Andai Tetap Mudik (2)


MEMET ALIAS MEMANEN IKAN

Rumah kami di kampung halaman memang berada di lingkungan pedesaan. Secara kebetulan pula rumah tersebut berada di sudut dusun yang dibatasi dua batang anak sungai yang bertemu di pojok pekarangan belakang rumah. Kebun dan pekarangan di samping dan belakang rumah masih cukup luas. Di samping masih menyisakan beberapa rumpun bambu betung dan apus, tepat di tepian kali orang tua kami juga memiliki sepetak empang atau kolam ikan.

Kolam ikan yang kami miliki sebenarnya hanyalah sekedar kolam ikan kelangenan keluarga, terutama almarhum Bapak. Disebut kolam ikan kelangenan karena memang ikan yang kami pelihara lebih sebagai hiburan atau hobi, dan bukan dipelihara untuk dipanen rutin ataupun dijual hasilnya. Ikan di kolam kami khusus dipanen untuk menyambut Idul Fitri. Hal ini seolah menjadi tradisi unik di keluarga kami maupun pada keluarga lain tetangga kami yang juga memiliki kolam ikan.

Dulu sewaktu saya belum merantau dan masih tinggal bersama orang tua, kolam keluarga kami diisi dengan ikan braskap (nama sebenarnya gresscup) ataupun tawes. Ikan braskap sendiri sangat cepat besar dalam pemeliharaan karena sesuai namanya ia sangat lahap dengan pakan rumput hijau. Ikan bagaikan hewan kambing air. Karena lahap makan rumput, braskap berumur tiga bulan sudah bisa mencapai ukuran telapak tangan anak-anak. Jika masa pelihara lebih dari usia 10 bulan, ikan braskap siap dipanen dengan ukuran sepaha orang dewasa dengan berat rerata bisa mencapai 4-5 kg per ekornya.

Setelah saya tidak lagi rumah, almarhum Bapak lebih senang memelihara ikan bawal dan lele. Kedua jenis ikan tersebut relatif tidak memerlukan pakan sebanyak jenis ikan braskap. Cukup daun singkong, keladi, ataupun jipang yang juga ditanam di sekitar pekarangan. Jadinya kebutuhan pakan tidak perlu ngarit rumput secara khusus.

Meskipun ikan konsumi utama yang dipelihara tidak sama lagi, namun satu yang tidak berubah bagi hobi dan kelangenan Bapak. Ikan gurameh alias ikan grameh! Ikan gurameh benar-benar kelangenan dan sama sekali tidak untuk dipanen dan dikonsumsi. Ikan grameh bagi Bapak bisa disamakan sebagai perkutut air-nya yang sungguh disayang-sayang. Tiap hari tidak lupa secara khusus Bapak menyediakan pakan khusus untuk ikan kelangenannya, berupa potongan pelepah daun keladi atau yang kami kenal sebagai lompong. Sebagai ikan kelangenan, jumlah grameh yang dipeliharakan terbatas jumlahnya. Hanya tiga ekor! Tidak lebih, tidak kurang. Entah kenapa demikian, saya tidak tahu pasti dan Bapakpun tidak pernah menjelaskan kenapanya.

Akhir Ramadhan jelang Idul Fitri, salah satu pengharapan terbesar bagi Bapak agar saya sekeluarga mudik setiap sangat berkaitan dengan kolam dan ikan-ikan yang dipelihara tersebut. Sebagai satu-satunya anak lelaki dalam keluarga kami, saya selalu menjadi patner Bapak untuk memet alias memanen ikan di kolam kami. Saat istimewa memet selalu kami lakukan dua atau satu hari menjelang akhir Ramadhan. Kalau sampai tiga-dua hari jelang Lebaran saya belum tiba, mruput pagi-pagi biasanya Bapak menelpon saya dan menanyakan sudah dimana, kapan sampai di rumah, kapan memet ikannya. Ia seolah menginginkan saya secepatnya sampai di rumah.

