Sholat Ashar Nan Misterius


Hari itu demikian indah. Cerah namun tidak terik. Sinar mentari seolah terpayungi oleh gugusan mega mendung, namun tidak ada tanda-tanda akan hujan. Angin sepoi berhembus lembut memberikan kesejukan. Waktu saat itu sebenarnya peralihan siang menjelang sore. Kira-kira tepat saat jelang waktu Ashar. Namun waktu yang demikian di saat bulan puasa merupakan waktu yang demikian hikmat jika dinikmati dengan sepenuh hati. Sepenggal waktu yang penuh ketentraman dan kedamaian.

Berdua dengan si Ponang, kami tengah berkendara motor menyusur sebuah jalanan. Jalan tersebut beralas aspal yang halus, mulus, dan sungguh terpelihara. Sedikit berkelok, sedikit pula naik turun. Sebuah lintasan sirkuit yang memanjakan siapapun yang tengah berkendara melintasinya.

Keelokan suasana bertambah nuansa romantika dengan hamparan sawah menghijau yang terhampar. Sepanjang mata memandang berpetak-petak sawah berjajar dengan sungguh rapi. Dominasi tanaman padi menarikan irama serempat oleh iringan hembusan angin yang turun dari bukit ke tepian lembah. Gerak kanan-kiri yang sungguh serempak memberikan lukisan bak permadani yang luas terhampar. Tetanaman yang tumbuh subur pada persawahan tersebut mengisyaratkan sungguh giat kerja para petani. Merekalah sejatinya pahlawan negeri.

Nun di batas pandang cakrawala, tetiba terlintas sebuah pucuk kubah sebuah masjid. Tak selang berapa lama, banguan masjid segera terbentuk sempurna. Sebuah masjid dengan induk bangunan beratap tumpang tiga. Meski jauh lebih sederhana namun arsitektur bangunan masjid tersebut jelas mirip Masjid Agung Demak maupun Masjid Gede di Yogyakarta. Sejenak tentu saja gambaran masjid tersebut membawa ingatan sejarah tentang para Kanjeng Sunan Walisongo yang termasyur.

Belum selesai kemunculan kenangan tentang wajah-wajah lembut para wali, terkumandang lantunan adzan dari masjid yang semakin dekat tersebut. Rupanya waktu Ashar memang telah tiba. Lantunan adzan yang lembut mendayu menghadirkan nuansa kekhusukan yang spontan menyejukkan hati. Sedetik berselang terbersitlah niat untuk memenuhi panggilan tersebut. Ya, kami akan singgah dan turut berjamaah di masjid tersebut.

Ketika kami semakin dekat, adzan telah terhenti. Tak lama berselang terdengar suara seseorang menyampaikan pengumuman. Suaranya pelan, mantap, demikian jelas. Ada kewibaaan tersendiri saat pengumuman tersebut disampaikan dengan bahasa Jawa krama inggil yang sungguh halus dan sangat estetik. Tentu saja hal demikian masih mafhum terpraktekkan di lingkungan pedesaan meski mungkin hanya generasi tetua yang menguasainya.

Tidak lengkap kami menangkap ungkapan pengumuman yang disampaikan. Inti yang kami tangkap dari pengumuman tersebut berkenaan dengan protokol dan panduan sholat berjamaah di tengah pandemi corona yang melanda. Kami tersadar, rupanya corona belum reda hingga sedikit menimbulkan sedikit keraguan apakah kami akan tetap turut singgah dan berjamaah di masjid dusun tersebut.

Singkat kisah, kamipun memasuki pelataran masjid melalui sebuah gerbang berbentuk gapura bentar sederhana. Sebuah pelataran luas yang sekaligus difungsikan untuk parkir kendaraan.  Antara pelataran utama masjid dengan bangunan induk masjid terpisah oleh pagar tembok yang melingkar. Selepas memarkir kendaraan, kami memasuki gerbang ke dua.

Sungguh sebuah keanehan terjadi. Selepas melintasi gerbang gapura ke dua, bukannya langsung menjumpai bangunan utama masjid namun kami justru langsung berada di tengah rumpun tanaman singkong. Kami justru terhantar ke sisi belakang masjid yang sedemikian rimbun dengan tanaman singkong. Selintas di batas ujung depan kebun nampak sebuah tembok yang di belakangnya mengisyaratkan bangunan masjid. Namun ketika lintasan lorong yang membelah kebun singkong tersebut kami lintasi dan sesaat kami tiba di penghujungnya, ternyata lorong tersebut buntu. Kamipun balik kanan. Tatkala kami mencoba melintas melalui ruas lorong yang lain hasilnya sama, kami mentok ke tembok. Berkali-kali hal ini terjadi.

Tatkala akhirnya kami melintasi lorong terakhir kami menjumpai sebuah gerbang bentar yang lain. Bukan memasuki induk bangunan masjid, gerbang tersebut justru mengantarkan kami ke halaman belakang deretan rumah-rumah penduduk dusun. Ketika untuk selanjutnya kami susuri lintasan yang ada, kami tidak menemukan jalan yang menuju halaman depan rumah-rumah tersebut. Hingga akhirnya pada sebuah sisi tengah kolam ikan ada bangunan beratap memanjang di atas kolam yang berfungsi sebagai saluran air kami nekat melintasinya. Ternyata ada seseorang di sisi rumah tersebut.

Kamipun mengucap salam kepada orangg tersebut. Ia, seorang bapak setengah tua sejenak gupuh dan ramah menyambut kami. Beliaupun menunjukkan ke arah suatu tempat untuk kami berwudlu. Pada sebuah padasan yang memancarkan air dengan sungguh deras kamipun bersuci.

Sejurus kemudian, kami dihantarkannya memasuki rumah induk. Dari pintu samping kami dibawa di longkangan di sisi tengah rumah yang cukup besar tersebut. Ada beberapa orang di longkangan itu yang ramah menyapa kami. Si Bapak kemudian memberikan beberapa lembar sajadah. Kebetulan bersama dengan kami ada pula beberapa musafir lain yang ingin turut jamaah Ashar. Pada sebuah ruang kosong di sisi halaman tengah rumah itu akhirnya kami menunaikan sholat. Herannya, pada saat kami sholat justru para penghuni rumah dan beberapa orang yang lain justru mengerubungi kami. Sungguh terasa sangat ganjil, namun kami tetap sholat. Keanehan tersebut tidak menyurutkan sholat kami.

Di saat kami mengucapkan salam di akhir sembahyang, secara tiba-tiba semuanya buyar. Bapak itu, orang-orang itu, rumah besar itu, sajadah kami, masjid yang kami tuju, semuanya lenyap. Semuanya hilang. Segalanya ambyar dan sejenak kemudian kami terbangun dari tidur. Lamat-lamat di mushola ujung kampung suara adzan tengah berkumandang. Rupanya semua cerita di atas hanya mimpi, namun yang pasti waktu Ashar benar-benar telah masuk. Subhanallah.

Ngisor Blimbing, 20 Ramadhan 1441 H

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s