Lamunan Mudik Lebaran Kampung Halaman


Semenjak usia bocah, sesuatu yang paling menggembirakan dan selalu ditunggu itu bernama Lebaran. Kami lebih akrab menyebut bakda (bada) atau riaya untuk Hari Raya Idul Fitri. Idul Fitri hari suci. Hari istimewa selepas selama sebulan penuh ummat Islam menjalankan rangkaian iabdah di bulan suci Ramadhan. Ya puasa itu sendiri. Ya tarawihannya, ya tadarusannya, takjilannya, kuliah tujuh menit, kuliah Subuh. Juga zakat fitrahnya tak ketinggalan. Puncaknya sudah pasti malam takbiran dan sholat Ied yang dilanjut tradisi ujung, silatirahmi dengan tetangga kanan-kiri sedusun, juga kerabat sanak saudara.

Bagi kami kaum perantauan, momentum Lebaran adalah momentum istimewa untuk mudi ke kampung halaman. Tidak hanya sekedar tradisi, mudik bahkan telah menjadi semacam ‘ritual wajib’. Bagaimanapun saat untuk berkumpul dengan keluarga besar di tanah kelahiran adalah sebuah anugerah nikmat yang sungguh indah. Tahun ini adalah tahun corona. Gara-gara si corona ini, maka hasrat dan keinginan untuk mudik terpaksa harus ditangguhkan sementara waktu. Virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan menyebar rupanya tidak mengenal libur di masa Lebaran. Bagaimanapun kami harus sadar untuk bersabar demi kesehatan dan kebaikan kita bersama.

Sebenarnya jauh hari sebelum corona melanda, kami tentu sudah ancang-ancang dengan sangat seksama untuk mudik tahun  ini. Kami memang termasuk keluarga yang setiap tahun mudik dengan kendaraan umum. Jauh-jauh hari, tiga bulan jelang Hari-H, kami sudah memesan tiket kereta api. Memang kami bukan keluarga bermobil yang bisa menentukan hari keberangkatan mudik hanya dengan kesepatakan anggota keluarga serumah saja, kami harus lebih njlimet menata rencana. Dua bulan jelang Ramadhan, kami alhamdulillah sudah memegang tiket kereta api tujuan Tawang Semarang.

Corona ternyata membuat semua rencana mudik ambyar. Dengan pertimbangan kasus corona yang semakin tidak menentu tentu kamipun harus urung diri untuk tidak jadi mudik. Ya itu tadi, semua demi kebaikan bersama. Sementara tidak mudik, sementara bertahan di rumah, mengurangi aktivitas di luar rumah demi harapan agar corona segera enyah.

Bagi orang dewasa, menunda mudik dalam situasi saat ini mungkin jauh lebih bisa dipahami secara nalar. Ternyata tidak serta-merta demikian untuk anak-anak tercinta. Dengan penjelasan yang panjang lebar dari orang dewasa, mungkin mereka manggut-manggut. Namun jika sudah menyangkut romantika alam pikiran anak-anak tentang mudik yang asyik siapa daya hendak melarangnya.

Hari ini semestinya kami terjadwal untuk naik sepur dari Stasiun Gambir. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kami biasa start naik kereta pagi menuju Tawang Semarang. Semenjak uthuk-uthuk selesai sahur, si Ponang dan si Noni langsung ndremining, “Mandi-mandi! Siap-siap, mangkat stasiun Ojo nganti ketinggalan sepur lho!” Biasa jadi ungkapan tersebut menjadi simbol kepedihan hati mereka yang harus tidak mudik kali ini. Mereka menyindir situasi, kenapa hal ini terjadi. Sudah sangat lama menanti hari-hari bahagia, eee…..lha kok terpaksanya harus ditunda dulu.

Tidak hanya terhenti di pagi hari. Hampir setiap jam, terutama si Sulung kumat ndreminingnya itu. Yang ungkapan, wah jam segini harusnya sudah santai di dalam gerbong kereta ketika matahari sepenggalah. Mestinya sekarang sudah turun di Tawang Semarang selepas tengah siang. Yah, harusnya nanti sore sudah main di kali. Yah sore nanti pasti ngabuburit di alun-alun dech. Demikian tidak habis-habisnya si bocah berandai-andai, berangan-angan, membayang-bayangkan keinginan saat ini dengan bayang-bayang mudik di tahun-tahun yang silam. Ah, saya sendiri juga jadi turut larut dalam romantikan mudik ala para bocah itu.

Ya wislah Le, Nduk! Nyebar godhong kara, sabar sakwetara! Sementara tida mudik nggak papa. Sementara tidak berlebaran di Kronggahan nggak papa. Sementara nggak ngumpulin angpao ya nggak bayaran ya? Moga corona segera sirna dan kita bisa pulang kampung nengok mbah uti, nengok uti, ketemu pakdhe-budhe, silaturahmi ke simbah-simbah yang lain.

Ngisor Blimbing, 16 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Lamunan Mudik Lebaran Kampung Halaman

  1. mysukmana berkata:

    semangat mas, semoga corona cepat berlalu..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s