Lockdown Corona dan Memaknai Kembali Makna Rumah


Tidak dipungkiri hotnews bin headline bin viral pemberitaan sebulan-dua bulan ini adalah perihal virus Corona. Varian virus baru yang pertama diidentifikasi di Wuhan, Negeri Tirai Bambu, benar-benar telah tiba dan hadir di negara kita. Akhir pekan ini menjadi titik babak baru penanganan pandemi Corona di negeri ini. Setelah pemerintah Kota Solo mendeklarasikan KLB Corona setela salah satu warganya meninggal akibat Corona, Pemprov DKI Jakarta tak berselang menetapkan untuk menutup sementara waktu obyek wisata di ibukota. Kebijakan ini disusul dengan meliburkan sekolah-sekolah selama dua minggu ke depan. Kebijakan semacam ini kemudian menggelombang diumumkan di berbagai daerah.

Berita mengejutkan di malam akhir pekan mewartakan salah seorang Menteri dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Presiden Jokowipun merilis kebijakan guna menghimbau masyarakat untuk bekerja di rumah, belajar di rumah, bahkan beribadah di rumah. Kebijakan ini bertujuan untuk meminimalisir interaksi antar warga yang sangat berpotensi menjadi wahana penyebaran atau penularan virus Corona.

Kembali ke rumah. Bekerja di rumah. Belajar di rumah. Beribadahpun juga di rumah. Rumah menjadi harapan untuk memutus rantai penularan virus Corona. Rumah menjadi tumpuan, rumah menjadi kunci, menjadi titik pijak dalam menghambat penyebaran Corona. Fenomena ini alangkah baiknya sekaligus dijadikan momentum untuk merenungkan kembali arti atau makna ”rumah” bagi setiap keluarga, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negara, bahkan bagi peradaban kemanusiaan.

Rumah bagi sebagian keluarga “modern” saat ini mungkin hanya menyisakan makna sebagai sekedar rupa bangunan fisik. Rumah sekedar sebagai house, bukan rumah dalam makna sebagai home. Rumah ya sekedar bangunan tempat tinggal sebuah keluarga. Rumah sebagai tempat berlindung dari panas, dingin, juga hujan. Bisa jadi hanya tinggal segelintir kalangan yang memberikan makna rumah sebagai ruh dan jiwa sebuah keluarga.

Suami-istri pergi berangkat kerja di kala remang fajar adalah hal yang lumrah di era manusia berpacu dengan slogan waktu adalah uang saat ini. Adalah hal yang umum jika pasangan suami-istri pulang ke rumah di saat petang, bahkan hingga larut malam. Kerja menjadi prioritas utama sebagian besar kalangan orang tua. Dalam kondisi demikian, praktis dalam keseharian anak-anak menjadi sangat minim berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Kesempatan libur bersama di akhir pekan mungkian menjadi satu-satunya kesempatan quality time bagi sebuah keluarga.

Adanya wabah virus Corona yang kemudian mendorong diputuskannya kebijakan untuk lebih banyak berada di rumah, semestinya selain dalam rangka menangkal atau mencegah penyebaran virus ganas Corona, kebijakan bagi warga masyarakat untuk lebih baik bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah seyogyanya dimaknai untukk memaknai arti “rumah” bagi keluarga kita. Rumah sebagai jiwa dan ruh keluarga.

Sekiranya selama ini diantara sesama anggota keluarga yang berkesempatan berkumpul dan berinteraksi dekat saat libur akhir pekan saja, karantina diri kali ini harus lebih disyukuri sebagai sarana untuk lebih banyak waktu bersama-sama dengan keluarga, tentunya dengan suami-istri, dan dengan anak-anak. Keluarga sebagai satuan terkecil bangunan sosial kemasyarakatan, bahkan keluarga yang merupakan komponen mendasar dari sebuah peradaban kemanusiaan, dapat dijalin lebih erat lagi dengan kesempatan kebersamaan kali ini. Bukankah harta yang paling berharga adalah keluarga. Taman yang paling indah adalah keluarga. Demikian mutiara tiada tara adalah keluarga.

Dalam bahasa film Terima Kasih Abah Terima Kasih Emak yang merupakan film reunian para pemain sinetron Keluarga Cemara, keluarga bahkan merupakan mimpi yang paling nyata. Mimpi yg paling nyata, harapan yg paling indah, adalah bahagianya keluarga.

Ngisor Blimbing, 15 Maret 2020

 

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s