Andai Tetap Mudik (4)


TAKBIRAN LEBARAN

Momentum paling membahagiakan bagi kami selaku ummat muslim adalah menyambut hari suci Hari Idul Fitri. Sebagaimana diceramahkan banyak ulama, bahwa ada dua kegembiraan bagi seorang muslim yang menunaikan ibadah puasa, satu pada saat ia berbuka di setiap petang dan satu lagi pada saat berhari raya. Maka momentum malam jelang Idul Fitri dengan takbirannya menjadi puncak kebahagiaan. Ada rasa syukur atas nikmat telah menunaikan ibadah Ramadhan dengan baik dan juga atas nikmat umur panjang masih berjumpa kembali dengan hari raya.

Adalah wujud kegembiraan seorang muslim dalam menyambut Idul Fitri dengan mengumandangkan kalimah takbir, tahmid, dan tahlil. Allahuakbar, allahuakbar, allahuakbar. Laaila ha ilallahu wallahu akbar. Allahuakbar walillahilham. Takbiran, demikian aktivitas tersebut dinamakan. Takbiran dikumandangkan semenjak matahari terbenam hingga pelaksanaan sholat Idul Fitri di keesokan paginya.

Dalam kondisi normal, maksudnya tanpa pandemi corona seperti saat ini, takbiran adalah ungkapan kemenangan, kegembiraan, dan kebahagian bagi semua orang. Meskipun keluarga kecil kami telah hidup di perantauan lebih dari 17 tahun, namun tak pernah sekalipun kami berlebaran di tanah rantau. Lebaran selalu menjadi momentum untuk mudik. Dan salah satu kegembiraan tiada terkira adalah menyambut datangnya Idul Fitri dengan takbiran di tengah keluarga besar di kampung halaman.

Bukan berlebihan kami katakan, sebagai wujud kegembiraan menyambut hari kemenangan Idul Fitri, kami senantiasa turut bertakbir di masjid dusun kami hampir semalam suntuk. Malam Idul Fitri senantiasa saya habiskan dengan takbiran di masjid. Bisa dikatakan bahkan saya turut lek-lekan, alias begadang takbiran hingga jelang waktu Subuh. Di malam takbiran, saya sangat biasa tidur hanya sejam dua jam saja. Itupun sekedar ngglethak di serambi masjid sambil nimbrung ngobrol dengan beberapa bapak-bapak yang sejenak istirahat takbiran sambil sebentar mendinginkan mesin ampli pengeras suara.

Seolah sudah menjadi sebuah tradisi, takbiran di masjid kami dibagi menjadi empat periode waktu. Begitu kumandang adzan Maghrib, ummat Islam yang biasa berjamaah Maghrib, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak hingga remaja bersama-sama memenuhi masjid untuk bertakbiran bersama. Selepas sholat Isya’, biasanya anak-anak antusias bertakbir hingga sekitar pukul 21.00. Sift berikutnya para remaja yang bertakbiran hingga sekitar jam 12.00. Adapun selepas tengah malam, dini hari hingga jelang waktu Shubuh, jamaah takbiran banyak didominasi para pemuda, bapak-bapak, hingga para simbah-simbah.

Masa-masa sekarang takbiran memang dilakukan di dalam masjid saja. Dulu, di samping takbiran di dalam masjid, kamipun sangat sering mengadakan takbir keliling. Dulu sekali, sebelum listrik hadir di dusun kami, takbir keliling dilakukan dengan berjalanan mengelilingi dusun-dusun di lingkungan desa atau kelurahan. Takbir keliling tersebut diikuti dengan gabungan jamaah muslimin dari semua dusun yang ada. Sebagai penerangan dalam perjalanan, masing-masing dari peserta takbiran membawa oncor alias obor dari ruas tabung bambu yang diberi sumbu dan berbahan bakar minyak tanah. Semasa masih usia SD, saya sangat bangga bisa membuat oncor bercabang tiga seperti sebuah tombak trisula. Anak yang lebih besar waktu itu bahkan bisa membuat oncor bercabang empat hingga enam. Sungguh rombongan peserta yang mengular dengan ribuan oncor bagaikan seekor naga api yang meliuk sepanjang jalan. Benar-benar merupakan sebuah pemandangan dan nuansa yang sulit digambarkan.

 

Seiring perkembangan jaman, takbiran keliling kemudian dilakukan dengan menaiki mobil terbuka ataupun truk. Tidak ada lagi pawai manusia beroncor lagi. Peserta takbir keliling naik di atas mobil, sehingga yang kemudian ada adalah pawai kendaraan. Jika di masa pawai jalan kaki rute tempuhnya hanya pada lingkungan satu desa atau kelurahan, maka dengan berkendaraan jangkauan takbiran keliling semakin jauh mencapai wilayah kecamatan lain, alun-alun di pusat kota, bahkan tak jarang rombongan kami menyeberang jalur pedesaan di provinsi tetangga.

Semakin ke belakang, takbiran keliling sering memicu kemacetan lalu lintas karena banyaknya rombongan pawai yang turun ke jalan. Di samping itu, keberadaan petasan ataupu kembang api tak jarang menimbulkan insiden yang membahayakan keselamatan banyak orang. Belum lagi kadang-kadang juga ada gesekan antar rombongan pawai maupun kelompok tertentu yang mengundang kerawanan keamanan. Tak heran dengan latar belakang tersebut, kegiatan takbiran keliling terasa semakin dibatasi. Dengan demikian, untuk masa sekarang para remaja dan pemuda di dusun kami relatif jarang melaksanakan takbir keliling.

Takbiran di kampung halaman di tengah pandemi corona saat ini yang mengharuskan kami tidak mudik dan tetap tinggal di perantauan, tentu sedikit kurang meriah dengan ketidakhadiran para pemudik. Kamipun di perantauan merasakan ada sedikit kehampaan di relung jiwa kami. Takbiran di kampung halaman tentu sangat kami rindukan. Semoga pandemi cepat berlalu dan di tahun depan kami dapat mudi ke kampung halaman untuk turut bertakbiran sebagaimana tahaun-tahun yang lalu. Allahuakbar……….

Ngisor Blimbing, 23 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s