Kata Kalimat Terbolak Balik


Seorang kawan di jantung daerah Temanggung menuliskan status di halaman medsosnya, “Kondisi begini dituntut makan seadanya, makan dari tanaman yang bisa dimakan di belakang rumah, kalau pengen makan lauk ya harus mancing di kali.Tulisan di atas tentu sangat kontekstual dengan fenomena corona saat ini. Namun jika kita sedikit mencermati kalimat tersebut dari sisi kaidah bahasa, ada sesuatu yang kurang enak dirasa. Apakah Panjenengan juga dapat merasakannya?

Kaidah berbahasa dengan baik dan benar nampaknya saat ini menjadi hal yang kurang mendapat perhatian kita bersama. Era media sosial memang telah menjadi sarana bagi siapapun untuk dapat menuliskan sebuah status yang diunggah dan dapat dibaca oleh banyak orang. Tentu kaidah bahasa di ranah media sosial tidak perlu serigid, sekaku, dan seformal kaidah resmi pada suatu dokumen formal. Namun demikian, penulisan kata dan kalimat yang semau perut sendiri dan tanpa mengindahkan sama sekali kaidah bahasa juga sebaiknya dihindari. Bayangkan saja jika sebuah pembiaran keterlanjuran bisa dianggap menjadi sesuatu yang biasa, bahkan dianggap benar. Hal ini terlebih akan sangat memberikan pengaruh terhadap anak-anak generasi milenial yang cenderung lebih suka untuk tidak perlu berpikir ribet bin njlimet.

Kembali ke kalimat status teman di atas. Kebetulan teman yang menuliskan status tersebut adalah seorang guru pada sebuah sekolah dasar. Dengan pertimbangan tersebut, saya secara pribadi merasa tergugah untuk mendiskusikannya, tentu dengan suasana yang santai. Atas status tersebut, saya kemudian memberikan komentar, “Ketoke beda rasa lho Pak Guru, – makan dari tanaman yang bisa dimakan di belakang rumah; dengan – makan dari tanaman di belakang rumah yang bisa dimakan. Leres mboten njih?

Kalimat status –makan dari tanaman yang bisa dimakan di belakang rumah– yang dituliskan oleh kawan saya tentu secara cermat akan bermakna makanan apapun darimanapun asalnya, apakah dari beli di pasar, apakah hasil panen dari sawah dan ladang sendiri, darimanapun, tetapi tindakan makan dilakukan di belakang rumah. Di sini yang menjadi penekanan pesan adalah lokasi tindakan makannya, yaitu di belakang rumah. Padahal tentu penekanan pesan yang dimaksudkan oleh penulisnya adalah memakan jenis “bahan makanan” apapun yang khususnya tumbuh di belakang rumah untuk dimakan dalam kondisi pembatasan gerak pembatasan interaksi sosial saat corona merebak. Di sinilah ada “kebolak-balik” alias penulisan kalimat yang terbalik-balik sehingga menggeser makna pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan.

Ambil satu contoh, misalkan kebun di belakang rumah kita masih ada tanaman keladi, talas alias kimpul. Dalam kondisi kelangkaan sayur, kita bisa memanfaatkan lompong atau pelepah daun talas untuk dijadikan sayur. Namanya sayur lompong. Adakah diantara pembaca sekalian belum pernah merasakan sayur sederhana ini? Lezat lho! Sungguh harus sekali-kali dicoba.

Feenomena ketidakcermatan dalam penerapan kaidah bahasa, khusus dalam tulisan-tulisan di media sosial yang kurang baik dan benar sesungguhnya dilakukan oleh banyak orang dewasa ini. Akan sangat banyak ditemukan contoh-contoh “kesalahkaprahan” yang serupa. Salah satu faktor yang bisa jadi menjadi akar kekeliruan-kekeliruan serupa adalah rendahnya pemahaman terhadap ilmu bahasa itu sendiri. Hal yang kedua tentu berkenaan dengan rendahnya kemampuan tulis rerata masyarakat kita.

Sedikit ulasan pada postingan ini bisa jadi dianggap sebagai hal yang tidak penting, sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan, atau mungkin hal biasa yang tidak perlu dibahas dan didiskusikan. Namun demikian menurut hemat kami, kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disadari sebagai sebuah kesalahan lama-kelamaan akan menjadi sebuah akumulasi kesalahan yang akan semakin sulit untuk dibenahi. Lebih berat lagi jika kesalahan kecil tidak ada yang meralat, bahkan menjadi sebuah kebiasaan salah yang dianggap benar. Hal tersebut tentu tidak hanya berlaku dalam konteks kaidah penulisan kalimat, namun sesungguhnya banyak terjadi dalam konteks permasalahan lain yang lebih luas dan kompleks.

Ibarat pepatah Jawa mengatakan, “kriwikan dadi grojokan“. Suatu kesalahan atau masalah kecil yang dibiarkan lama kelamaan akan menjadi suatu kesalahan yang fatal, akan menjadi masalah yang besar. Oleh karena itu tidak ada salahnya, bahkan tentu sangat baik, jika kita mencermati dan lebih teliti dalam menerapkan ragam bahasa tulis kita. Kalau bukan kita yang melakukan, siapa lagi masbro?

Ngisor Blimbing, 9 April 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Sastra dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s