Lulus Tanpa Ujian


Menapaki sebuah tangga kehidupan. Setapak demi setapak anak tangga harus dilewati. Untuk menapak anak tangga yang lebih tinggi sejatinya tidaklah mudah. Akan selalu ada prasyarat yang harus dipenuhi. Tak jarang prasyarat tersebut berupa sebuah proses penentuan yang bernama ujian. Hidup bagaikan menapaki satu ujian ke ujian berikutnya. Dengan serangkaian ujian, manusia memetik pengetahuan dan pengalaman.

Demikian halnya dengan proses pendewasaan hidup yang bernama pendidikan. Wabilkhusus pendidikan formal di lembaga sekolah, ujian menjadi penentu tolak ukur keberhasilan siswa dalam menempuh pembelajaran. Entah dianggap benar atau salah, entah dipandang tepat atau tidak, entah dirasa perlu atau tidak, namun sebagian dari generasi kita jelas merupakan produk sistem pendidikan dengan ujian yang menentukan seseorang naik kelas atau tidak, bahkan seseorang lulus sekolah atau tidak.

Ujian memang bagian yang tidak terpisahkan dari dunia persekolahan. Gimana tidak demikian lha wong hidup sendiri sejatinya adalah ujian to? Entah sekedar ulangan mata pelajaran, tengah atau akhir semester, ya sangat sulit untuk menghindarkannya. Pro kontra dan polemik rumit bahkan sekian dekade tak berakhir memperdebatkan ujian nasional alias unas.

Unas selama ini menjadi metode untuk menilai dan menentukan seorang peserta didik dianggap lulus dan selesai menamatkan sebuah jenjang sekolah. Tak sedikit kalangan pemerhati pendidikan yang getol mengusulkan dihapuskannya unas. Unas dianggap sebagai standarisasi bahkan penyamarataan tingkat pendidikan tanpa menghiraukan kondisi-kondisi kesenjangan di lapangan.

Ndilalah kok di tahun ini masa kelulusan anak-anak kita mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA masih dalam suasana pandemi corona yang mencekam. Alih-alih dapat menjalani unas, untuk sekedar belajar di sekolah saja tidak bisa dilakukan. Sekolah di rumah, belajar di rumah ajah. Demikian corona telah turut memaksa anak-anak sekolah tidak bisa lagi bersekolah sebagaimana biasanya. Dan berhubung situasi dan kondisi serba tidak memungkinkan, pemerintah langsung mengambil keputusan meniadakan unas.

Ketiadaan unas pada tahun ini berkenaan dengan pandemi corona, tetap menyisakan sekolah yang tetap menyelenggarakan ujian sekolah. Namun kebanyakan dari sekolah-sekolah yang ada langsung satu suara tidak menyelenggarakan ujian sama sekali. Kelulusan siswa ditentukan dari rerata nilai raport pada tiga semester sebelumnya. Ya wislah, jadilah angkatan kelulusan siswa tahun ini demikian istimewa. Lulus tanpa pernah merasakan ujian yang bagi sebagian generasi dianggap sebagai momok yang sungguh nggegirisi.

Lepas dari kelemahan dan kelebihan lulusan sekolah tanpa ujian, semoga tidak serta merta menurunkan kualitas pendidikan di negeri kita. Bagaimanapun pendidikan merupakan investasi masa depan bagi setiap siswa itu sendiri, bagi orang tua dan keluarga, bagai masyarakat, dan tentunya bagi bangsa serta negara tercinta. Selamat.

Ngisor Blimbing, 20 Juni 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s