Pesona Air Mancur Menari di Taman Sri Baduga


Sabtu sore di sebuah pusat kota. Tidak di sebuah alun-alun, namun tidak pula di sebuah pusat perbelanjaan. Kerumuan ribuan orang saling berbaris antri bersama. Jalanan di kawasan itu sengaja disterilkan dari kendaraan apapun. Bukan mau demo ataupun antri sembako. Herannya pemandangan demikian senantiasa terjadi hanya khusus di Sabtu sore malam Minggu.

Orang-orang yang berbaris itu nampak melingkari sebuah tembok tinggi di sisi kiri jalan. Pada beberapa sisi tembok, secara teratur terdapat pilar dan relung yang ditengahnya ada figur tokoh-tokoh pewayangan dalam guratan patung wayang golek. Tembok itu mirip tembok sebuah keraton, namun di dalam tembok itu dijajari pepohonan yang cukup tinggi dan lebat. Sekelebat dari beberapa teralis pintu yang terkunci, di tengah lingkaran tembok tinggi tersebut terbentang sebuah telaga luas. Ada beberapa patung macan putih yang menyemburkan air dari dalam mulutnya. Orang-orang menyebut tempat itu sebagai Taman Air Sri Baduga. Tepat di salah satu pusat Kota Purwakarta, Jawa Barat. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | 4 Komentar

Hati dan Hati-Hati


Pernah seorang bijak bernasehat, “Berhati-hatilah dengan hati. Berhati-hati semenjak di hati, karena bias jadi dari hati tumbuh sebuah pikiran. Berhati-hatilah dengan pikiran, dari sekian pikiran bisa jadi muncul menjadi ucapan. Berhati-hatilah dengan ucapan, karena dari sekian ucapan bisa menjadi tindakan dan perbuatan. Demikian seterusnya, pokoknya berhati-hatilah selalu.” Kenapa apa-apa, dimana-mana, kapanpun, dengan siapapun kita perlu selalu berhati-hati?

Kunci kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lainnya adalah anugerah pikiran yang menumbuhkan kecerdasan. Dengan pikiran dan kecerdasan itulah manusia kemudian memiliki cipta, rasa dan karsa yang mengkristal sebagai budaya dan peradaban. Manusia ada karena berpikir. Manusia ada karena berbudaya. Manusia ada karena berperadaban. Jika demikian halnya, lalu dimanakah posisi hati pada dimensi pikiran, budaya, dan peradaban manusia itu? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Religi | Tag , , | Meninggalkan komentar

Jakarta Monas Dance Fountain


Sebagai ibukota negara, Jakarta tentu menjadi yang terdepan memiliki air mancur menari. Air mancur menari, atau lebih kerennya disebut sebagai dance fountain, memang sedemikian semarak menjadi pemberitaan beberapa waktu lalu. Banyak kota-kota di tanah air dikabarkan membangun fasilitas dance fountain sebagai landmark ataupun ikon baru. Sebutlah misalnya Purwarkata dengan Taman Air Sri Baduganya.

Jakarta sendiri telah memiliki taman air yang sekaligus dilengkapi dengan fasilitas air mancur menari. Adalah sebuah kolam besar di sisi barat Tugu Monas yang telah memiliki fasilitas air mancur menari yang dibangun semenjak masa akhir pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , , | 6 Komentar

Mundur Untuk Lebih Maju


Opo yo umum, dikarenakan alasan bahwa suatu penerbit ingin lebih fokus untuk menerbitkan naskah buku dalam wujud digital, terus seandainya ada permintaan untuk menerbitkan naskah buku tersebut dalam wujud cetak kertas, kemudian si penulis buku sama sekali tidak diberikan hak untuk turut menikmati keuntungannya?

