Kidung Tarawihan Ramadhan


Anyekseni ingsung saktuhune mboten wonten Pangerang, ingkang sinembah, kelawan sakbenere ing ndalem ujude, aning Allah.

Anyekseni ingsung saktuhune, Kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Allah.

Kawulane Allah kang rama Raden Abdullah, kang ibu Dewi Aminah, ingkang dzahir wonten Mekah, jumeneng rasul wonten Mekah.

Pindah ning Medina, gerah ning Medinah, seda ning Medinah, sinareaken ning Medinah. Bangsane bangsa Arab, bangsa rasul, bangsa Quraisy.

Monggo lurr……. Kidung Tarawihan Ramadhan

Desa mawa cara, negara mawa tata. Suatu desa memiliki adat tradisi dan tata cara sendiri, demikian halnya sebuah negara memiliki kedaulatan tata aturannya masing-masing. Ibarat pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Demikianlah sebuah keniscayaan perputaran roda jaman. Termasuk tradisi yang menyertai pelaksanaan tarawihan pada setiap bulan Ramadhan.

Sebagaimana kidung atau tembang sholawatan di atas. Kalimat-kalimat kidung tersebut di bebearapa desa di wilayah Jawa sering dikumandangkan secara bersama-sama oleh jamaah sholat tarawih seusai sholat tarawih ditunaikan.

Terlepas entah sejak kapan kekidungan tersebut ada, siapa yang menciptakan, mengawali, dan selanjutnya menyebarluaskannya tentu tidak tercatat secara pasti dalam lembar kitab sejarah. Bisa jadi kekidungan tersebut warisan dari para Walisongo. Bisa pula merupakan kreasi dari para wasis dan pujangga di masa silam. Narasi seperti ini nampaknya tidak dianggap terlalu penting bagi sebagian masyarakat islam pribumi. Nampaknya jauh lebih utama dan lebih penting justru menyelami serta mendalami makna pada syair-syair kidung untuk mengambil hikmah bagi perjalanan hidup kita.

Kidung di atas merupakan sikap peneguhan kembali seorang hamba muslim tentang janji, tentang kesaksian, tentang komitmen tauhidnya. Dua kalimat syahadat ingin ditegaskan kembali. Bahwa tiada Tuhan yang sejatinya layak untuk disembah, kecuali Allah. Bahwa Kanjeng Nabi Muhammad adalah utusan dan rasul Allah.

Di samping itu, ummat Islam sudah semestinya juga selalu mengenangkan pangkal ujung hidup Nabi Muhammad. Nabi Muhammad si hamba Allah yang berayah Abdullah. Nabi Muhammad yang beribu Aminah. Nabi Muhammad yang terlahir di kota Mekah. Nabi Muhammad yang diangkat dan diutus sebagai nabi rasul di Mekah. Nabi Muhammad yang selanjutnya hijrah ke kota Medinah. Nabi Muhammad yang kemudian sakit dan wafat di Madinah. Nabi Muhammad yang dimakamkan di Madinah. Dialah putra bangsa Arab, putra bangsa rasul, putra bangsa Quraisy yang termashur.

Ngisor Blimbing, 21 Ramadhan 1441 H

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s