Andai Tetap Mudik (5)


UJUNG: TRADISI JALIN SILATURAHMI

Inti dari mudik tentu ber-Idul Fitri itu sendiri. Sedangkan inti daripada intinya Idul Fitri adalah saling bermaafan. Dalam rangka saling memaafkan inilah kemudian dilakukan saling berkunjung satu sama lain, antar tetangga juga antar kerabat yang tinggal di tempat lain bisa hanya antar dusun, antar desa, antar kecamatan, bahkan antar kabupaten atau provinsi. Dari dimensi tradisi dan nilai kearifan lokal di daerah kami, ujung menjadi wahana untuk saling bermaafan di Hari Lebaran.

Tahun ini tidak bisa mudik karena corona. Tidak mudik, otomatis tidak bisa ber-ujung ria sebagaimana biasanya. Kemajuan teknologi komunikasi menjadi alternatif untuk tetap saling bermaafan dari jarak jauh. Namun demikian hal tersebut sangat terbatas kami lakukan hanya dengan keluarga inti semata. Sanak saudara lain, terlebih dengan para simbah sepuh yang tak terjangkau teknologi mutakhir ataupun dengan sanak saudara yang tinggal di pelosok dan tidak terjangkau dengan sinyal dan lain sebagainya, praktis kami sama sekali tidak bersilaturahmi dan bermaafaan tahun ini. Bagi kami, ujung tetap tidak bisa dilakukan dari jarak jauh ataupun cara virtual.

Seandainya tidak ada corona, selama 5-7 hari di masa lebaran, agenda utama kami tentu saja ujung. Hari pertama Lebaran, selepas sholat Ied dan bermaafan dengan keluarga inti, kami memulai ujung dengan berkunjung ke rumah setiap tetangga satu dusun. Dengan jumlah rumah sekitar 60-an rumah, kami baru kemput ujung satu  kampung pada pukul 14.00-an. Sejenak sholat Ashar dan istirahat sejenak, agenda ujung kami lanjutkan untuk ujung ke kampung simbah biyung tuwo (nenek dari ibu) di desa sebelah. Biyung tuwo kami memang telah meninggal beberapa tahu lalu, namun di sana masih ada pakdhe, beberapa adik sepupu biyung tuwo, ada pula paklik-bulik sepupu ibu. Di kampung tersebut paling kurang kami ujung ke 10-an rumah. Waktu Maghrib biasanya baru kelar ujung di sana.

Hari ke dua dan selanjutnya. Semenjak pagi hari selepas sejenak jalan-jalan atau ke Pasar Ngepos kalau tidak ke Pasar Srumbung, anak-anak harus segera diopyak-opyak untuk segera mandi. Sejenak kemudian di saat para bocah sudah rapi berpakaian dan sarapan, kamipun segera meluncur untuk memulai ujung berkunjung ke rumah sanak kerabat di lain dusun. Pukul 09.00 pagi kami serombongan biasanya sudah meluncur naik motor.

Hari Lebaran ke dua, biasanya kami ujung ke dusun-dusun di arah barat dan selatan. Ada para simbah, pakdhe-budhe, paklik-bulik, beberapa saudara sepupu di jurusan tersebut. Dusun Gatak, Berokan, Sudimoro, Sabrang, Kwilet, Ketunggeng, hingga Tlatar di seputaran Kali Blongkeng kami jelajahi. Selepas tengah hari ke beralih ke beberapa dusun di sisi selatan, ada Sikepan, Mandungan, hingga Bringin Wetan. Dengan sekian dusun yang kami sambangi, kami biasanya jelang Maghrib baru mendarat kembali di rumah.

Hari Lebaran ke tiga, giliran ujung kami di dusun-dusun di arah utara atau sisi atas. Mulai dari Nglarangan, Babadan, Ngampel, Tompen, Lempong, Gowok, Sumber Sari, Kali Sari, Ngablak, hingga Grogol Sari. Start sama di jam 09.00, kami berkunjung ujung di hari tersebut juga biasa baru selesai jelang Maghrib. Hal unik yang selalu mengasyikkan di hari tersebut, saat kami ujung di Kali Sari atau disebut juga sebagai dusun Kaliwungu. Kebetulan rumah Lik Manto di pojok dusun. Tepat di belakang rumah, berposisi di bawah tebing ada satu mata air yang dibuat sebagai pancuran pemandian umum. Di tempat ini anak-anak pasti ngeyel minta mandi dan kekecehan di sungai tersebut.

Hari Lebaran ke empat, kegiatan ujung kami mengarah ke dusun-dusun di sisi timur. Mulai dari Karanglo, Tonalan, Kedung Sari, Songgeng Sari, Baris Sari, Gondang Sari, Pring Sari, Cawakan, Ngaglik, Pandean, Kersan, hingga Kamongan dan Berokan. Hari Lebaran ke lima, barulah kami ke wilayah yang sedikit lebih jauh. Ada di wilayah Salam para sepupu kami anak dari pakdhe di Citrogaten, Losari, juga Waru. Adapun Lebaran ke enam, kami masih ujung ke wilayah Muntilan hingga Borobudur. Di area tersebut ada banyak kerabat kami mulai dari Gunungpring, Ngetos, Dukuh, Curah, hingga nDipan dan Nglerep.

Di samping ke kerabat inti dari keluarga saya, kamipun sudah pasti juga ujung kepada sanak kerabat dari mertua, alias istri saya. Tidak terlalu banyak, dan hanya untuk lingkaran keluarga inti saja. Kebetulan karena istri kami anak perempuan dan memiliki adik laki-laki, maka kami lebih sepaham agar dialah yang lebih berperan mewakili keluarga untuk saling berkunjung. Ada pula ujung ke beberapa guru di jaman sekolah dulu. Alhamdulillah, meskipun semuanya sudah purna tugas, namun mereka masih sehat dan panjang umur. Memang beberapa guru kami sudah terlebih dulu menghadapNya ke alam baka.

Demikian kira-kira gambaran agenda ujung kami yang sungguh padat, melelahkan, namun sungguh mengasyikkan. Di samping bisa menengok, berjumpa, saling bertukar kabar, saling bermaafan, namun yang  paling inti nan sejati adalah terus menyambung tali silaturahmi. Selain dapat mengenalkan anak-anak kepada sanak kerabat, menunjukkan di mana keberadaan saudara-saudara kami, anak-anak juga sangat menyukai petualangan. Tak jarang di tengah kegiatan ujung tersebut anak-anak bermain riang di pekarangan, empang, kali, hingga singgah di bukit ataupun candi. Satu hal yang pasti disukai anak-anak adalah sangu dari para simbah, pakdhe-budhe dan kerabat yang lain. Mungkin hal yang satu inilah hal yang paling disukai dan dirasa paling mengasyikkan di saat ujung.

Ngisor Blmbing, 26 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s