Burung Pipit Peliharaan


Manusia pada kodratnya ingin hidup berdampingan atau bahkan bersahabat dengan nakhluk Tuhan yang lain, termasuk dengan binatang. Hal ini tentu saja juga berlaku dengan anak-anak kita. Merekapun secara naluri sangat menyukai binatang. Memelihara binatang peliharaan untuk anak-anak akan sangat banyak manfaatnya bagi tumbuh-kembang mereka. Tidak perlu banyak contoh, pada tulisan ini saya ketengahnya tentang anak-anak kami yang sedang gandrung dengan burut pipit.

Si Noni, justru yang sudah semenjak lama ingin memelihara burung pipit. Demekian hamster kesayangannya mati dan meninggalkan sangkar kosong, ia sudah langsung ingin menggantinya dengan burung pipit. Waktu sangkarnya belum kosong malah sering ada abang-abang penjaja burung pipit yang berkeliling dengan sepeda lewat di depan rumah. Si Noni juga sebelumnya sudah sering memperhatikan penjual burung pipit di sudut taman anak. Nah pas jelang corona merebak Maret lalu, rasa ingin memelihara burung pipit itu demikian menggebu.

Pernah dalam satu kesempatan, panas tengah hari selepas Dzuhur si Noni minta diantar membeli burung pipit. Dengan percaya diri, sayapun langsung sigap mengantarnya. Dalam bayangan sudah tergambar abang-abang penjual burung pipit yang mangkal di sudut taman anak. Lha apesnya, sudahlah panas-panas gembrobyos jebulnya si abang tidak ada di tempat mangkal. Dengan asumsi mudah mencari burung pipit, kamipun mencoba berkeliling ke beberapa kios penjual burung. Ternyata yang dijual di kios-kios burung itu hanya burung-burung kelas tidak murah. Kebanyakan diantaranya ya burung lovebird, kutilang, jalak, perkutut, lha burung pipitnya nggak ada sama sekali.

Tengah hari tersebut benar-benar menjadi ujian yang berat bagi saya. Tidak hanya satu-dua kios burung yang kami sambangi, semuanya tidak satupun yang menjual burung pipit. Siang itu kami mengukur aspal lebih dari 10 km dan tak menemukan burung yang kami cari. Tanpa terasa perjalanan kami bahkan sampai di Pasar Bengkok. Haduh biyung alah hiyung!

Tiga selepas masa glundhang-glundhung “lockdown” corona, lha ndilalah abang-bang penjual burung pipitnya lewat. Jadilah si Noni demikian girang. Saat ia masih bermain dengan beberapa temannya, ia langsung lari masuk rumah dan berteriak minta uang untuk beli burung pipit. Akhirnya sayapun turung langsung. Dengan traktiran bapaknya, si Noni membawa tiga ekor burung pipit yang langsung ditempatkannya dalam sangkar bekas hamster.

Namanya juga anak-anak ya lurss, baru-barunya punya binatang peliharaan sayang banget. Setiap saat makanannya dicek. Sebentar-sebentar minumnya dilihat. Sangkarnya diperiksa, diganggu kucing tetangga atau tidak dan lain sebagainya. Mungkin dengan cara ini, anak-anak sekaligus belajar tentang tanggung jawab. Apa yang dimiliki dan menjadi tanggung jawab pemeliharaan, pengawasan, serta perlindungannya ya dilakukan sepenuh hati. Hari-hari ini bahkan si Belang, Thomas, dan Rogis setiap pagi sangkarnya dikerek naik ke atas pohon blimbing. Jadilah setiap pagi ada piket pengerekan burung. Mirip saat upacara para tentara yang giliran piket pagi mengganti bendera lho guys.

Berbicara tentang memelihara burung pipit, saya di masa SD-pun juga pernah memelihara burung pipit. Burung pipit termasuk salah satu jenis burung yang habitat hidupnya bersinggungan langsung dengan manusia. Jika kita seksama memperhatikan, di lingkungan tempat tinggal kita semisal di kebun atau pekarangan, sangat mudah dijumpai burung pipit. Mereka banyak bersarang di pepohonan sedang maupun pada tandan buah pisang. Sedang di area persawahan padi, burung pipit seringkali dianggap sebagai hama dan menjadi musuh petani. Mereka sering makan padi yang mulai berisi hingga yang menguning.

Sebenarnya ada banyak jenis burung pipit, namun yang palin sering dipelihara para bocah adalah burung emprit kaji dan emprit peking. Emrit kaji memiliki ciri warna bulu putih di bagian dada. Selintas ia seperti memakai kaos kotangan putih dengan pinggiran warna hitam. Emprit jenis ini kebanykan hidup di lingkungan pekarangan atau kebun. Tandan buah pisang muda menjadi tempat favorit sarangnya. Adapun emprit peking berbulu dominan dengan warna coklat. Ada sedikit belang-belang hitam-putih di bawah lehernya. Emprit ini lebih dominan dengan habitat di sawah atau ladang. Dulu di kampun kami, pohon jambe alias pinan menjadi sarang kebanyakan emprit peking.

Memelihara burung pipit ibarat sebuah surga tersendiri di dunia anak. Terlebih jika semakin besar burung pipit semakin sehat, gesit, lincah, dan nyaring ngocehnya. Lebih seru lagi jika emprit pipit itu sudah mulai cumbu, artinya sudah hapal dengan sarang bahkan pemiliknya. Emprit-emprit peliharaan tak ubahnya burung merpati bagi orang dewasa. Emprit-emprit tersebut sering ditomprang alias diadu terbang. Meskipun dilepas jauh di luar desa, namun emprit-emprit tersebut dapat terbang dengan gesit dan cepat sampai kembali ke sangkar atau rumah pemiliknya.

Akh, kegemaran si Noni pelihara burung pipit benar-benar sebua nostalgia yang kembali hadir di keuarga kami. Nikmat mana lagi yang tidak semestinya kita syukuri?

Ngisor Blimbing, 18 Juni 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s