Corona Ambyar


Geger corona! Gegara corona dengan virus covid-19nya, kehidupan di segala bidang seakan mobrak-mabrik. Tidak ada angin tidak ada badai, semua aktivitas keseharian harus dihentikan. Belajar di rumah, bekerja dari rumah, bahkan beribadah juga di rumah. Istilah social distancing dan juga lockdown demikian populer hari-hari ini. Semua gegara corona.

Si Noni telah lebih dari tiga tahun sekolah di PAUD hingga TK. Bulan-bulan ini menjadi bulan-bulan akhir studinya di taman kanak-kanak sebelum di pertengahan Juli nanti menapaki sekolah di bangku SD. Beberapa agenda untuk siswa tahap akhir sudah tertata tarik-tarik. Salah satu diantaranya lomba anak-anak di Pantai Ancol yang semestinya dua pekan silam dilaksanakan. Sudah lelah berlatih, sudah bersabar menanti hari H, elha dalah lha kok semuanya harus batal karena corona datang.

Beda lagi dengan si Ponang, kakak Noni. Enam tahun masa studi di sekolah dasar telah ditapakinya. Beberapa tahapan ujian praktek dan try out persiapan UN telah dijalaninya. Tinggal menghitung hari, UN yang mengukur keberhasilan enam tahun studi sudah di depan mata. Tidak saja harus menjalani belajar di rumah, kabar terakhir justru mewartakan UN ditiadakan. Jika sebelumnya saat harus belajar di rumah ada agenda belajar terfokus untuk persiapan UN, kini justru motivasi itu dipangkas habis.

Tentu tidak hanya Noni dan Ponang yang mengalami ketidakpastian agenda sekolah. Siswa kelas IX dan XII yang sebelumnya juga akan UN kini tak perlu lagi mempersiapkan diir untuk UN. Entah mereka senak seraya bersorak karena tidak harus menjalani ujian nasional, atau ada banyak pula yang merasa was-was dengan kondisi studi anak dan siswa jaman now ini.

Tidak hanya memberikan dampak serius kepada anak-anak dan dunia pendidikan, virus corona sudah pasti mengubah cara dan metode kerja bagi kaum profesionalis. Kerja harus dilakukan dair rumah. Rapat-rapat dan pertemuanpun harus dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan kemajuan iptek komputer dan telekomunikasi.

Ada lagi kaum pinggiran, para pekerja harian. Yang pedagang kaki lima, yang tukang ojek, yang penjual kopi keliling, yang warteglah, dan lain sebagainya. Kebijakan pembatasan interaksi sosial alias social distancing memberi akibat pintu rejeki mereka seolah tertutup sangat rapat. Mau di rumah saja sebagaimana himbauan pemerintah, dapur tidak bisa ngebul. Mau keluar rumah, tetap bekerja di jalanan juga khawatir tertular covid-19. Semua menjadi serba salah.

Ah corona! Ah covid-19! Nggak pernah kenal kok tiba-tiba kini menjadi beban, bahkan musuh setiap anak manusia. Semoga upaya-upaya untuk menghambat penularan virus dan menangani serta menanggulangi korban penyakit asal Wuhan ini dapat diterapkan dengan baik. Memang untuk sementara ini aktivitas kita menurun dan dibatasi, sehingga lebih sering berdiam diri di dalam rumah. Memang untuk sementara waktu virus corona membuat ambyar rencana-rencana manusia di depan mata.

Waspada corona so pasti. Namun sikap panik tentu harus dijauhkan sejauh-jauhnya.

Ngisor Blimbing, 27  Maret 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s