Ikan di kolam keluarga yang dipelihara rutin dan tekun oleh Bapak sangat jelas bukan sekedar untuk kesenangan dan kelangengan di masa tuanya. Lebih daripada itu, ikan di kolam kami seolah ingin dijadikan oleh Bapak sebagai bentuk tali asih kepada anak-anak, menantu-menantu dan para cucu. Bagaimanapun tidak dapat dipungkiri terbersit sangat jelas niat dan itikat Bapak untuk menjamu semua anggota keluarga dengan lawuh atau lauk ikan di hari fitri yang suci. Tidak mengherankan jika Bapak sangat ngeman, sangat istikomah untuk tidak memanen ikan di hari-hari yang lain.

Akhir Ramadhan jelang Idul Fiitri tahun lalu kami sama sekali tidak mendapatkan firasat bahwasanya memet ikan tersebut menjadi memet ikan terakhir yang disaksikan Bapak. Memang beberapa tahun ke belakang dikarenakan kondisi fisik tubuh yang tidak memungkinkan lagi, tentu Bapak tidak pernah lagi turut nyemplung ke dalam kolam. Biasanya Bapak yang menyaksikan kami memet sambil duduk di atas tebing sambil berteduh di bawah rumpun pohon salak pondoh. Sebagai ganti, saya sudah bisa ngajari si Ponang untuk turut nyebur memegang jaring.

Ada satu kejadian yang membuat kami semua tertawa dengan penuh rasa khawatir di saat memet ikan tahun lalu itu. Tatkala saya dan si sulung menjaring ikan, tiba-tiba saja salah seekor ikan grameh kesayangan Bapak  melompat tinggi ke udara. Ketika ikan selebar setengah bantal tersebut akan kembali mencebur ke air ujung moncongnya sempat nyrempet pipi sisi kanan anak saya. Tentu saja lelaki Bapak yang masih kelas lima SD tersebut meringis penuh kesakitan. Untung rasa sakitnya tidak parah, sehingga kegiatan memet dapat diteruskan. Antara khawatir dan lucu, mBah Kakung sempat tertawa ringan.

Di tahun lalu, tiga ekor ikan grameh kesayangan Bapak memang sudah besar. Namun sebuah pantangan yang selalu kami patuhi dan tidak berani untuk dilanggar adalah agar kami tidak menganggu gugat grameh tersebut. Dengan kata lain, meskipun sudah besar dan sangat layak konsumsi, kami dilarang keras bahkan dipantang untuk menangkapnya.

Sayang sungguh sayang seribu sayang, sepekan selepas Lebaran ketika di pagi hari kami masih sempat menengok kolam salah seekor grameh kesangan Bapak terkapar di tepian kolam yang rupanya surut airnya. Karena mungkin sudah lebih dari semalaman dan tidak konangan, bau busuk sudah tersebar bahkan kerumunan lalat sudah mulai menyerbu ikan yang sudah menjadi almarhum tersebut. Sayapun kemudian segera memberitahu Bapak. Dengan tergopoh dan tergesa, Bapak segera menuju kolam. Sesaat melihat salah seekor ikan grameh kesayangannya tewas terkapar, terkesan matanya sedikit berkaca. Ada rasa duka yang sudah pasti tersirat. Dengan penuh khitmad sayapun menguburkan ikan tersebut di bawah salah satu rumpun pohon salak pondoh yang ditunjuk Bapak.

Saya turut larut dalam suasana duka yang dirasa Bapak. Saya hanya bisa mbatin, ikan sudah sebesar itu kalau harus memelihara lagi dari bibit kecil berapa tahun harus menunggu. Di saat kepergian Bapak setengah tahun lalu saya sungguh langsung kepikiran ikan grameh itu. Saya menganggap kepergian ikan grameh kelangenan Bapak semacam isyarat halus bahwa Bapak tidak lagi ngopeni ikan-ikan gramehnya. Ampuni Bapak ya Allah. Ampuni kula ya Allah.

Ngisor Blimbing, 21 Mei 2020

 

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s