Mengenal Tumbuhan


Belajar di rumah ajah, belajar dimanah ajah #Seri02

Salam saudara. Gimana? Corona masih melanda ya? Masih di rumah ajah to? Memang kondisi belum memungkinkan kita untuk beraktivitas normal seperti biasanya. Protokol penanganan Covid-19 tentu harus kita taati bersama. Tetap tinggal di rumah. Sering-sering cuci tangan dengan sabun pada air mengalir. Kenakan masker jika terpaksa bepergian ke luar rumah.

Gimana anak-anak belajar? Bagaimana kegiatan belajar di rumah ajahnya? Hampir dua bulan tidak belajar di sekolah tentu menimbulkan sedikit atau banyak kebosenan putra-putri kita. Sekali-kali mungkin ayah-bunda bisa meluangkan waktu untuk mengajak anak-anak belajar di lingkungan sekitar rumah. Aktitivitas di luar rumah, namun masih di sekitar lingkungan tempat tinggal tentu masih dapat dilakukan.

Pada tulisan postingan beberapa waktu lalu, pernah menuliskan pembelajaran kami bersama anak-anak untuk mengenalkan makhuk Tuhan yang bernama virus. Dimulai dari menjelaskan Tuhan sebagai sang khalik, Maha Pencipta. Selanjutnya prolog ke virus diawali dengan memperkenalkan makhluk, ada makhluk hidup dan ada pula makhluk mati. Pada titik pertengahan antara makhluk mati dan makhluk hidup inilah kita perkenalkan makhluk peralihan bernama virus. Tentu ada banyak informasi terkait virus corona yang kemudian dapat secara panjang lebar dikenalkan kepada anak-anak.

Di saat memperkenalkan makhluk hidup, pemaparan merambah keberadaan makhluk bersel satu hingga bersel banyak atau majemuk. Tak lupa disinggung pula tentang tumbuhan, kemudian manusia. Nah, tibalah dalam kesempatan kali ini kita dapat melanjutkan pembelajaran bersama anak-anak untuk sedikit-banyak mengenal lebih jauh tentang tumbuhan.

Pada suatu pagi yang cerah, kami dan anak-anak sengaja berolah raga sepeda. Di suatu tepian jalan kami beristirahat pada sebuah bangku di pinggir trotoar. Keberadaan bangku yang berada di bawah sebuah pohon munggur menjadikan tempat duduk tersebut terasa sejuk. Suasana terasa lebih syahdu oleh iringan kicau burung yang begitu meriah menyambut mentari pagi yang cerah. Dunia sedemikian cerah di pagi itu, meskipun di tengah misteri virus corona yang menyebar suasana tersebut memberikan rasa ketentraman dan optimimisme tersendiri bahwa pandemi ini pada akhirnya akan segera berlalu.

Ketika sedang duduk menikmati istirahat, pandangan kami menebar ke beberapa sudut. Ada sebuah saluran air yang kebetulan kering tak berair. DI samping rerumputan liar, pandangan kami menangkan beberapa tetumbuhan kecil. Ada lumut-lumut lembut menempeh di beberapa batuan, pokok pohon, juga dinding-dinding. Ada tanaman sirih yang merambat pada pagar pembatas hunian yang terbuat dari besi. Ada pohon palem, ada pohon mangga, jambu, juga beberapa semak perdu di beberapa sudut agak jauh.

Mulailah saya melemparkan pancingan pertanyaan kepada para bocah, “Apa yang kalian lihat menempel pada batu, pada pokok pohon, dan pada dinding itu? Ya, yang berwarna hijau lembut itu?” Menggelindinlah kemudian beberapa seluk-beluk terkait tumbuhan lumut. Tumbuhan adalah tingkat rendah, memiliki akar dan daun semu tetapi tidak memiliki batang pohon. Lumut sering juga disebut sebagai tumbuhan perintis. Ia dapat tumbuh pada media, bisa tanah, pasir, bebatuan, bahkan menempel pada tumbuhan lain. Ia dapat tumbuh di daerah pantai, dataran rendah, hingga puncak gunung. Pada lapisan lumut yang telah mati dan lapuk biasanya akan menjadi media tumbuh bagi jenis tumbuhan yang lain. Inilah makna lumut sebagai tumbuhan perintis. Dari obrolan kami, anak-anak jadi dapat cerita, gambaran, bahkan wujud yang senyatanya dari tumbuhan lumut.

Sejurus setelah bahasan panjang-lebar mengenai lumut, kami mengamati di permukaan tanah ada beberapa gerumbul rumput. DAri beberapa rumput yang diamati, anak-anak bisa menyebutkan bagian-bagiannya. Akar sudah pasti punya. Daun tentu ada. Namun dibandingkan pohon yang bisa tinggi besar, rumput hanya tumbuh di permukaan tanah dan tidak bisa tinggi besar seperti tanaman pohon. Tanaman rumput-rumputan merupakan kelas atau spesies tersendiri serta memiliki ragam jenis dan bentuknya. Si Ponang begitu lancar menjawab bahwa bambu merupakan salah satu jenis rumput yang bisa tinggi-besar pada rumpunnya.

Pengamatan selanjutnya saat kami mencermati rerumputan, ternyata anak-anak menemukan tumbuhan kecil yang masih melekat pada butir biji namun sudah memiliki akar yang menghunjam bumi. Nah, rupanya yang ditemukan tersebut adalah bibit pohon yang masih kecil. Kita selanjutnya ngobrol panjang lebar tentang cara tumbuhan berkembang biak, khususnya menggunakan biji. Bagaimana awal mula biji terbentuk dari proses penyerbukan di dalam bunga. Apa itu buah, dan sleanjutnya biji itu sendiri. Kemudian rangkain cerita bergulir ke jenis tumbuhan biji tunggal (monokotil) dan tumbuhan biji belah (dikotil). Bagaimana ciri masing-masing dan perbedaan diantara kedua jenis tumbuhan itupun dapat langsung dikenalkan kepada anak-anak.

Bahasan selanjutnya kami mengamati pohon munggur yang besar dan tinggi menjulang. Anak-anak dengan gamblang bisa menyebutkan bagian tanaman tersebut. Akar, batang, daun, bahkan apa itu kambium dan fungsinya menjadi bahan diskusi yang menarik. Kebetulan pada beberapa ketiak batang pohon munggur itu menempel beberapa rumpun tanaman paku yang memperkaya pengetahuan anak-anak.

Sejam dua jam jongkok, berdiri, dan duduk di bawah pohon sambil mengamati dan berbincang tetumbuhan di sekitar ternyata mengasyikkan lho. Anak-anak yang selama ini terbatas mengenal tumbuhan dari buku bacaan atau pelajaran dari guru di ruang kelas, pagi itu mereka melakukan pengamatan langsung pada sebuah lingkungan habitat yang meskipun sederhana namun merupakan habitat tumbuhan yang sesungguhnya. Melihat mata anak-anak yang senantiasa berbinar dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, juga ketika mereka manggut-manggut mendengar keterangan, mudah-mudahan mereka paham dan pengalaman pagi itu bisa menambah pengetahuan serta pengalaman yang berguna untuk menunjang belajarnya. Semoga.

Ngisor Blimbing, 10 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s