Corona Time: Saat Yang Berharga Bagi Keluarga


CORONA TIME: QUALITY OR JUST QUANTITY TIME FOR OUR FAMILY

Tiba-tiba harus sekolah di rumah, harus bekerja di rumah, bahkan harus beribadah di rumah. Jika pada hari-hari sebelumnya kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan beraktivitas di luar rumah, hari-hari ini kita justru diarahkan untuk lebih banyak diam diri dan beraktivitas di dalam rumah. Social distancing, demikian istilah keren yang hari-hari ini tengah kita lakukan. Hal ini tak lain dan tak bukan karena mewabahnya Corona atau virus Covid-19.

Corona. Awalnya virus ini merebak di kota Wuhan, Negeri Tiongkok. Tiba-tiba negeri kita juga benar-benar kedatangan tamu virus tak diundang yang masih sangat misterius ini. Tidak hanya datang, saat berpamit pulang ia bahkan telah merenggut beberapa nyawa dari saudara-saudari kita. Hari-hari ini kita menerima warta semakin bertambah luasnya penyebaran virus yang menyerang imunitas manusia ini. Tidak hanya pasien yang terkonfirmasi positif mengidap Corona, korban meninggal duniapun semakin bertambah. Tidak hanya di negeri kita, namun fenomena ini terjadi di seluruh penjuru dunia.

Menyusul perkenalan kita dengan Corona, kita kemudian diperkenalkan secara susul-menyusul dengan istilah Covid-19, social distancing, thermal gun, observasi, karantina, juga lockdown. Negara kita, dengan prakarsa awal dari beberapa daerah, kini tengah menerapkan kebijakan social distancing dalam rangka menghambat penyebaran virus mematikan yang konon awalnya ditularkan melalui binatang kelelawar ini. Kebijakan inilah yang berkonsekuensi menjadi aktivitas sekolah di rumah, bekerja di rumah, dan beribdah di rumah tadi. Rumah kini menjadi pusat aktivitas kita sehari-hari.

Rumah adalah keluarga. Rumah adalah kebersamaan dan saling membersamai diantara sesama anggota keluarga. Beraktivitas di rumah tentu tidak bisa dilepaskan dengan kebersamaan keluarga. Kebijakan ‘corona time’ dengan pemberlakukan social distancing di satu sisi semakin memberikan kesempatan untuk setiap keluarga jadi lebih sering bersama. Jika di hari-hari biasa, setiap anggota keluarga disibukkan dengan berbagai aktivitas di luar rumah dan hanya pada kesempatan libur akhir pekan berkesempatan beraktivitas bersama, kini kita lebih memiliki banyak waktu untuk bersama. Dengan corona time, kita lebih bisa berkumpul bersama keluarga.

Banyak hal yang bisa dilakukan bersama pada saat sebuah keluarga bersama-sama. Sarapan bersama, nonton tivi bersama, membaca buku bersama, main kartu bersama, belajar bersama, memasak bersama, bertaman bersama, berkebun bersama, berprakarya bersama, membersihkan rumah bersama, dan lainnya. Seribu satu aktivitas bersama dapat dikreasikan  Intinya lebih banyak waktu kebersamaan bersama keluarga. Secara kuantitas, waktu bersama keluarga menjadi anugerah tersendiri dari corona time saat ini. Namun yang kemudian harus menjadi perhatian yang lebih seksama dari kita semua, akankah corona time ini sekedar memberikan quantity time yang lebih kepada keluarga kita ataukah corona time bisa kita maknai lebih jauh sebagai quantity time sekaligus quality time untuk setiap keluarga kita?

Dalam jangka waktu beberapa hari sekolah, bekerja, dan beribadah di rumah, beberapa kalangan orang tua justru membagi kisah tentang bagaimana “kacaunya” urusan anak-anaknya yang kemudian juga berdampak terhadap urusan para orang tua. Anak-anak yang harus belajar dan bersekolah di rumah menjadi permasalahan tersendiri. Banyak orang tua yang tidak bisa mendampingi dan membersamai anak-anak untuk tetap “belajar”. Anak-anak katanya sulit dikendalikan, sulit diatur, dan sulit diarahkan. Tak jarang justru pertentangan dan keributan-keributan kecil mewarnai rumah. Bahkan tak sedikit orang tua yang menjadi stress dengan corona time ini. Dalam kasus seperti ini, quantity time yang hadir di tengah keluarga ternyata tidak berbanding lurus menjadi quality time untuk keluarga.

Kenyataan orang tua yang merasa stress karena tidak bisa mengatur, mengendalikan, dan mengarahkan anak-anak untuk belajar di rumah bisa jadi merupakan cermin bagaimana orang-tua dan juga keluarga masa kini dalam memaknai pendidikan. Pendidikan anak-anak, bagi kalangan ini, bisa jadi dianggap hanya menjadi urusan sekolah dan para guru pengampunya. Selama ini kita menyerahkan sepenuhnya urusan tumbuh-kembang anak melalui proses pendidikan yang dijalani mereka kepada sekolah, kepada para guru semata.

Sebagian besar dari kita dan keluarga-keluarga kita telah banyak yang melupakan tentang konsep keutuhan pilar proses pendidikan sebagaimana telah digagas oleh Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara maupun yang digariskan melalui Undang-undang Pendidikan Nasional kita.  Tiga pilar utama pendidikan yang meliputi pendidikan sekolah, pendidikan keluarga, dan pendidikan masyarakat semakin jauh kita terapkan bersama. Sadar atau tidak sadar, paham atau tidak paham, mengerti atau tidak mengerti, kita hanya menyandarkan proses pendidikan kepada pendidikan sekolah semata.

Dalam situasi “darurat corona time” saat ini, sudah seharusnya setiap keluarga dan orang tua kembali disadarkan bahwa urusan pendidikan anak-anak kita tidak semata-mata menjadi urusan sekolah dan para guru semata. Di saat satu pilar pendidikan dikarena kedaruratan situasional tidak bisa memerankan peran fungsinya dengan maksimal, maka giliran pilar pendidikan yang lain harus dioptimalkan. Tatkala sekolah terpaksa ditutup dan anak-anak harus belajar dan sekolah di rumah, maka di samping masih terus “menjalankan” pendidikan sekolah secara jarak jauh, orang tua dan masyarakat lingkungan sekitar semestinya harus lebih mengambil peran untuk mengoptimalkan pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat.

Dengan pemaknaan bahwa rumahpun sejatinya juga merupakan “sekolah” untuk anak-anak kita dan guru utama dari pendidikan sepanjang masa para buah hati kita adalah orang tua itu sendiri, para orang tua seharusnya semakin sadar akan peranannya dalam mendampingi dan membersamai anak-anak dalam belajar, terlebih saat “corona time” ini. Dengan kesadaran ini, corona time akan menjadi quantity sakaligus quality time untuk keluarga kita. Corona time akan memberikan bonus kebersaman, kedekatan, keeratan, dan kehangatan keluarga kita. Bukankah keluarga yang harmonis merupakan pilar tegaknya sebuah negera, bahkan sebuah peradaban manusia? Mari kita renungkan kembali.

Ngisor Blimbing, 22 Maret 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s