Lebaran Rasa Corona: Andai Tetap Mudik (1)


RERESIK BIN BEBERSIH RUMAH PUSAKA

Mudik terpaksa ditunda gegara corona. Sejatinya rasa kangen kampung halaman, rasa rindu ayah-ibu, rasa ingin bertemu itu sungguh nyata. Hari-hari penghujung Ramadhan seperti ini belum pernah sekalipun tidak ditakhirkan di kampung halaman. Merantau lebih dari 17 tahun belum pernah sekalipun berlebaran di tanah rantau. Mudik setiap lebaran telah menjadi sebuah keharusan. Desa tercinta senantiasa memanggil untuk berpulan saat Idul Fitri.

Mudik bukan saja keingin kami di rantau semata. Ayah-ibu, kakek-nenek, pakdhe-mbokdhe, paklik-bulik, juga sanak kerabat lain pasti berharap dapat berjumpa di hari raya. Bukan hanya soal perjumpaan itu semata, mudik juga merupakan rangkaian agenda untuk melakukan banyak hal terkait rumah pusaka kami. Rumah dimana kami lahir dan dibesarkan, rumah dimana kami berangkat dan senantiasa menjadi tempat kembali. Rumah istana bagi jiwa-jiwa kami dan kakak-adik yang sebagian diantaranya sudah tidak lagi tinggal bersama oran tua.

Rumah pusaka memang masi ditinggali hingga kini. Adalah almarum Bapak yang senantiasa tanpa terucap memancarkan harap kepada anak-cucunya untuk pulang berlebaran agak lebih panjang. Khusus di hari-hari penghujung Ramadhan seperti saat ini, adalah saat bagi keluarga kami untuk gugur gunung bebenah rumah. Memang rumah dirawat dan dipelihara sehari-harinya, namun antusiasme kegembiaraan menyambut Idul Fitri memberikan energi istimewa bagi keluarga kami untuk total bebersih dan bebenah rumah. Tak heran karena saya satu-satunya anak lelaki, Bapak senantiasa berharap saya mudik agak lebih awal.

Bebenah atau bebersih rumah bersama Bapak adalah sebuah kegembiraan tersendiri yang sungguh istimewa. Mengecat ulang beberapa sudut dinding, mengelap kaca jendela berikut teralis maupun kusen-kusennya kami lakukan setengah harian. Bebersih halaman, memangkas dan merapikan tanaman di halaman dan pekarangan juga tidak ketinggalan kami lakukan. Demikian halnya dengan mencuci, menjemur, mengelap perabot mebeler seperti meja, kursi, bahkan buffet dan lemari. Kesibukan rutin tahunan tersebut seolah menjadi pancaran kegembiraan bersama dalam menyambut lebaran.

Tahun kemarin rupanya menjadi momentum terakhir kebersamaan kami dengan Bapak dalam bebenah dan bebersih rumah menjelang lebaran. Meski dengan sisa tenaga yang semakin renta, kala itu sangat terlihat semangat dan kesumringahan Bapak saat mengecat dinding samping rumah dibantu para bocah cucu-cucu tercinta. Bahkan ketika para cucu tersebut dengan sangat iseng justru mencorang-coreng tulisan di kloning depan rumah yang semestinya tidak dilakukan dan memberikan kesan vandalisme, justru Mbah Kakung kami nampak senang penuh senyum. Ia memang sangat menyayangi para cucunya.

Kini di hari-hari dimana kami biasa menjalankan kebiasan bebersih dan bebenah rumah sebagaimana tahun-tahun yang lalu justru kami tidak berdaya untuk dapat mudik gegara corona. Lebih terasa pedih lagi ketika tahun ini menjadi tahuan pertama lebaran kami tidak lagi bisa bersama Mbah Kakung kami. Meskipun kami bersaudara kami sepakat untuk tidak mudik tahun ini demi kebaikan bersama, namun saya senantiasa terbayang siapa yang membantu ibu kami untuk bebenah rumah. Tentu hanya doa semoga corona segera berlalu, dan di saat yang tepat kami bisa menengok rumah pusaka kami. Semoga.

Ngisor Blimbing, 20 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s