Tari Soreng: Dari Arya Penangsang Hingga Sumpah Pemuda


Sumpah! Sumpah merupakan kebulatan tekad seseorang. Sumpah bisa menjadi energi pendorong yang sungguh luar biasa dalam rangka menggapai sebuah keinginan atau cita-cita. Mapatih Gajah Mada bersumpah, seluruh penjuru Kepulauan Nusantara bersatu di bawah panji Negeri Wilwatika Majapahit. Kita tentu sangat paham dengan Sumpah Palapa. Bangsa kita mengenal varian sumpah, diantaranya sumpah pocong, sumpah tanah, sumpah darah, dan lain sebagainya.

Di kalasenjanya Kasultanan Demak Bintoro hingga masa awal Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, seorang Arya Penangsang bersumpah menuntut balas atas kematian orang tuanya, bahkan juga atas tahta Demak. Sejarah selanjutya mencatat dengan gagah berani ia mengobarkan perlawanan dari Kadipaten Jipang Panolan. Ia seorang ksatria sejati sehingga detik-detik kematiannya sungguh heroik. Dengan usus terurai akibat tusukan tombak Kyai Plered andalan Sutawijaya, ia gugur dengan gagah setelah Keris Pusaka Setan Kober yang ia hunus justru memotong-motong ususnya sendiri yang terlanjur terburai. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , | Meninggalkan komentar

Semarak Pawai Hari Santri ala Kampung Kami


Hari kemarin masih Hari Ahad alias Minggu. Hiruk-pikuk dan desas-desus dari para bocah di kampung kami riuh-rendah memperbincangkan akan adanya sebuah pawai. Tak kalah semangat anak-anak kami yang sekedar “numpang” ngaji setiap sore di pesantren sebelah turut kasak-kusuk. Sedari pagi hari, si Ponang sudah minta izin untuk turut pawai. Bahkan semenjak malam selepas menghadiri acara pentas badut di pesantren, si Noni juga sudah semangat empat lima untuk mengikuti pawai di Minggu sore.

Saya sendiri malah termangu. Jan-jane, sebenarnya, ini ada mau ada ramai-ramai apaan sich. Tahun Baru Muharram sudah lewat jauh. Agustusan, lha saat ini bulan Oktober. Kesaktian Pancasila, sudah lewat. Mauludan, sepertinya masih bulan depan. Terus pawai dalam rangka apa? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Ngisor Blimbing | Tag , , | Meninggalkan komentar

Tata Titik Keseimbangannya Tuhan


Sekiranya kita menerima pendapatan tiga padahal kualitas ataupun kuantitas pekerjaan kita sebenarnya layak untuk menerima lima juta atau lebih, maka kelebihan jasa yang tidak terbayarkan tersebut pasti akan diganti dengan kesehatan jiwa raga, ketentraman keluarga, anak-anak yang sholih-sholihah, panenan yang berlimpah, segala macam kemudahan setiap urusan dan lain sebagainya. Yakinlah hitungan kelebihan kerja keras kita sebagai amal jariyah ataupun shodakoh kepada perusahaan, kepada bos, bahkan mungkin kepada negara. Hal ini tentu saja terlepas dari pahala yang akan kita panen kelak di alam keabadian.

Sebaliknya, sekiranya kita menerima gaji sepuluh juta, padahal kualitas ataupun kuantitas kerja kita seharusnya hanya dihargai dengan nilai yang lebih rendah, maka kelebihan bayar yang kita terima itupun tidak akan pernah luput dari perhitungan-Nya. Badan yang sakit-sakitan, keluarga yang tidak tentram, anak-anak yang tak berbakti, kesulitan-kesulitan dalam berbagai urusan ataupun bentuk yang lain, yakinlah akan menimpa kehidupan kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kisah Bocah Kualat di Festival Teater Anak 2019


Syahrun, sebut saja demikian namanya. Ia seorang anak yatim dan hanya tinggal berdua dengan emaknya yang janda. Siang malam sang emak berusaha mengasuh dan mendidik anaknya semata wayang. Namun ketidaklengkapan asuhan orang tua menjadikan Syahrun sering berulah. Ia bahkan telah mendapatan gelar sebagai anak yang nakal di kampungnya.

Suatu sore, matahari telah condong di ufuk barat. Musim kemarau yang panjang telah menjadikan siang hari senantiasa terik dan menjadikan kerongkongan setiap orang kehausan yang luar biasa. Selepas bermain bersama dengan beberapa temannya, Syahrunpun meras kehausan. Dilihatnya dahan pohon manga sebelah rumahnya tengah berbuah dengan sangat rimbunnya. Buah manga berkulit semburat kuning yang telah matang tersebut seolah melambai mengajak siapapun yang melihat untuk memetik dan menikmati kesegaran buahnya. Syahrunpun tergoda. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , | Meninggalkan komentar

Man in the Middle Attack


Man in the middle attack. Secara harfiah syah-syah saja ungkapan tersebut diartikan orang di tengah yang melakukan serangan. Memang sedikit mirip dengan istilah yang populer di dunia sepak bola, penyerang tengah. Bukankah demikian? Mungkin juga sih pelaku penyerangan yang menusuk Pak Wiranto kemarin disebut sebagai orang di tengah kerumunan yang melakukan penyerangan.

