Masjid Jawa di Belantara Kota Sejuta Pagoda


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (6)

Penduduk Kota Bangkok, sebagaimana warga Thailand pada umumnya, mayoritas menganut agama Budha. Thailand merupakan negeri ayng identik dengan agama Budha. Agama Budha merupakan agama dengan penganut terbesar di Negeri Gajah Putih. Tidak mengherankan dominasi tempat ibadah di negeri ini adalah kuil Budha, atau secara khusus kita kenal sebagai pagoda. Tidak mengherankan pula jika Bangkok pada khususnya memiliki salah satu julukan sebagai Kota Sejuta Pagoda.

Namun demikian, sebagian warga Thailand khususnya di Bangkok, ada juga yang warganya merupakan penganut agama Islam. Bahkan penganut agama Islam tercatat sebagai pemeluk agama terbesar ke dua setelah agama Budha di seluruh negeri. Salah satu kelompok ummat muslim yang cukup besar tinggal di sekitar Masjid Jawa.

Penamaan Masjid Jawa tentu bukan tanpa sebab asal-usul maupun tujuan. Dari namanya, tentu kita akan langsung menduga ada “sesuatu” kaitan antara Masjid Jawa di Bangkok dengan orang Jawa atau suku Jawa di Indonesia. Masjid Jawa yang sudah berusia lebih dari satu abad ini konon memang dibangun pada tahun 1906 di atas tanah seorang Jawa bernama H. Muhammad Saleh. Ulama ini berasal dari daerah Rembang dan merupakan mertua dari KH Ahmad Dahlan, pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. Sumber lain mengatakan H. Muhammad Saleh merupakan besan dari Kyai Dahlan dan merupakan mertua dari Pak Irfan bin Ahmad Dahlan (red).

Perkembangan jumlah muslim di Thailand mengalami peningkatan paling pesat saat Perang Dunia II. Dalam rangka ekspansi ke Negeri Asia lainnya, Jepang mengerahkan tenaga romusha warga Jawa ke Thailand. Mereka dijadikan tenaga kerja dalam rangka membangun jalur rel kereta api dari Thailand ke Burma.

 

Generasi ummat muslim di Kampung Jawa saat ini merupakan generasi ke tiga. Mereka tentu sudah sedemikian menyatu dan mendarah daging sebagai orang Thailand. Dari sisi bahasa, generasi tersebut kebanyakan sudah tidak lagi berbahasa Jawa. Meskipun begitu, dari sisi adat istiadat dan tradisi, di lingkungan masyarakat muslim Jawa tersebut masih banyak diterapkan warisan leluhur mereka. Tradisi slametan, kendurian, peringatan seratus hari, setahun, seribu hari orang meninggal juga masih dilakukan. Bahkan saat kami berkesempatan

Dalam kunjungan selama beberapa hari di Bangkok, kami tentu merasa kurang lengkap tanpa berkunjung ke Masjid Jawa. Kebetulan hari ke tiga kami di sana bertepatan dengan Hari Jum’at. Sebelumnya si Ponang, sulung kami, telah dengan sangat semangat googling tentang Masjid Jawa. Sehingga dimana letak masjid tersebut, naik apa ke sana, lewat gang mana, seolah di pikirannya sudah terbentang peta jalan yang sangat jelas.

Selepas bersantai ria menghirup udara segar Bangkok di Taman Lumphini, kami menuju stasiun BTS Sala Daeng. Hanya berselang satu stasiun, kami tiba di stasiun Surasak. Keluar dari stasiun arah kiri, ada sebuah perempatan dimana jalan sisi kiri menuju ke tol utama Bangkok. Menyusur tepian jalan masuk tol tersebut, kami memasuki sebuah gang masuk kampung. Kami susuri terus gang kampung tersebut. Kebetulan beberapa orang dengan baju muslim sedang bergegas hendak menunaikan ibadah Jum’at. Kamipun tinggal mengikuti saudara-saudara seiman seislam tersebut.

Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek, daerah Sathorn, di wilayah yang tinggal satu blok dengan tepian sungai Chaor Phraya inilah terletak Masjid Jawa Bangkok.  Dengan dominasi warna hijau cerah, masjid ini memiliki atap susun tiga terap. Bentuk ini mengingatkan kepada arsitektural Masjid Agung Demak ataupun Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Bentuk limas susun tiga terap ini menggambarkan landasan islam, iman, dan ikhsan yang harus menjadi dasar hidup setiap pribadi muslim. Tiga tingkatan tersebut juga sekaligus menjadi penggambaran tiga tingkatan pencapaian kemuliaan rohani seseorang, meliputi tingkatan syariat, ma’rifat, dan hakikat.

Tepat di puncak limas atas susun terap tiga tersebut duduk dengan gagahnya sebuah mustaka, disebut juga molo, alias puncak masjid. Bentuk mustaka yang ada merupakan perlambang gada tunggal. Gada tunggal tersebut melambangkan kekuatan Yang Maha Tunggal, Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.

Ruang utama sholat di dalam masjidpun tak ubahnya masjid di Jawa pada umumnya. Menyangga atap limas terap tiga yang telah dibahas di atas, terdapat empat buah saka guru alias tiang penyangga utama bangunan masjid. Dengan dominasi tiga pasang pintu kaca dan jendela kaca di sisi kanan-kiri masjid, menjadikan suasana masjid senantiasa terang benderang dari masuknya cahaya matahari. Ditambah dengan hembusan angin sepoi sejuk dari kipasa angin yang dipasang pada beberapa sudut menjadikan hawa udara di dalam ruang utama sangat sejuk. Tak heran saat Jum’atan tengah berlangsung, tidak sedikit jamaah yang terbawa hawa kantuk hingga ke alam mimpi.

Ada satu lagi pemandangan di lingkungan masjid yang sangat khas. Keberadaan makam muslim. Bahkan junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sendiri setelah wafat dimakamkan di lingkungan sekitar masjid. Hal ini seolah menjadi rujukan keberadaan tanah makam di lingkungan sekitar masjid. Hal ini tidak ubahnya dengan Masjid Jawa di Bangkok. Di sisi seberang jalan gang, terdapat sebuah area makam. Tentu jenazah yang dimakamkan di dalam merupakan jenazah ummat muslim yang meninggal. Bakda sholat Jum’at kami melihat beberapa bapak-bapak memasuki area makam dan berziarah kepada sanak-saudaranya yang telah bersemayam di alam kubur.

 

Sayangnya ketika kami berkunjung, kami tidak berkesempatan berinteraksi banyak dengan penduduk sekitar. Paling satu-dua saudara seagama yang berjumpa hanya sedikit bertegur sapa, bahkan kebanyakan hanya sekedar saling berlempar senyum. Tentu hal ini sama sekali tidak mengurangi makna rasa persaudaraan kami sebagai sesama ummat Muhammad SAW. Masjid Jawa benberar-benar menjadi oase ummat Islam yang sungguh menyejukkan di tengah hiruk pikuknya Kota Bangkok dari ramainya sejuta pagoda yang senantiasa menggoda wisatawan untuk berkunjung lebih dekat, lebih akrab.

Kulon Balairung, 15 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s