Belajar di Rumah, Belajar dimanah Ajah


Gara-gara corona kita jadi di rumah ajah. Bekerja dari rumah. Belajar juga di rumah ajah. Bahkan beribadahpun dianjurkan hanya di rumah ajah. Corona memang sungguh luar biasah!

Terkait dengan anak-anak atau para siswa, belajar di rumah ajah bisa jadi bukan sesuatu yang mudah. Selama ini tentu anak-anak kita juga belajar di rumah. Namun belajar di rumah yang selama ini dilakukan tentu sebagai sebuah pelengkap proses pembelajaran kelas di sekolah. Terlebih lagi kini tidak sedikit sekolah-sekolah “modern” yang menghabiskan keseharian waktu anak dari pagi hingga sore untuk kegiatan sekolah dan sama sekali tidak memberikan pekerjaan rumah. Siswa dari sekolah model ini sangat mungkin di rumah sama sekali tidak lagi menyentuh urusan sekolah.

Di saat pandemi corona dengan covid-19 melanda, anak-anak sekolah langsung merasakan imbasnya. Sekolah-sekolah ditutup. Anak-anak harus belajar di rumah. Kemajuan teknologi telah memungkinkan sekolah masih dapat dilangsungkan dengan cara online. Materi pelajaran dan tugas-tugas diberikan via online. Anak-anak dengan gawai masing-masing ataupun miliki orang tuanya mengerjakan tugas yang kemudian hasilnya difoto dan dikirim kepada guru. Ada pula model tugas yang harus divideokan. Dengan pola pembelajaran model seperti ini, anak-anak sebenarnya dituntut untuk berdisiplin diri. Apa itu berdisiplin diri?

Jika seorang anak sekolah sewajarnya belajar di sekolah, tentu ia senantiasa didampingi oleh para guru yang mengampu berbagai mata pelajaran. Lain halnya ketika sekolah di rumah ajah. Sekiranya orang tua atau anggota keluarga yang lain dengan penuh kesadaran turut mendampingi tentu lebih baik. Namun tidak sedikit orang tua juga sibuk dengan urusan atau pekerjaan. Meskipun di era corona ini para orang tua banyak juga yang bekerja dari rumah ajah, namun sama sekali tidak berarti mereka dapat menggantikan peran guru dan sekolah.

Dunia anak memang dunia bermain. Demikian juga ketika anak-anak di rumah ajah. Kecenderungan dan dorongan  bermain tentu lebih kuat daripada keinginan untuk belajar. Tidak harus bangun pagi-pagi sekali. Tidak harus mandi pagi selekasnya. Tidak harus mengenakan seragam dan sepatu. Tidak harus sarapan tergesa-gesa. Tidak harus bergegas berangkat sekolah agar tidak terlambat. Intinya banyak hal-hal yang sebelumnya teratur dilakukan pastinya menjadi sedikit kendor. Di titik inilah ujian terhadap aspek kedisiplinan tadi. Semakin tinggi umur dan jenjang kelas anak tentu kedisiplinan diri akan lebih dapat dikondisikan.

Lain lagi dari sudut pandang para orang tua. Kalangan orang tua yang sebelumnya telah terbiasa mendampingi anak belajar di rumah, bisa jadi tidak akan begitu kewalahan untuk tetap mendampingi putra-putrinya. Lain halnya yang terjadi dengan para orang tua yang pada waktu sebelum corona ini jarang atau sama sekali tidak pernah terlibat dalam keseharian proses pembelajarnya anaknya. Baru beberapa hari anak belajar di rumah ajah, yang ada keluhan anak susah diatur, susah berdisiplin hingga menjadikan para orang tua meras stress.

Dalam masa yang tidak mudah ini, mau tidak mau , suka ataupun tidak suka para orang tua harus memerankan tugas ganda. Tugas sebagai orang tua sebagaimana biasanya dan tugas sebagai “guru” yang mendampingi putra-putrinya dalam rangka sekolah di rumah ajah. Dengan penuh kesadaran, para orang tua harus berpijak pada pola pikir bahwa urusan pendidikan anak adalah tanggung jawab sekolah, tanggung jawab masyarakat, dan sudah pasti menjadi tanggung jawab orang tua juga. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menanamkan prinsip bahwa sejatinya pemangku tanggung jawab pendidikan anak ada di pundak orang tua.

Orang tua, sebagaimana diajarkan dalam ajaran agama Islam, merupakan guru yang pertama bagi anak-anaknya. Tidak terhenti di situ, orang tua jualah guru sepanjang hayat, guru utama untuk putra-putrinya. Sekolah dengan para bapak dan ibu gurunya sejatinya “hanyalah membantu” tugas dan misi orang tua untuk mendampingi dalam proses pendidikan. Bahkan ada beberapa kalangan praktisi dunia parenting yang menyatakan bahwa guru semestinya hanyalah berposisi sebagai asisten guru karena sejatinya guru utama bagi seorang anak manusia tidak lain dan tidak bukan adalah orang tuanya, adalah bapak dan ibunya di rumah. So, stay onjey at home. Stay enjoy study at home untuk anak-anak dan ayah-bundanya.

Ngisor Blimbing, 4 April 2020

.

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s