Man in the middle attack di dunia maya, khususnya pada penerapan jaringan komputer, merupakan istilah yang umum digunakan. Dalam suatu proses komunikasi data, sangat dimungkian ada pihak lain di luar pengirim dan penerima data yang melakukan penyadapan data atau informasi. Jika hanya menyadap saja, maka ia termasuk man in the middle attacker yang pasif. Namun jika tindakan yang dilakukan tidak hanya terhenti pada penyadapan, bahkan lebih jauh ia melakukan modifikasi, perubahan, pemalsuan, bahkan perusakan data, maka ia tergolong attacker aktif. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , | Meninggalkan komentar

KC Edisi Oktober 2019


Monggo dihadiri bersama-sama.

Datang, duduk, lesehan, gratis dan barokah. Insya Allah.

Mukadimah lengkap, silakan disimak di sini.

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Terima Kasih Pak Habibie


Entah kesan apa yang terlintas tentang sosok intelektual yang satu ini. Setelah sebulan lalu turut khidmat menyimak warta kepulangannya kea lam keabadian, akhir pekan lalu si Ponang sempat dolan ke Puspiptek Serpong. Puspiptek, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, merupakan sebuah kawasan pusat penelitian terpadu sebagai ibukotanya ilmu pengetahuan Indonesia karya pemikiran Mr. Crack.

Di remang malam jelang ujian tengah semester, asyik berdiam di bawah temaram lampu ruang dalam. Bukannya belajar mempersiapkan diri menempuh ujian di keesokan harinya, e lha kok malah khusuk merangkai bayang sang tokoh. Terima kasih Pak Habibie. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , | Meninggalkan komentar

Takut ’66, Takut ’98, Takutkah ’19


Takut ’66 Takut ’98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa.

1998
KUMPULAN PUISI TAUFIQ ISMAIL Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Budaya | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Mahasiswa Bergerak


Mahasiswa bergerak. Ada apa gerangan dengan mahasiswa? Ada apa gerangan dengan negara kita? Mahasiswa adalah golongan elit terpelajar sebuah bangsa. Mahasiswa dengan bara idealism darah mudanya adalah sebagian dari simbol moralitas sebuah negara. Ibarat menggali ilmu pengetahuan, mahasiswa sehari-hari menepi di kampus sunyi berkontemplasi. Ibarat seorang cantrik ia tengah menjalani sebuah laku pertapaan, jauh dari hingar-bingar kehidupan duniawi. Tentu ini hanyalah sebuah gambaran cita-cita idealnya.

sumber https://www.tribunnews.com/nasional/2019/09/24/live-streaming-demo-mahasiswa-di-gedung-dpr-ri-pendemo-mulai-naik-ke-atas-pagar

Namun meskipun tidak benar-benar ideal bahwasanya seorang mahasiswa adalah cantrik petapa zaman, mahasiswa tetap mewarisi diri sebagai salah satu pemuja nurani, hati nurani. Dengan demikian kesucian dan kemurnian suara mahasiswa adalah suara rakyat, dan tentu saja adalah suara Tuhan itu sendiri. Jikapun pada suatu masa mahasiswa turun ke jalan untuk berdemontrasi, tentu memang ada suatu isu yang sungguh teramat penting untuk disuarakan. Catat lho ya, ini demontrasi mahasiswa murni. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Bubrah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kembali ke Akar Sejarah Kenusantaraan


Sejarah. Konon sejarah bermakna suatu masa kehidupan manusia yang telah mengenal tradisi tulisan. Tulisan-tulisan pada dinding goa, hingga yang terpahat abadi pada batu prasasti ataupun relief candi menjadi bukti otentik perkembangan sejarah manusia. Termasuk tentu saja perihal berbagai kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di masa silam. Sejarah memang masa silam, namun jika tiada masa silam maka tiada pula masa kini dan masa depan. Tidak ada dinamika waktu yang berjalan.

Sebagai bagian dari masa silam, sejarah sejatinya menjadi pijakan atau landasan masa kini dan masa yang akan datang. Sejarah bagaikan akar dari pohon kehidupan manusia. Jikalau akar sejarah seseorang kuat, maka sebanding dengan itu akan kuat pula jati diri, karakter, juga sikap mental dan rasa peri kemanusiaan orang tersebut. Hal ini nampak menjadi sebuah keprihatinan tersendiri terhadap generasi anak jaman now yang lebih terbanjiri atau terpapari berbagai hal negatif dari media sosial yang hadir secara langsung melalui perangkat smartphone di genggaman tangan. Setiap saat,setiap hari, minggu, bulan hingga tahun hal ini terus-menerus terjadi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , , | Meninggalkan komentar