Ambyar Rasa Corona: Lord Didi Mudik ke HaribanNya


Ah, hari ini 05052020 secara de facto memang telah menjadi Hari Ambyar Nasional. Didi “The Godfather of Broken Heart” Kempot telah berpulang ke haribaanNya. Belum lama dalam konser dari rumah yang digelar dalam menggalang dana untuk solidaritas saudara-saudara terdampak corona, sang maestro demikian menekankan kepada sedulur sebangsa setanah air untuk sementara menunda mudik di tengah pandemi corona yang tengah melanda, rupanya Tuhan berkehendak lain dengan menjemputnya mudik terlebih dahulu. Ya, Mas Didi telah mudik ke alam akherat.

Malam-malam seperti saat menuliskan tulisan ini, dulu sekira 20 tahun silam, suara Mas Didi yang menembangkan lagu-lagu hitsnya setia menemani saya. Melalui sebuah stasiun radio, saya mendengarkan aacara Dikempongi. Dikempongi merupakan sebuah akronim dari Didi Kempot Wayah Bengi. Saya termasuk penggemar setia maestro seniman campursari dari Solo ini dengan lagu-lagu berlirik sentimentil dan sangat menyentuh rasa sepi yang sedemikian indah nan dalam.

Sewu Kutho dan Stasiun Balapan merupakan dua tembang hits yang pertama kali saya kenal. Kala itu akhir tahun 90-an, masa-masa menjelang pergantian melinium yang selanjutnya melahirkan generasi baru, generasi milenial. Kini generasi inilah yang justru telah membangkitkan bahkan melahirkan kembali sosok seniman Didi Kempot. Lagu-lagu bertema patah hati, perasaan kesepian, demikian menyentuh remaja milineal yang tengah galau-galaunya mencari jati diri atau mungkin tambatan hati. Generasi ini seolah menemukanĀ  tambatan hati. Merasa ada lirik lagu-lagu yang menyuarakan jerit hati mereka. Merasa diwakili perasaan, angan, dan juga citanya.

Perasaan kesepian bahkan patah hati akhirnya menjadi miliki bersama generasi milinial penggemar Didi Kempot yang kemudian menjelma menjadi Sobat Ambyar. Perasaan senasib-sepenanggungan yang terwakili lewat syair-syair Mas Didi inilah yang menjadikan perasaan sepi dan patah hati menjadi miliki bersama-sama dan dapat dinikmati bersama-sama. Dengan kebersamaan tersebut setidaknya ada beban hati yang kemudian menjadi terasa lebih ringan, bahkan menjadi plong! Sakit hati tidak harus diratapi dan ditangisi. Melalui lagu-lagu Mas Didi mengajak rasa sakit hati bisa dijogeti, bisa pula untuk bernyanyi.

Sebagai sebuah jejak pertemuan, foto di awal tulisan ini merupakan pertemuan langsung dengan sang Maestro Didik Kempot di Solo sekitar tujuh tahun silam. Sebuah perjumpaan tanpa rencana yang sedemikian dalam memberikan kesan. Sugeng tindak Mas Didi. Mugi tentrem ing kasedan jati……

Ngisor Blimbing, 5 Mei 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s