Bijak dan Beradab dengan Bekas Makhluk Bernyawa


Pernah menyaksikan bangkai tikus di tengah jalan? Apa yang dirasa tatkala melihat pemandangan tersebut? Jijik, bau, merasa terganggu, atau?

Pemandangan bangkai tikus yang sengaja dibuang orang di tengah jalan bukan pemandangan yang aneh. Entah dengan cara logika pikir yang mana, orang dengan semena-mena membuang bagkai di tengah jalan. Merusak pandangan, menimbulkan bau tak sedap, mengotori jalanan, mengundang bibit penyakit, dan apa lagi coba?

Dengan alasan apapun, membuang sampah terlebih bangkai, di manapun tentu tak bisa dibenarkan. Entah dibuang di got, selokan, sungai, tanah kosong, apalagi di tengah jalanan. Sampah tetap tidak boleh dibuang sembarang. Dengan cara pikir pendek dan pintas, membuang bangkai binatang di tengah jalanan dimaksudkan agar kendaraan yang berlalu lalang melindas bangkai tersebut. Diharapkan bangkai akan hancur dan sirna menjadi debu. Terbang turut terbawa angin lalu. Namun, demikiankah adanya?

Bangkai adalah jasad sisa makhluk hidup. Seiring masa pembusukan jasadnya, segala bakteri pembusuk yang ada di dalamnya akan turut berkembang memakan habis setiap senyawa hidup yang tersisa. Seiring proses pembusukan yang terjadi sangat dimungkinkan tumbuh dan berbiak pula berbagai bakteri, kuman, dan segala rupa bibit penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan sekitar.

Lalu bagaimana kita semestinya memperlakukan bangkai binatang yang kebetulan ada di rumah atau di lingkungan kita? Terutama jika bangkai tersebut berasal dari binatang piaraan kita misalnya.

Adalah nilai luhur dari para leluhur sebenarnya telah banyak mengajarkan hal tersebut. Binatang piaraan adalah juga makhluk Tuhan. Entah binatang tersebut berwujud kucing, anjing, burung, kelinci, hamster, ikan dan lainnya. Bahkan jikapun binatang tersebut berupa bangkai tikus yang menganggu rumah dan sengaja kita jebak serta binasakan. Para orang tua tersebut mengajarkan untuk menguburkannya secara layak. Di samping kesadaran tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan, penguburan bangkai binatang juga merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada sesama makhluk Tuhan. Kesadaran ini nampaknya kini semakin langka dan sirna.

Kemarin lusa, salah seekor burung pipit kesayangan si Noni mati. Dalam rangka mengajarkan kesadaran menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta untuk juga menanamkan kasih sayang sesama makhluk Tuhan, kamipun mengadakan penguburan sederhana untuk almarhum si burung pipit. Sebuah peristiratan sejuk nan nyaman di bawah naungan pohon belimbing menjadi penanda ketulusan persahabatan kami, anak-anak, dan tentunya si burung pipit. Meski sekedar sebuah langkah kecil, mudah-mudah tertanam makna tersendiri di relung jiwa para bocah kami.

Ngisor Blimbing, 22 Juni 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s