Masjid Ton Son, Masjid Tertua di Kota Bangkok


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (8)

Tepat sehari sebelum blusukan kami ke Masjid Jawa, kami sempat singgah di Masjid Ton Son. Masjid ini telah berdiri semenjak abad 17 dimana pusat pemerintahan Kerajaan Thailand masih berada di Ayutthaya dan belum dipindahkan ke Bangkok. Tidak mengherankan jika masjid dengan dominasi warna kuning krem ini mendapat julukan sebagai masjid tertua di Thailand.

Masjid Ton Son berlokasi di 447 Arun Amarin Rd, Wat Arun, Bangkok Yai, Bangkok 10600, Thailand. Kebetulan di siang itu kami berwisata ke kawasan Royal Grand Palace, Wat Pho, kemudian menyebarang ke sisi sungai Chao Phraya ke Wat Arun. Setelah puas dengan berkeliling kuil Wat Arun, melalui pintu keluar sisi belakang kami menyusuri sebuah gang perkampungan. Jalanan tersebut mengantarkan ke sebuah jalan yang lebih besar. Kami mengambil arah belok kiri hingga tiba di depan sebuah markas tentara Thailand. Tepat di depan gerbang markas tersebut kami mengambil jalan arah kanan hingga tiba pada sebuah perempatan lampu merah.

Dari perempatan lampu merah kami terus berjalan ke arah kiri. Sebelum tanjakan jembatan anak sungai Chao Phraya, kami menyeberang jalan. Kami susuri sebuah jalan mobil satu arah di sisi tanjakan jembatan. Di sebelah kanan kami menjumpai dinding tembok setinggi kurang lebih tiga meter. Di ujung dinding ini terdapat gang kecil arah kanan. Di sudut masuk gang inilah ada sebuah gerbang ke sebuah pelataran. Di sinilah Masjid Ton Son berdiri dengan anggunnya.

Pada saat kami datang ada sebuah keluarga muslim warga asing yang tengah singgah pula untuk menunaikan sholat. Kebetulan waktu itu menjelang waktu sholat Ashar segera tiba. Saat kami menumpang toilet di bagian belakang kompleks masjid, kami menjumpai sepesang suami istri pengurus masjid yang tengah mempersiapkan sebuah menu masakah di ruang dapur yang terbuka. Tent dengan senyum ramah, mereka sepatah dua patah kata menyapa kami.

Saat kami akan kembali ke sisi depan masjid, kami mendapati sebuah jalur setapak melingkar di samping belakang masjid. Dengan sedikit rasa penasaran kami ikuti jalur setapak tersebut. Ternyata apa yang kami dapati? Deretan patok kayu putih sepasang-sepasang bercat putih polos mendominasi halaman belakang Masjid Ton Son. Rupanya area belakang dan sisi samping depan merupakan area pemakaman kaum muslim setempat. Kedekatan masjid dan makam dalam satu lingkungan tentu bukan sebuah hal yang baru. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW sendiri dimakamkan di area Masjid Nabawi di Kota Madinah Al Munawaroh.

Setelah mengambil air wudlu, kamipun memasuki ruang sisi samping. Ruang ini senantiasa terbuka untuk para musafir yang singgah untuk menunaikan sholat lima waktu. Sebuah ruang berbentuk persegi panjang dengan beberapa deret kipas angin di pinggirannya. Hamparan karpet dan sajadah tertata rapi mengarah ke kiblat. Kami bergegas menunaikan sholat, Dzuhur dan Ashar kami jamak qosor-kan. Suasana masjid yang sejuk semilir menjadi sebuah oase tersendiri di tepian sungai Chao Phraya yang tengah terik-teriknya di siang tersebut.

Tatkala kala kami telah selesai menunaikan sholat. Kami duduk-duduk di serambi masjid sambil meluruskan pergelangan kaki. Beberapa pengurus masjid tengah menyemprotkan air melalui sebuah selang ke area makam di sisi samping depan masjid. Sejenak kemudian kami terlibat sedikit perbicangan. Salah seorang Pak Haji datang mengendarai motor. Iapun nimbrung dengan obrolan kami. Tidak lupa kami memperkenalkan diri sebagai muslim dari Indonesia. Mereka tersenyum ramah dan tampak sungguh gembira menerima kedatangan kami.

Pak Haji sempat menjelaskan bahwa pintu ruang samping untuk sholat seringkali ditutup. Meskipun ditutup, pintu tersbeut tidak pernah dikunci. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kucing yang seringkali masuk dan mengencingi karpet masjid. Jadi siapapun dan darimanapun muslim yang sedang bermusafir dataang, Masjid Ton Son senantiasa terbuka. Mereka very super welcome wis pokoke!

Saat detik waktu Ashar tiba, tidak terlihat kedatangan para jamaah yang akan sembahyang. Salah seorang pengurus hanya membuka pintu, masuk ke dalam ruang sholat, dan mengerjakan sholat sendirian. Tidak ada adza yang dikumandangkan. Hal ini nampak sangat berbeda di waktu Maghrib, Isya’, maupun Subuh dimana di seantero Bangkok senantiasa sayup terdengar kumandang adzan. Mungkin secara aturan kumandang adzan memang hanya diperkenankan untuk waktu sholat saat malam. Adapun saat siang hari, adzan tidak dikumandangkan secara keras. Entahlah.

Sungguh kami merasa sangat beruntung diperkenankan mengenal sedikit warna Islam di Negeri Gajah Putih.

Kulon Balairung, 17 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s