Andai Tetap Mudik (3)


BESRIK, BEBERSIH MAKAM,  ZIARAH KUBUR LELUHUR

Mudi ke kampung halaman jelas bukan urusan beridul fitri semata. Ibarat kata sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau dilampaui. Demikian, saat pulang mudik Lebaran juga sekaligus melakukan beberapa rangkaian hal. Satu diantaranya adalah besrik atau bebersih makam sekaligus ziarah kubur kepada leluhur.

Adalah sebuah kelaziman orang-orang tua kami, silsilah leluhur senantiasa digethok-tularkan alias diceritakan langsung melalui penuturan lisan, bahkan diwasiatkan kepada anak cucu. Urutan siapa ayah-ibu berikut saudara kandung seayah-seibunya sudah pasti wajib diketahui. Mereka adalah para pakdhe-budhe dan paklik-bulik kami. Selanjutnya urutan ke samping dari ayah-ibu yaitu para sepupu ayah-ibu. Tak lain di jalur ini kamipun diajarkan untuk menyebutnya deretan pakdhe-budhe, juga paklik-bulik.

Satu tingkat ke atas adalah tingkatan ayah-ibu dari ayah-dan ibu kami. Pertama yang sudah pasti ya kakek-nenek kandung kami sendiri. Kemudian urut ke samping, mereka adalah para pakdhe-budhe ataupun paklik-bulik dari ayah ibu kami. Kami sebagai generasi cucu juga memanggilnya sebagai kakek-nenek. Demikian seterusnya ke atas, lurus ke mbah buyut atau kakek-nenek buyut. Urutan terus ke atas selanjutnya adalah mbah canggah, wareng, udheg-udheg, gantung siwur, gropak senthe, debog bosok, galih asem, gropak waton, cendheng, giyeng, cumpleng, ampleng, menyanan, menya-menya, hingga tumerah. Tentu pada umumnya silsilah yang dikenalkan kepada tidak lengkap 18 trah tersebut. Hal tersebut dapat dimaklumi karena tidak semua kebanyakan trah keluarga awam menuliskan atau mencatat trah silsilah dari generasi ke generasi.

Kembali ke soal ziarah leluhur, pada generasu kami setidaknya hingga tingkat para almarhum dan almarhumah mbah buyut, mbah canggah pada umumnya masih gamblang dan jelas di mana kubur atau makamnya. Dua atau sehari jelang Idul Fitri, seolah telah menjadi garis tradisi dan kebiasaan di banyak keluarga adalah ziarah ke makam leluhur. Sudah pasti ziarajh kubur tidak dibatasa waktunya semata menjelang Lebaran. Di daerah pedesaan sebagaimana kampung halaman kami masih banyak orang yang berziarah seminggu sekali, biasanya di hari Kamis sore. Setahun sekali untuk trah makam satu dusun biasanya juga ada acara sadranan yang biasa digelar beberaa hari menjelang Ramadhan. Nah bagi para perantau jauh seperti kami tentu sangat tanggung untuk mudik di saat nyadran. Maka kebanyakan dari para perantau mensekaliguskan agenda mudiknya dengan ziarah kubur para leluhur.

Bagi kami, ada setidaknya tiga makam para leluhur garis langsung yang kami ziarahi. Kebetulan orang tua kami tinggal satu dusun dengan kakek-nenek dari ayah kami. Maka di makam dusun kami, kami berziarah kepada simbah kakung simbah putri dan beberapa saudara-saudarinya, kepada mbah buyut, termasuk mbah canggah. Sudah pasti makam Bapak dan adiknya yang terlebih dulu dipanggilNya.

Makam ke dua yang kami ziarahi adalah satu makam di Dusun Mangunan. Mangunan merupakan dusun kelahiran ibu kami. Di makam tersebut terdapat makam biyung tuwo (nenek dari garis ibuk), beberapa saudaranya, mbah buyut Mangun dan kaum kerabatnya. Kebetulan Mbah Mangun tersebut merupakan cikal bakal Dusun Mangunan. Dengan demikian hampir sebagian besar warga dusun tersebut sudah pasti sangat dekat hubungan kekerabatannya dengan kami.

Makam ke tiga adalah makam di Dusun Karanglo. Karanglo merupakan asal sekaligus tempat tinggal Mbah Kakung (ayah dari ibuk). Hanya berselang beberapa hari saya lahir, Mbah Kakung meninggal. Untuk ukuran usia, Mbah Kakung meninggal pada usia paruh baya. Sepeninggal Mbah Kakung, Biyung Tuwo kemudian kembali ke dusun kelahirannya dan kembali tinggal dengan Mbah Buyut Mangun. Biyung Tuwo sendiri baru meninggal empat tahun lalu. Demikian kenapa kemudian makam keduanya terpisah pada lokasi makam.

Di samping ketiga makam utama tersebut, kamipun juga berziarah ke makam beberapa kerabat dari pihak istri. Ada makam almarhum Bapak mertua, paklik dan bulik. Tentu juga ke makam kakek-nenek dan para simbah buyut mbah canggah.

Ziarah bagi kami, sebagaimana diwulang wuruk oleh oleh para mbah kyai, tentu bertujuan dua hal. Bagi kami pribadi, ziarah kubur, mengunjungi makam, untuk mengingatkan akan kematian, alam barzah, dan kehidupan kelak di alam akhirat. Di samping itu sudah pasti dalam momentum ziarah kami juga memanjatkan doa pengampunan bagi almarhum/almarhumah agar dosa mereka diampuni, amal baik mereka diterima, dan tentunya mereka diberikan kemuliaan hingga kelak di alam keabadian. Dengan mengajak anak-anak dan keponakan, kami juga berharap semua anak cucu senantiasa mengenang para leluhur, meneladani segala amal baiknya, dan memahami darimana asal-usul kami.

Adalah sebuah kelaziman ketika kami mengunjungi makam para leluhur, tak lupa kami membersihkan area pusara mereka. Rumput-rumput liar yang tumbuh kami bersihkan. Dedauan yang mungkin berserakan disekitarnya juga kami sapu. Tindakan bebersih rumput inilah yang diistilahkan besrik. Dari istilah ini kadang kata besrik juga digunakan untuk menggantikan sebutan ziarah kubur.

Ngisor Blimbing, 22 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s