Bukan guyonan bukan pula dagelan. Pertanyaan di atas sungguh sebuah fakta yang kami hadapi. Sekitar akhir Januari lalu kami mengirimkan sebuah buku ke sebuah penerbit. Sebenarnya berurusan dengan penerbit tersebut sama sekali bukan untuk pertama kalinya. Tiga tahun silam, kami pernah menerbitkan naskah buku kami melalui grup penerbit yang sama. Berbekal pengalaman dan hubungan baik yang terjalin sebelumnya itulah, kami pertimbangkan kembali untuk meneruskan kerja sama guna menerbitkan naskah buku kami kali ini. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Sastra | Tag , , | 2 Komentar

Sensasi Sate Maranggi Cibungur Purwakarta


Berkunjung ke Purwakarta tanpa menikmati sajian kuliner paling khas yang satu ini mungkin ibarat menunaikan ibadah haji tanpa wukuf di Padang Arofah. Tidak hanya tidak afdzol, tetapi tidak syah. Pernah merasakan sensasi sate maranggi, kuliner khas Purwakata yang saya maksudkan? Aha, bagi yang pernah tentu sangat paham bagaimana sensai kelezatannya.

Suatu petang selepas Maghrib di awal bulan Ramadhan dua tahun silam, dengan beberapa rekan kami sengaja mendatangi sebuah pusat kuliner di tepi jalan penghubung antara Cikampek dan Sedang. Tepat di sebuah kawasan hutan jati, terdapat sebuah pusat kuliner sate maranggi yang dikelola oleh Hj. Yetty dan keluarga. Mendengar pesona kelezatan sate maranggi khas Purwakarta yang sudah sangat terkenal sebagai ikon kulineran daerah yang dipimpim Kang Dedi Mulyadi tersebut memang sudah cukup lama. Tetapi baru pertama kali sungguh-sungguh kesampaian menikmati saat itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Wisata | Tag , , | Meninggalkan komentar

Harmonisasi Dalam Keberagaman Budaya


Monggo berkenan hadir Sinau Bareng Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

Lapangan Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Provinsi BANTEN.

Sumber foto poster: FB Maiyah Benteng Tangerang

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Ilmu Agama Ilmu Umum


Sebagaimana kebiasaan Cak Nun ketika melingkar bersama dengan masyarakat umum pada forum pengajiannya, saat Ngaji Bareng Cak Nun Kiai Kanjeng dalam rangka Milad Pondek Pesantren Al Iman di Muntilan pecan silam, ia juga mengajak beberapa perwakilan dari hadirin untuk naik ke atas panggung dan berdiskusi sejenak. Beberapa perwakilan seperti santri, para ustadz, bahkan Pak Kapolres, berkesempatan mengikuti workshop kecil-kecilan.

Ketika tiba giliran salah seornag santri, Cak Nun mengajaknya santri tersebut untuk memprosentasi berapa persen pendidikan agama yang diajarkan di pondok, dan berapa persen pendidikan umum yang diajarkan. Si santri kemudian mengungkapkan bahwa pendidikan yang ia terima di pondok meliputi pendidikan agama, seperti tajwid, hadist, tarikh nabi, nahfu shorof, dakwah, bahasa Arab, dsb. Adapun pendidikan untuk umum diberikan  Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, Ekonomi, dan lain-lainnya menurut tingkatan ibtidaiyah, tsanawiyah, hingga Aliyah. Jadi menurut santri tersebut baik pendidikan agama maupun umum di pondok diberikan secara seimbang. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Maiyyah | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Tembakau Yang Semakin Tidak Kurup


Benar sekali pepatah Arab, “Bermusafirlah, maka cakrawala pengetahuan kita akan semakin luas.”¬† Ketika kita bepergian, banyak orang kita jumpai, banyak tempat kita singgahi, banyak kejadian kita saksikan. Dari banyak orang, banyak tempat, banyak kejadian tersebut tentulah akan banyak pula tambahan pengalaman dan pengetahuan kita. Maka tidaklah mengherankan jika status seseorang yang sedang beperjalanan tersebut mendapatkan banyak keistimewaan dan keringanan-keringanan, bahkan dalam hal melaksanakan ibadah tertentu.

Demikianlah hal yang saya alami. Sekian kali beperjalanan antar kota antar provinsi dengan kendaraan umum, terutama dengan armada bus maupun kereta api telah membawa banyak tambahan pengetahuan-pengetahuan baru yang sungguh luar biasa. Sebagaimana senja itu, saya bersebelahan dengan seorang kawan seperjalanan yang rupanya adalah seorang petani tembakau tulen dari wilayah Temanggung. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Jagad Nusantara | Tag , , | 4 Komentar