Wat Arun: Pagoda Matahari Terbit di Tepian Chao Phraya


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (7)

Mengunjungi Bangkok, mengunjungi Kota Sejuta Pagoda. Mengunjungi Bangkok, tentu tidak lengkap jika tidak mengunjugi pagoda termasyur. Nama lengkap pagoda yang satu ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara, atau cukup disebut Wat Arun. Wat Arun diambil dari nama Aruna, Dewa Fajar. Dengan demikian, Wat Arun juga syah disebut sebagai Pagoda Matahari Terbit. Istilah kerennya the Temple of Dawn.

Wat, vihara, kuil, candi, atau pagoda mengacu peristilahan yang sama, yaitu tempat ibadah ummat Budha di negeri-negeri Indochina (Thailand, Myanmar, Kampuchea, Laos, maupun Vietnam). Wat Arun menjadi pagoda paling populer dan favorit dikunjugi wisatawan manca negara. Berbagai lukisan, souvenir, dan karya seni khas bangkok menjadikan Wat Arun sebagai hiasannya.

Keberadaan Wat Arun di tepian sungai Chao Phraya menjadikan pagoda yang satu ini paling mudah dicapai melalui jalur transportasi sungai. Dari dermaga penyeberangan Saphan Taksin, ada shuttle boat yang melewati dan merapat di dermaga depan Wat Arun. Bila sebelumnya kita berkunjung ke kawasan Royal Grand Palace atau Wat Pho, dari sudut barat laut Wat Pho pengunjung dapat melintas jalan perempatan dimana banyak tuktuk ngetem, melintas pasar, dan menyeberang melalui dermaga Tha Tien. Untuk menyeberang ke Wat Arun pengunjung harus menaiki perahu penyeberangan dengan tarif 4 THB atau kurang dari Rp 2.000,-.

 

Wat Arun memiliki puncak vihara dengan ketinggian mencapai 82 meter. Dari kejauhan nampak jelas menara tersebut mewakili bentuk stupa sebagai unsur dasar tempat ibadah ummat Budha di seluruh dunia. Berbeda dengan Wat Pho atau Temple of Emarald Budha di kompleks dalam The Royal Grand Palace yang sama-sama di seberangnya yang mewajibkan semua area kuil berbayar, di Wat Arun ada area yang bebas bayar dan ada pula area yang berbayar. Memasuki Wat Arun dari sisi utara, kita langsung disambut perawakan dua patung tinggi besar ke salah satu lorong pagoda di sudut kanan. Titik sangat ikonik, sehingga banyak wisatawan yang berfoto berlatar dua patung tersebut ketika memasuki Wat Arun.

Di Wat Arun, pengunjung dapat berkeliling dan memasuki beberapa bangunan pagoda tanpa bayar. Hanya saja yang sangat penting untuk diperhatikan, setiap pengunjung diwajibkan berpakaian sopan. Untuk memasuki ruang utama pagodapun pengunjung harus melepas alas kaki dan menanggalkan topi untuk menjaga kesucian serta sebagai bentuk penghormatan. Bahkan ada diantara pengunjung yang kami lihat turut memanjatkan doa dan memohon restu kepada beberapa bhiksu yang ada di dalam ruang ibadah.

Daya tarik utama Wat Arun adalah pada bangunan tinggi menjulang bagaikan menara yang menantang langit dengan ketinggian 82 meter. Selain menggambarkan dengan sangat jelas bentuk stupa Budha, saat kita mendekat dan tepat berada di bawah bayangnya, kita seolah mendapatkan kesan kemiripan struktur bangunan tersebut dengan Candi Prambanan. Bentuk ramping dan tinggi menjulang, demikianlah gambaran dari Wat Arun. Area “candi” inilah yang merupakan kawasan berbayar. Untuk memasuki area ini, pengunjung dikenakan tarif 50 THB.

Hal yang paling unik dari candi Wat Arun adalah ornamen hiasnya yang sangat detail. Ornamen yang didominasi bentuk bunga dan dedaunan tersebut lebih menakjubkan lagi karena merupakan serpihan keramik yang ditata dan ditempel dengan sangat teliti dan rapi, bukan lukisan cat berwarna ataupun ukiran relief. Bentuk yang sungguh unik nan indah tersebut tentu didesain dan dibuat oleh tangan-tangan dengan cita rasa seni yang tinggi, dengan tingkat ketrampilan yang tidak main-main, dan dengan ketekunan yang sungguh luar biasa.

 

Sebagaimana arsitektural Candi Borobudur di negeri kita, pada menara pagoda ini pengunjung dapat naik melalui terap anak tangga di ke empat sudut. Saat menapaki anak tangga untuk naik, pengunjung haru ekstra hati-hati karena selain anak tangga yang sempit, anak tersebut juga sangat curam. Tangga-tangga curam tersebut merupakan akses ke teras atas candi yang terdiri atas tiga tingkatan. Dari masing-masing teras, pengunjung dapat berjalan melingkar (pradhaksina) melingkari badan candi ke sisi kiri maupun kanan. Jerih payah untuk naik ke teras akan segera terbayar manakala kita sudah berada di teras candi dengan pemandangan yang jauh lepas ke sungai Chao Phraya sisi hulu maupun hilir. Di saat yang sama kitapun dapat merasakan kesejukan tiupan angin yang berhembus dari batang sungai yang terbesar di Thailand tersebut.

Wat Arun menjadi well recommended temple in Bangkok versi keluarga kami. Monggo sekali-kali menengok ke sana.

Kulon Balairung, 16 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s