Daffa dan Sepeda


Gambar di bawah ini beberapa hari lalu sempat saya posting di halaman FB. Cerita yang tertangkap dengan latar hujan yang mengiringi si Daffa saat mencuci sepedanya adalah sambil mencuci sepeda berhujan ria. Bisa juga tujuan si bocah yang sebenarnya bukan mencuci sepedanya namun justru berhujan rianya. Maklum namanya juga bocah. Hujan adalah sebuah kemewahan untuk dinikmati sebagai bagian dari dunia permainan. Berhujan ria adalah bermain ria. Bukankah demikian?

Tentu hal tersebut di atas tidak sama sekali salah. Namun demikian, di balik sebuah foto atau gambar Daffa dan sepeda sesungguhnya ada latar cerita yang tidak kalah menariknya.

Daffa, anak kelas 2 sekolah dasar. Sekolahnya memang hanya di tetangga dusun yang hanya berjarak tak lebih dari 1 km. Pulang-pergi sekolah memang ia seringkali diantar jemput. Seringnya barengan maknya yang sekaligus berangkat mengajar di sebuah Mts yang sejalur. Kadangpun diantar oleh Mbah Utinya yang seorang pensiunan guru. Dulu saat masih hidup, Mbah Kakungnya juga sering mengantar. Maklum si Daffa baru kelas 2 sekolah dasar itu tadi.

Di bandingkan dijemput saat pulang sekolah dengan Mbah Utinya, tentu si Daffa paling senang jika maknya yang langsung datang menjemput. Bagaimanapun ikatan batin ibu dan anak tentu lebih kuat dan dekat jika dibandingkan dengan hubungan batin seorang anak dengan neneknya. Demikianlah kira-kira yang dirasakan si Daffa kecil.

Pada suatu hari, kebetulan maknya berhalangan datang untuk menjemput Daffa pulang sekolah. Namun demikian, Mbah Utinya telah siaga menggantikan tugas rutin tersebut. Dasarnya si Daffa sedang sedikit uring-uringan saat bersepak bola dengan teman-temannya saat istirahat, ia menjadi kurang suka dijemput mbahnya. Ia berusaha menghindar. Saat Mbah Utinya menapaki jalan lurus menuju sekolahannya, justru Daffa berlari “sipat kuping” dan bersembunyi di pelataran sekolah PAUD yang bersebelahan dengan sekolahannya.

Dengan bertanya kepada Mbah Usup, penjual jajanan di warung sekolah, juga informasi dari beberapa teman cucunya, Mbah Uti berhasil menemupkan Daffa dan bergegas mengajaknya pulang ke rumah. Repotnya, sesampai di rumah, Daffa bukannya langsung ganti baju, malah di “nglepat” mengambil sepedanya dan mengayuh pergi. Mbah Utinya bahkan tidak sempat “ngulatke” kepergiannya.

Menyadari cucunya tidak lagi di rumah, Mbah Utinya tentu berusaha mencari. Kepada beberapa bocah lain ia bertanya. Namun keberadaan Daffa tidak ada yang mengetahuinya. Demikian halnya Pakdhe Mentar saat dintanya. “Tadi itu ya sepertinya lewat sini bersepeda cepat,” terangnya saat ditanya. Maklum ia saat itu sedang konsentrasi dengan pekerjaan nyerut dan natah kayu. Ia memang seorang tukang kayu dan saat itu sedang mengerjankan beberapa kusen pitu jendela pesanan pelanggannya.

Bagaimana dengan si Daffa sendiri. Dengan perasaan yang masih masgul ia kayuh sepeda keluar dari batas dusun. Dusun Gejayan dilaluinya. Ia mengarah ke utara melewati jalanan menanjak yang membelah Dusun Nglarangan dan Babadan. Tak hanya selesai di sana, ia terus menuntun sepeda saat jalanan menanjak. Dua dusun selanjutnya, Nglembar dan Nglempong juga dilampauinya. Setelah melintasi Dusun Ngelo Daffapun tiba di sebuah sekolahan. Ya, sekolahan tersebut adalah sekolahan dimana ibunya mengajar. Daffa memang sengaja ingin menyusul maknya.

Dari sisi jarak, Daffa kecil melampui lebih dari 3 km. Mengkhawatirkannya dengan jarak yang lumayan jauh untuk bepergian seorang diri bagi anak seumurannya, jalanan yang dilaluinya juga merupakan jalanan bulak dusun dan sepi nan sunyi. Kalau ada penculik gimana coba?

Setelah berusaha mencari ke beberapa tetangga dan tidak mendapatkan cucunya, Mbah Uti kemudian berinisiatif mencari Daffa ke sekolahanya tempat maknya Daffa mengajar. Terasa lega dan plong hatinya saat melihat sepeda Daffa terparkir. Meskipun pada akhirnya Daffa tidak mau diajak pulang, namun kepastian keberadaannya telah cukup melegakan hati Mbah Utinya.

Saat pulang kembali ke rumah, Daffa membonceng sepeda motor maknya. Sepeda muungilnya sementara waktu diinapkan di sekolahan. Walhasil sepeda itupun menginap untuk beberapa hari, bahkan hingga lebih dari sepekan. Saat sepekan kemudian Daffa dijemput pulang sekolah oleh maknya, iapun turut ke sekolahan tempat ibunya mengajar. Ketika pulang akhirnya sepeda kesayangan Daffa juga turut diboncengkan untuk dibawa ke rumah. Nah saat tiba di rumah itulah, tak seberapa lama hujan turun dengan derasnya. Karena semingguan tidak dibersihkan tentu sepeda Daffa menjadi sedikit kotor dan berdebu. Akhirnya dengan sambil menyelam minum air, sambil mencuci sepeda main hujan-hujanan, Daffapun mencuci sepedanya di pelataran longkangan rumah Mbah Utinya. Bayangkan kenekatan Daffa, saat “kabur” dari Mbah Utinya? Ah, namanya juga masih bocah. Ya, to?

Ngisor Blimbing, 8 Maret 2020

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Kenyung dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s