Enjoy Bus Kota di Bangkok Raya


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (10)

Bangkok memang kota air. Namun demikian, tidaklah sepenuhnya jalur transportasi publik yang ada berbasis air atau sungai. Bangkok juga terus mengembangkan dan memadukan sarana transportasi daratnya. Bangkok, sebagai salah satu kota terpadat di Asia, telah memiliki armada transportasi berbasis jalan raya yang cukup memadai. Mereka mengistilahkannya BRT, alias Bangkok Rapid Transportation. Penggunaan istilah rapid sendiri mungkin mengingatkan kita kepada KLRapid, PenangRapid, di Malaysia.

Bangkok Rapid Transportation atau BRT mungkin mudahnya dapat kita sandingkan dengan busway di Jakarta. Beda utamanya, BRT ataupun sistem rapid di beberapa negara lain tidak menggunakan satu lajur jalur khusus sebagaimana di Jakarta. Jaringan yang luas dan keterpaduannya dengan moda transportasi lain berbasis rel kereta api, seperti BST dan MRT, maupun berbasis air semisal taksi air, rapid boad, dll, hingga keterjangkauannya hingga hampir ke seluruh titik di penjuru kota, menjadikan BRT sebagai sarana transportasi yang cukup memadai untuk mengantarkan wisatawan menjelajahi ibukota Negeri Gajah Putih ini.

Generasi paling awal dari sarana transportasi jalan raya di Bangkok yang hingga kini masih menjadi ikonnya ibukota Thailand ini adalah tuktuk. Tuktuk dapat dipersamakan dengan bajaj. Ingat dong bajajnya Bang Bajuri? Sarana transportasi cukup tua di Jakarta dengan roda tiganya yang juga mirip bemo. Tuktuk juga beroda tiga dengan kabin penumpang di sisi belakang sang pengemudi. Dari sisi ukuran, tuktuk lebih panjang dibandingkan bajaj. Dari sisi kabin penumpang, tuktuk lebih terbuka sehingga penumpang dapat dengan leluasa menikmati panorama kota di sepanjang jalan yang dilalui. Selain kepraktisan dalam menikmati pemandangan kota, kondisi tersebut juga memudahkan saat tuktuk disewa untuk mengangkut barang yang banyak. Selain mengantar wisatawan asing dan dan penduduk lokal untuk berbagai keperluan, tuktuk juga serigkali digunakan warga lokal untuk berbelanja, mengangkut barang, hingga pindahan.

Namun demikian, dari beberapa warga Bangkok yang kami temui, tak sedikit dari mereka yang kurang merekomendasikan tuktuk. “It’s mafia,” tukas pengemudi taksi yang membawa kami dari Dongmeng Airport menuju hotel tempat kami menginap kala itu. Julukan tersebut disematkan karena tak sedikit pengemudi tuktuk yang menarik tarif mahal tanpa tawar menawar yang wajar dengan penumpang. Mereka seolah telah menjadi raja jalanan yang mendektekan tarif secara setengah paksa kepda penumpang. Hal seperti ini sering menimpa wisatawan asing. Tuktuk, bagi orang Jawa, bisa saja menjadi tuthuk,  artinya palu pemukul. Berani naik tuthuk, silakan siapkan diri untuk kena tuthuk alias kena pukul harga.

Pilihan masuk akal untuk berkeliling Bangkok adalah naik bus. Ada bus tiga perempat yang mirip dengan metromininya Jakarta. Ada bus patas non AC. Ada bus AC biasa, hingga shuttle bus yang tergolong mewah bin nyaman. Untuk naik bus, kita tinggal menunggu di halte-halte bus yang tersebar merata di seluruh Bangkok. Pada sebuah halte bus dapat melihat seluruh jalur bus yang melewati suatu halte beserta rutenya pada sebuah papan informasi berwarna putih dengan list tepi warna biru. Hal ini sungguh membantu orang asing untuk bepergian dengan bus secara mudah, murah, dan pastinya ingin senyaman mungkin.

Semua bus angkutan umum di Bangkok mengenakan pembayaran tarif secara tunai. Jadikan pastikan kita memiliki ketersediaan uang bath yang cukup untuk naik suatu bus. Saat penumpang naik ke dalam bus, ada petugas kondektur yang akan menarik bayaran atau sewa. Kita tinggal menyebutkan kemana tujuan kita, mereka langsung akan memberikan hitungan tarif yang mesti kita bayar. Besar kecilnya tarif yang dikenakan tentu sebanding dengan jauh-dekatnya jarak tempuh atau tujuan kita. Sebaiknya kita membayar dengan uas pas untuk memudahkan kedua belah pihak. Namun jika terpaksanya kita membayar dengan uang besar, para kondektur tetap ramah untuk memberikan uang kembali.

Ada beberapa terminal bus di Bangkok. Ada yang dikhususkan untuk bus kota, ada pula bus antar kota yang menghubungkan dengan kota-kota lain di luar Bangkok. Ada satu semi terminal di pusat kota yang menjadi titik penting dan merupakan titik simpul hampir seluruh jalur layanan bus yang ada di Bangkok. Bunderan Victory Monument di Jalan Phaya Thai pada lingkar luarnya merupakan deretan halte bus yang menjadi semi terminal tersebut. Dari Dongmeng Airport kita bisa naik bus A2 hingga di bunderan ini untuk kemudian menuju bagian kota yang lain dengan bus yang berbeda atauppun dengan BTS.

 

Hal paling istimewa saat naik bus kotaya Bangkok adalah tidak dikenakannya tarif kepada penumpang anak-anak dengan usia di bawah 12 tahun. Bus menjadi pilihan transortasi paling hemat. Dari tempat menginap di Hotel Asia Bangkok, kami pernah menggunakan bus ke beberapa lokasi, seperti ke Lumphini Park, ke Khaosan Road, ke Siam Center, juga dari Chatu Chak Market ke Victory Monument. Meskipun di jam-jam tertentu kondisi lalu lintas Bangkok sangat padat, bahkan macet, namun secara umum perjalanan senantiasa lancar. Semacet-macetnya Bangkok masih belum mengalahkan macetnya ibukota negeri kita, Jakarta. Kesimpulan kami, menikmati Bangkok dengan bus kotanya cukup nyaman dan memberikan kesan yang baik. Bagaimanapun transportasi bus kota di Bangkok cukup memadai untuk menunjang aktivitas jalan-jalan kita di ibukota negeri yang dipimpin Maha Raja Vajiralongkorn ini.

Selain bus dan tuktuk, sebenarnya ada pula alat transortasi yang mirip angkot. Dengan warna orange berkepala mobil kijang dengan pintu kabin penumpang menghadap ke sisi belakang. Di pintu belakang juga tersedia pijakan besi sekaligus besi pegangan untuk penumpang yang terpaksa nggandhul. Jenis kendaraan ini benar-benar serupa dengan colt ataupun oplet. Di jalanan agak sempit yang masuk ke kampung-kampungnya Bangkok banyak dilayani dengan kendaraan ini. Mungkin sekali-kali wisatawan asing perlu naik angkot ini untuk benar-benar merasakan dan berbaur dengan warga Bangkok.

Ngisor Blimbing, 23 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s