Kurikulum Sekolah di Rumah Ajah


Corona emang bikin gara-gara. Gara-gara corona anak-anak tidak bisa sekolah. Gara-gara corona anak-anak harus sekolah di rumah ajah. Sehari-dua hari hingga seminggu dua minggu, nampaknya anak-anak cukup enjoy. Sarana hand phone pintar saat ini sudah cukup lumayan untuk didayagunakan dalam “e-learning” dengan para guru. Materi, instruksi, tugas-tugas dikirim jarak jauh oleh para guru untuk dikerjakan anak-anak.

Belajar di rumah ajah, bekerja dari rumah ajah, dan beribadah di rumah ajah kini sudah berlangsung tiga pekan. Nah di sinilah titik kritis mulai dirasakan. Khususnya dalam hal anak-anak belajar di rumah ajah, kejenuhan dan kebosanan sudah mulai melanda anak-anak kita. Kontrol dari para gurupun dirasa sudah tidak “sesemangat” awal tiga pekan lalu. Materi ini sudah dibaca, tugas yang itu sudah dikerjakan. Ini itu sudah, apalagi? Nonton tivi, main game, sudah bosen. Terus gimana lagi? Padahal kita tidak tahu pasti hingga kapan badai corona berlalu. Sampai kapan lagi anak-anak harus belajar di rumah ajah.

Anak-anak sudah kangen dengan sekolah. Sudah ingin mendengarkan penjelasan para guru di muka kelas. Sudah ingin lagi bertemu, bermain dan bercanda ria dengan teman-temannya. Sebuah hal yang manusiawi bukan? Tetapi mau gimana lagi. Kondisi masih seperti ini dan nampaknya akan masih berlangsung untuk beberapa bulan ke depan.

Dalam situasi yang tidak normal sebagaimana saat ini, proses belajar di rumah ajah bagi anak-anak tentu tidak sepenuhnya dapat mengikuti kaidah kurikulum pembelajaran yang semestinya. Kurikulum baku sekolah seolah ambyar seketika diterjang badai corona. Jika kondisi demikian berlarut-larut dan dibiarkan saja, maka pihak pertama yang akan langsung terugikan adalah anak-anak kita juga. Di sinilah saatnya orang tua sebagai pendamping belajar di rumah ajah dituntut memberikan peran yang lebih dari sebelumnya.

Prinsip dan pola pikir pertama yang harus kembali ditegakkan adalah bahwa orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ingat kembali bahwa pendidikan keluarga merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pendidikan yang meliputi pendidikan sekolah, pendidikan keluarga, dan pendidikan masyarakat. Katakanlah dalam kondisi social and physical distancing saat ini para orang tua masih tetap harus bekerja dari rumah (work form home), orang harus mampu mengelola dan membagi waktu untuk juga instens mendampingi putra-putrinya belajar.

Cara, metode, model, dan strategi orang tua dalam pendampingan anak-anak yang harus belajar di rumah ajah harus dikreasikan sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan keondisi yang ada. Masing-masing keluarga, khususnya orang tua, harus menerapkan suatu “kurikulum sekolah di rumah ajah”. Proses-proses pembelajaran dengan metode transfer pengetahuan yang mengedepankan kegiatan-kegiatan praktik mungkin bisa lebih diperbanyak. Pelibatan anak-anak untuk membantu atau terlibat dalam aktivitas rumah tangga bisa dikemas sedemikian rupa untuk sekaligus menjadi proses belajar. Tidak hanya belajar sambil bermain, tetapi belajar sambil bekerjapun bisa diterapkan dalam hal ini.

Satu contoh bagi si kecil perempuan, ia bisa dilibatkan untuk bersama ibunda tercinta dalam kegiatan masak di dapur. Dalam aktivitas tersebut si anak bisa diperkenalkan dengan beragam macam sayuran dan bumbu rempah-rempah. Belajar meracik sambil berhitung. Belajar penambahan, pengurangan, perkalian, ataupun pembagian saat mengukur atau menakar bahan. Menghitung waktu saat proses memasak, dan lain sebagainya.

Kalaupun anak-anak sudah jenuh dengan kegiatan in door di dalam rumah, alangkah bijak sesekali anak-anak dilibatkan dalam aktivitas kecil di luar rumah. Teras, atau pekarangan rumah adalah media untuk bermain, beraktivitas, sekaligus belajar. Belajar dengan menanam misalnya. Orang tua bisa memperkenalkan dan memberikan contoh bagaimana menyiapkan media tanam, anak jadi mengerti apa fungsi tanah, air dan pupuk. Saat menebar biji, orang tua bisa bercerita banyak tentang macam-macam biji-bijian. Cerita mengenai asal-usul biji, mulai dari bungai dengan bagian-bagiannya, proses penyerbukan, timbulnya buah hingga munculnya biji. Perkembangan biji yang berkecambah, bedanya tumbuhan biji belah dan biji tunggal dan seterusnya.

Dengan pola pembelajaran “kurikulum sekolah di rumah ajah” anak-anak diharapkan akan senantiasa menikmati proses pembelajaran praktik justru tanpa pernah merasa belajar. Dalam proses ini anak-anak kita ajak untuk beraktivitas yang mendasarkan pada penggalian rasa ingin tahu si kecil yang tinggi, menggugah rasa bawah sadar, namun mampu memicu pertambahan pengetahuan dan pengalamannya. Banyak hal-hal yang belum pernah dicoba, dilakukan, atau dipraktikkan di sekolah selama ini kinilah saatnya untuk dilakukan bersama-sama dengan keluarga di rumah.

Kami sendiri mencoba menerapkan pola pembelajaran praktik. Setiap aktivitas bersama harus dimaknai sebagai proses belajar. Memasak, menjahit, menyapu, menanam, olah raga bersama, membersihkan rumah, menanam bunga, pasti dapat dicoba untuk diterapkan. Kami bahkan membuat project kecil, mulai dari mengamati ulat dan kepompong, menyiapkan bibit tanaman, bahkan menanam pohon untuk penghijauan. Bahkan anak saya yang sekolah dasarnya di wilayah Banten yang notabene tidak diajarkan belajar aksara Jawa, satu saat sangat menikmati belajar dan menulis dengan aksara Jawa. Dalam kesempatan lain kami mencoret kertas bersama, sehingga memunculkan ide menggambar motif batik “corona”.

Pola-polapembelajaran kecil di atas sebenarnya senantiasa kami terapkan dalam rangka pendampingan proses ekplorasi dan tumbuh kembang anak-anak tidak saja pada saat menjalani sekolah di rumah ajah karena corona ini. Dengan kejadian corona yang mengharus anak-anak belajar di rumah ajah dan orang tua bekerja dari rumah ajah, bukankah hal tersebut merupakan momentun kebersamaan keluarga yang sangat berharga? Corona memang mush bersama. Corona memang membuat gara-gara. Corona memang menganggu anak-anak sekolah. Namun bukan berarti kondisi ini tidak dapat disiasati. Dengan corona ini justru menjadi peluang bersama untuk lebih kreatif dan insya Allah nanti saat keluar dari era corona, kita, anak-anak kita dan para orang tua akan menjadi pribadi baru yang lebih baik lagi karena banyak proses belajar dan hikmah yang dapat kita gali dalam kondisi seperti sekarang ini. Bukankah semestinya demikian?

Ngisor Blimbing, 12 April 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s