Alumni Cah De: Sosok D#29


Dulu, tatkala di masa awal duduk di bangku SMP ada sebuah lagu dari Ari Wibowo & Billboard yang cukup melegenda. Bukan, maksud saya bukan lagu yang berjudul Madu dan Racun, ataupun si Anak Singkong. Tema lagunya agak sedikit etnik. Berbicara tentang sosok gadis dari Pulau Dewata. Ya, lagu tersebut berjudul Ida Ayu Komang. Hayo ada yang masih ingat nggak ya?

Nah, ingatan tentang lagu Ida Ayu Komang-nya Ari Wibowo tersebut bisa jadi mengingatkan kita dengan sosok salah seorang teman di SMP kita. Tentu namanya bukan lengkap Ida Ayu Komang. Bukan pula Ida Ayu Puja, Ida Ayu Pupsa, atapun Dayu-Dayu yang lain. Jelas teman kita yang satu ini sosok putri Jawa asli, bukan putri Bali. Meskipun namanya Ida, sebenarnya nama tersebut tidak perlu harus dikaitkan langsung dengan gadis Bali to? Hanya saja memang waktu itu lagu Ida Ayu Komang sedang moncer-moncernya.

So, ladies and gentleman. Sosok teman kita ini memang Ida. Nama lengkapnya Ida Erlina Irawati (moga nggak salah). Di pelajaran Matematika-nya almarhum Pak Pratiwo, dia mendapat panggilan “Klatak”. Sudah pasti nama tersebut disematkan karena sosok kita ini rumahnya yang di Klatak, Banyudono. Ingatkan masbro mbaksist? Ada yang lupa ya? Mungkin sebagian besar diantara kita sudah tidak begitu ingat dengan teman yang satu ini. Namun saya yakin kalau teman-teman di gang atas arah Talun ataupun Dukun pasti mengenal dan mengingatnya dengan baik. Mungkin juga ada beberapa diantara teman-teman yang masih aktif menjalin silaturahmi dengannya hingga saat ini.

Sosok teman yang satu ini sungguh misteri bagi kebanyakan teman yang lain. Kebetulan saja dulu saya termasuk satu kelompok dengan Mbak Ida di kelas PKK-nya Bu Siti Munawaroh. Anggota kelompok kami antara lain Nila, Sarip, Muhtar Embut, Erwin, Sita, dan si Ida ini. Seingat saya kegiatan kelompok yang paling intens di kelas satu pada pelajaran PKK ya saat mengerjakan tugas membuat kliping untuk mengenal berbagai jenis kain. Ingatkan awal-awal di pelajaran PKK, kita belajar tentang jenis-jenis tusuk, mulai tusuk delujur, tikam jejak, tusuk mawar dan lainnya. Kitapun dikenalkan dengan berbagai jenis kain. Nah berbagai jenis   kain ini yang kita tempel pada lembar-lembar halaman kliping yang kita susun bersama. Setelah itu ada tugas juga membuat tempat sisir atau pensil untuk digantung di dinding.

Nah di pelajaran PKK juga seingat saya pernah ditugaskan memasak hidangan menu empat sehat lima sempurna secara berkelompok. Saya tidak ingat pasti waktu itu kita duduk di kelas satu atau kelas dua. Bawa kompor, bawa ketel, wajan, segala ubarampe, abrakabrak, dan bahan-bahan masakan. Tentu porsi teman-teman perempuan lebih dominan dan kami yang cowok-cowok lebih banyak hanya sekedar ngombyongi, bahkan sekedar tertawa-tawa bercandaan. Di kelompok kami, ya sudah pasti menjadi bagian pentas utama Nilai, Sita, juga Ida. Namanya juga seri ketrampilan rumah tangga, siswa cowok-cowok mah sebenarnya lewat ya masbro? Kita tentu acungi jempol dengan peran dan emansipasi para teman-teman perempuan. Bukan begitu to teman-teman? Tapi ya begitulah jalan cerita yang pernah kita lalui bersama dan kini menjadi bagian dari ingatan sejarah hidup kita masing-masing.

Sebegitu saja ingatan dan kesan saya dengan Mbak Ida ini. Lha sejauh pengenalan di kelompok PKK itupun juga jarang ngobrol gayeng ngalor-ngidul. Namanya juga pelajar cowok pelajar cewek jaman old ya masih sopan-santun bin “berjarak”, unyu-unyu dan malu-malu. Apalagi sosok Ida Erlina mungkin tergolong sebagai sosok yang cukup pendiam dan jarang “berheboh ria” di depan kelas. Sikap dan sifat orang per orang tentu unik. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tokh lebih dari itu semua kita selalu menganggapnya teman, bahkan saudara seperguruan selamanyakan?

