Indonesia Terserah


Duh alahiyung. Ampun Gusti! Lelakon apa ini, corona belum reda melanda masyarakat justru semakin abai terhadap protokol kesehatan. Memang seribu satu alasan yang ketemu nalar bisa dimaklumi sebagai argumentasi. Namun segala arumentasi tersebut seharusnya kalah prioritas dibandingkan keselamatan nyama, keselamatan jiwa dan raga manusia. Tanpa kecuali, tanpa kompromi!

Saat-saat awal corona tidak terelakkan lagi, kita taat untuk tetap di ruma ajah. Stay at home. Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga lebih dari dua bulan ini kita sami’na wa atho’na dengan anjuran para pemimpin. Bekerja dari rumah, belajar di rumah, juga beribadahpun juga di rumah ajah. Meski demikian tidak dipungkiri tetap ada saudara-saudara kita yang tidak bisa tetap di ruma ajah. Mungkin karena tugas atau pekerjaan. Mungkin juga karena desakan kebutuhan. Saya tetap berprasangka baik, hanya segelintir yang karena cuek dan tidak mau tahu dengan corona.

Seiring dengan itu, masyarakat sesungguhnya terus berharap terhadap jurus-jurus penanganan corona yang cespleng dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Sayangnya harapan tinggal harapan. Hari demi hari, terkhusus di tingkat pemerintah pusat, justru terdapat banyak kebijakan yang berubah-ubah, kebijakan plin-plan yang seolah esok dele sore tempe. Kementerian Kesehatan mengatur A, Kementerian Perhubungan mengatur B, Kementerian Industri mengatur lain, Kementerian Tenaga kerja lain lagi. Publik justru semakin ditunjukkan dengan ketidakprofesionalan, miskoordinasi, kebijakan dangkal dari Presiden dan jajarannya. Terakhir dengan wacana berdamai dengan corona, juga relaksasi operasional transportasi umum. Repotnya lagi jajaran pemerintah kurang ciamik mengemas komunikasi kepada publik.

Wacana berdamai dengan corona oleh pemerintah justru seolah dibaca oleh publik sebagai langkah menyerah kepada wabah. Hal ini tidak mengherankan, karena beberapa minggu sebelumnya Presiden lantang meneriakkan perang kepada corona. Terlebih pidato tersebut juga diungkapkan saat konferensi G20 secara virtual. Kemarin perang kok sekarang damai, lho keripun coba?

Pengaktifan kembali operasionalisasi transportasi umum juga tidak dibahasakan bagus oleh pemerintah pusat kepada publik. Angkutan publik diperkenankan, bahkan “disuruh” beroperasi, namun mudik tetap dilarang. Lha kalau seperti angkutan bus antar kota atau bus malam njuk siapa penumpangnya. Untuk urusan yang satu ini, kita menyaksikan dengan mata telanjang betapa para penumpang pesawat sempat memadati bandara bahkan protokol kesehatan terabaikan. Ada pemandangan ketidakadilan terpampang. Ada rasa keadilan yang terperdayai.

Polemik lockdown vs PSBB, mudik vs pulang kampung, perang vs damai dengan virus, pengetatan vs relaksasi, ah seabrek lagi sikap mencla-mencle yang ditunjukkan pemerintah pusat justru membingungkan publik. Hari-hari ini di saat Ramadhan akan berakhir dan Lebaran jelang di depan mata, relaksasi itu dipandang sebagai celah. Akhirnya kendorlah disiplin publik. Hampir dua bulan di rumah ajah tentu menjadi sebuah kebosanan. Kebutuhan yang mendesak, Lebaran yang sudah di depan mata menjadi penanda penanganan corona yang semakin ambyar, bubar jalan. Semakin nampak pembiaran-pembiaran. Semakin nyata arah kebijakan pemerintah untuk menuju herd immunity.

Yang paling mengenaskan dan menanggung beban yang semakin berat dengan kondisi yang semakin karut-marut ini adalah saudara-saudara tenaga kesehatan, ya para dokter, para perawat dan segenap pendukungnya. Dari hari ke hari rapid test yang dilakukan semakin mengakumulasikan jumlah hasil reaktif yang semakin banyak. Seiring dengan itu kasus positif terkonfirmasi test swab atau PCR juga meningkat. Dengan relaksasi yang kemudian memicu kumpulan-kumpulan massa yang semakin tidak terkendali bukan tidak mungkin akan memuncak sebagai ledakan kasus corona yang semakin menggunung, semakin susah untuk dikendalikan dan ditangani.

Dengan kebijakan pemerintah yang mencla-menlce, tidak jelas dan berubah-ubah, dengan sikap publik yang semakin tidak mau tahu dengan aturan. sikap masyarakat yang semakin nekad dan abai dengan protokol kesehatan, ledakan itu hanya soal waktu dan pasti akan terjadi. Dalam kondisi demikian tidak berlebihan jika kemudian beberapa kalangan nakes kita menggaungkan sikat Indonesia Terserah. Mau lockdown, terserah. Mau PSBB, terserah. Mau kumpul-kumpul, terserah. Mau mudik atau ulang kampung, terserah. Mau nambah terus pasien corona, terserah. Ah, sayapun kok juga semakin merasa lelah. Sudahlah.

Ngisor Blimbing, 18 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s