Al Corona Madrasatul ‘Ula


Al corona madrasatul ‘ula. Ungkapan ini mungkin memang baru kali ini kita dengar. Al corona adalah sekolah utama. Al corona madrasatul ‘ula memang bisa dikaitkan dengan sangat erat dengan ungkapan al ummu madrasatul ‘ula, ibu adalah sekolah yang utama bagi anak-anaknya. Hari-hari ini kita memang tengah disibukkan pikiran kita, akal kita, hati kita, batin kita, bahkan jiwa dan raga kita dengan kehadiran virus Covid-19. Virus Covid-19, datang tak diundang namun bisa jadi pulang dengan membawa kematian kita. Ngeri-ngeri sedap ya?

Virus Corona alias Covid-19 merupakan novel virus. Virus baru yang baru muncul dan belum pernah dikenal sebelumnya. Saking tidak atau belum dikenal inilah, Covid-19 menghadirkan teror kecemasan, bahkan rasa ketakutan yang sungguh luar biasa. Ibarat berkebalikan dengan ungkapan tak kenal maka tak sayang, demikian halnya dengan Corona virus ini. Jangankan sayang, kenalpun belum. Jangankan kenal, sekedar tahupun belum. Ilmu dan pengetahuan kita mengenai tamu tak diundang yang satu ini memang harus diakui masih serba minim.

Karena Covid-19 baru dikenal, belum diketahui ciri-cirinya, belum dimengerti, belum dipahami, maka ya pelan-pelan dan sedikit demi sedikit kita harus mau berkenalan dan belajar tentang Corona ini. Setidaknya bagi kalangan masyarakat awam, tentu diperlukan suatu pengetahuan dan pemahaman setidaknya pada tingkatan minimum agar kita dapat menghindarkan diri dari jangkitan virus ganas Corona.  Bagaimana awal mula penularannya, dimana sel reseptor utama bagi tumbuh kembangnya, seperti apa gejala klinisnya, bagaimana pola penyebarannya, dan lain sebagainya terkait dengan Covid-19 harus dipahami oleh kalangan masyarakat awam sekalipun. Di sinilah pentingya Corona untuk kita sekolahi bersama. Al corona madrastul ‘ula, Corona menjadi sekolah utama untuk waktu-waktu saat ini.

Di samping karena alasan tersebut di atas, dalam rangka antisipasi serta pencegahan penyeberan virus Corona, pemerintah telah menganjurkan kita lebih banyak diam di rumah. Belajar di rumah, bekerja di rumah, bahkan beribadahpun dilaksankan di rumah. Anak-anak, ayah, dan ibu sebagai sebuah keluarga setidaknya justru mendapatkan kesempatan dan waktu emas untuk lebih sering bersama di rumah. Jika sebelum-sebelumnya para ibu dan orang tua kurang membersamai anak-anak dalam proses belajar dan lebih mengandalkan atau menyerahkan urusan sekolah anak-anak sepenuhnya kepada sekolahan, maka kini saatnya bagi orang tua, khususnya para ibu, untuk kembali menjadi madrasatul ‘ula. Menjadi sekolah utama bagi anak-anaknya.

Kebersamaan keluarga yang lebih intens dalam rangka perlawanan terhadap Covid-19 saat ini harus sekaligus dijadikan momentum untuk memaknai kembali makna kebersamaan keluarga, dan juga makna rumah. Rumah bukanlah sekedar bangunan fisik tempat sebuah keluarga berkumpul serta berteduh dari panas matahari ataupun curahan hujan. Rumah sekaligus rumah jiwa, wadah jiwa bagi setiap insan anggota keluarga. Rumahpun menjadi sarana pembelajaran abadi, minal lahdi minal mahdi. Pendidikan keluarga yang selama ini kita kesampingkan dapat kembali kita resapi hakekat dan maknanya. Sekolah sebagai tempat pembelajaran memang penting, namun keluarga dengan wadah rumahpun memegang peran yang tidak kalah pentingnya.

Ngisor Blimbing, 19 Maret 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s