Semenjak luluspun tak begitu santer warta tentang kelanjutan studi Ida di sekolah yang mana. Saya sendiri termasuk yang tidak pernah tahu-menahu, tidak pernah mendengar kabar, bahkan hingga menuliskan tulisan inipun belum pernah sekalipun bersua dengan teman kita ini. Bahkan sekedar papasan di tengah jalanpun belum pernah. Hal ini sebenarnya sungguh menyulitkan untuk membuat sebuah catatan mengenai sosok teman kita yang satu ini secara lebih utuh.

Usut punya usut, cerita dunia media sosial rupany asedikit banyak menyimpan jejak teman-teman kita. Berbekal sedikit informasi yang tergelar, saya terus mak njegagek dan sedikit kaget ketika menemukan sebuah foto terserak bergambar siswi-siswi berseragam SMA. Pastinya foto lama sekira 93-96an. Sudah hampir 30an tahun ya masbro mbaksist. Rupanya salah satu diantara empat siswi tersebut adalah sosok Ida, teman kita yang satu ini. Herannya lagi ternyata mereka berseragam SMA Muhi Jogja. Lho lak ajaib to lurr? Saya jadi nggumun sendiri!

Saya, Erwin, Diah, Nisa, Nita, Ika, Ferry yang sekolah di SMA 4 Jogja, ataupunMarji-Kuntar yang di STM 1 Jogja, juga Handoyo yang di STM 2 Jogja tak pernah sekalipun mendengar atau mengetahui ada teman kita yang di Muhi Jogja. Padahal sekolah kami sama-sama berada di lingkungan yang sama, bahkan masih satu kelurahan. Ibarat kata hanya depan-belakang berjarak sawah dan bulak yang tak seberapa lebar. Tak jarang “pasukan” sekolah kami pernah terlibat bentrok ala anak muda di pinggir sawah belakang sekolah Muhi. Tapi ya itu tadi, kita tidak tahu menahu tentang Ida Erlina yang studi juga di Kota Pelajar. Demikian halnya ketika ia pernah ngampus di Prodi Pariwisata Kampus Mbulak Sumur juga tak pernah tersiar wartanya

Jika berkesempatan mengunjungi halaman medsos Ida Erlina, sungguh kita akan menemukan halaman yang penuh warna-warni berseri-seri. Kayak pelangi! Warna-warni pelangi gambar yang terpampang tersebut langsung mengkaitkan pikiran saya dengan pelajaran PKK kita, dengan Bu Siti Munawaroh, dengan praktik masak-memasak tiga puluh tahun yang lalu itu lho lurr. Coba tebak yuk! Halaman itu penuh dengan aneka macam jenis kue yang cantik-cantik dan sungguh menggugah selera. Usut-punya usut teman kita yang satu ini kini tentu bisa dinobatkan sebagai sosok pengamal ilmu PKK-nya Bu Munawaroh yang paling militant. Entah sekedar kegiatan sampingan atau sebagai pekerjaan utama, namun justruMbak Ida kita ini menekuni dunia perkulineran. Hebat to?

Salwa Cake and Tart, demikian nama unit usaha yang kini digeluti teman kita Ida Erlina ini. Nah kan langsung klik ke pelajaran PKK kitakan? Kue tart ulang tahun nampaknya menjadi menu andalan utama di Salwa Cake and Tart. Di samping itu, ada juga pilihan kue gulung, hingga pudding dan nasi kuning. Aneka kue tradisional jajaran pasar juga lengkap. Bentuk dan hiasannya juga unik sesuai pesanan. Ada bentuk putri, thomas, spongebob, hello kitty, angry bird, lengkap wis. Jangan hanya klik teringat dengan PKK-nya atau sosok Ida-nya, jika berkesempatan larisi juga dong jualannya nggih  (dadimelungiklanyo).

Terlepas dari jarangnya kita berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan teman-teman seperguran di bangku SMP dulu, pastinya bukan menjadi alasan bagi kita untuk menganggapnya sebagai ‘bekas teman’. Tidak ada istilah bekas teman, mereka semua tetap teman, bahkan sudah kita anggap sebagai saudara kita. Bukankah tagline kita seduluran saklawase ya lurr.

Demikian sekedar tulisan pengeling-eling tentang salah seorang teman dan saudara kita. Selamat beraktivitas masing-masing, selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Jarak yang terbentang, waktu yang terentang, bahkan corona yang menghadang tidak akan melunturkan paseduluran kita. Terus berkarya! Tetap sehat! Tetap semangat untuk sedulurku semua.

Ngisor Blimbing, 27 April 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s