Hormat Raja, Hormat Bangsa, Hormat Saat Senja


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (4)

Jelang senja di Stasiun Hua Lampong, Bangkok Central. Ketika ribuan calon penumpang tengah duduk ataupun berdiri di peron stasiun, menunggu keberangkatan kereta masing-masing. Di saat yang sama, ada pula calon penumpang yang masih antri di loket tiket. Ada lagi duduk berlesehan ria di lantai hall stasiun yang luas karena tidak kebagian tempat duduk. Ada pula para bante berpakaian coklat muda yang duduk di kursi tunggu khusus. Tepat saat detik pukul 18.00 dan bersamaan tenggelamnya matahari di ufuk barat, tiba-tiba semua orang di stasiun tersebut serentak berdiri. Seolah mendapat aba-aba tertentu, mereka langsung menghadap ke satu arah dengan sikap sempurna sebagai tanda mereka sedang memberikan sebuah penghormatan. Ada apa gerangan?

Demikian semua orang berdiri serentak, menghadap dengan sikap sempurna, bersamaan dengan itu sebuah tivi monitor raksasa yang dipasang di atas gerbang utama pintu masuk area peron stasiun segera memutar sebuah tampilan video. Ada gambar raja yang tampil anggun dengan pakaian kebesarannya. Ada penampakan grand palace yang indah nan megah. Ada pula kibaran bendera merah-putih-biru-putih-merah yang berwibawa. Semua tampilan kebesaran Kerajaan Thailand tersebut diiringkan dengan sebuah lagu yang merupakan lagu kebangsaan bangsa Thai yang besar.

Kamipun meskipun hanyalah sekedar tamu yang numpang tinggal beberapa hari di Negeri Gajah Putih turut larut dalam suasana yang cukup khitmad. Baru kali tersebut kami menemukan momen penghormatan harian dari setiap anak bangsa kepada raja yang dijunjung tinggi, kepada kerajaan yang dicintai, kepada bendera yang dihormati selalu, kepada lagu kebangsaan yang dilafalkan dengan syahdu, dan uniknya hal tersebut terjadi di Bangkok dan mungkin di setiap pelosok wilayah Kerajaan Muangthai.

Thailand atau Muangthai merupakan sebuah negara berbentuk kerajaan monarkhi. Raja adalah  simbol pemimpin negara tertinggi. Dalam urusan pemerintahan sehari-hari, negara Gajah Putih dipimpin oleh seorang perdana menteri. Raja, bendera, dan lagu kebangsaaan adalah simbol-simbol eksistensi negara atau kerajaan. Nasionalisme dalam setiap dada rakyat Thailand setidaknya dibangun berlandaskan kepada kecintaan dan kepatuhan terhadap ketiga simbol tersebut. Mungkin apa yang kami jumpai di Stasiun Hua Lampong senja tersebut merupakan salah satu cara atau metode bagaimana negara tetap dan terus menanamkan semangat kecintaan atau patriotisme kepada kerajaan.

Dari pengalaman yang hanya sepenggal waktu berkunjung dalam beberapa hari di ibukota Bangkok, setidaknya kami mendapatkan betapa raja sungguh dihormati rakyatnya. Hampir di setiap sudut kota, terutama di tempat-tempat umum betapa sangat banyak terpasang foto raja dengan pakaian kebesaran militernya. Demikian halnya di perkantoran, sekolah, hingga rumah-rumahpun senantiasa dihiasi dengan foto sang raja. Raja seolah ingin ditempatkan dalam setiap sanubari warga Thailand. Raja adalah kerajaan. Raja adalah bangsa Thailand itu sendiri.

Dalam kesempatan lain bertepatan dengan detik-detik senja saat sang surya tenggelam, kebetulan kami tengah menonton siaran sebuah tivi lokal. Tepat saat pukul 18.00-pun ternyata tivi tersebut memberikan jeda sejenak untuk mengumandangkan lagu kebangsaan negara. Apa yang diputar dalam tivi tersebut merupakan tayangan yang sama persis dengan apa yang kami saksikan di Stasiun Hua Lampong. Dengan demikian kami berkesimpulan bahwa detik surya tenggelam seluruh lapisan rakyat Thailand bekhitmad sejenak untuk memberikan penghormatan kepada raja, kepada bendera, kepada lagu kebangsaan, dan tentunya kepada kerajaan Thailand itu sendiri.

Tanah air, kerajaan, dan juga raja adalah milik seluruh rakyat Thailand. Kehormatan dan penghormatan terhadap simbol-simbol kerajaan sudah sepantasnya senantiasa dilakukan dalam setiap nafas pada setiap saat. Tanah air, kerajaan, raja, dan rakyat harus senantiasa bersatu padu dan tidak terpisahkan dalam jiwa raga sanubari rakyat Thailand seluruhnya. Penghormatan terhadapnya sudah sepantasnya dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Penghormatan tidak hanya harus dilakukan dan kemudian menjadi milik pegawai kerajaan, pegawai pemerintah, orang kantoran, anak sekolahan, dan semua simbol institusi formal, namun menjadi milik seluruh kalangan rakyat tanpa membeda-bedakan status sosial dan kedudukan apapun. Maka dari itu penghormatan bersama dapat dilakukan dimanapun termasuk di stasiun ataupun di rumah setiap lapisan masyarakat Thailand. Sungguh sebuah teladan nilai patriotisme dan nasionalisme yang luar biasa.

Raja Maha Vajiralongkorn (Raja Rama X) yang saat ini bertakhta bisa jadi di masa jabatannya sebagai putra mahkota maupun saat awal bertakhta menggantikan ayahandanya (Raja Bhumibol Adulyadej) mengundang banyak kontroversi, namun sebagai simbol pemersatu kerajaan ia senantiasa dihormati oleh seluruh rakyat Thailand. Penghormatan rakyat Thailand kepada pemimpinnya mungkin bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan rakyat di negara lain.

Ratchathewi, 12 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hormat Raja, Hormat Bangsa, Hormat Saat Senja

  1. harga nasi gorengnya mahal, semangkok 100.000, hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s