bisa bermakna suasana sunyi dan tenang. Sepi lebih dalam lagi dapat berarti kosong atau hampa. Kosong dari nafsu. Hampa dari niat dan perbuatan jahat. Kosong dari pamrih, alias ikhlas dan melakukan suatu perbuatan semata-mata dalam rangka pengabdian, persembahan, atau peribadahan kepada Tuhan Yang  Maha Esa. Tidak salah jika dalam falsafah masyarakat Jawa dikenal ungkapan rame ing gawe, sepi ing pamrih. Giat dalam bekerja atau berkarya, namun tidak mengharapkan imbalan apapun dari sesama manusia. Manusia yang telah mencapai tataran rame ing gawe, sepi ing pamrih, hanya mengutamakan balasan keridhaan atau pahala amal sholih dari Tuhan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , | 2 Komentar