Antri Ojek Bangkok City


ENAM HARI LIMA MALAM BERTUALANG KELUARGA KE BANGKOK (3)

Bangkok kota macet! Bangkok, sebagaimana Jakarta dan mungkin kota besar yang lain di Asia, dikenal dengan kepadatan penduduknya yang sangat tinggi. Hal ini kemudian berbanding lurus dengan populasi kendaraan dan tingkat kepadatan lalu lintasnya. Bangkok dengan hari-harinya yang macet adalah hal yang biasa. Pemandangan ini paling terasa kental di setiap pagi dan petang dimana orang-orang berlalu lalang untuk pergi dan pulang beraktivitas.

Pemerintah Kota Bangkok tentu terus mengupayakan pembangunan sektor transportasi jalan raya untuk mendukung mobilitas harian di ibu kota Negeri Gajah Putih ini. Infrastruktur transportasi, mulai dari tuktuk, angkot, metromini, bus, terus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya. Namun demikian, keseluruhan moda tersebut belum sepenuhnya bisa menjawab tantangan kemacetan yang semakin parah. Sebagaimana Jakarta, hal ini ternyata juga membuka peluang layanan jasa transportasi motor, alias ojek.

Jika di hampir setiap sudut Jakarta kita dengan mudah menjumpai abang ojek dengan motornya sedang berzig-zag ria di jalanan mengantarkan penumpang, ataupun menunggu calon penumpang di pangkalan ojek di pojokan perempatan jalan, hal yang kurang lebih serupa juga dengan sangat mudah dijumpai di Bangkok. Sangat bedanya, setiap tukang ojek di Bangkok berseragam rompi warna ungu, lengkap dengan nama diri di dadanya. Hebatnya lagi, di setiap pangkalan ojek terdapat papan resmi yang menampilkan nama anggota tukang ojek yang mangkal. Tidak tanggung-tanggung, papan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Dan ada semacam aturan tegas bahwa hanya tukang ojek anggota pangkalan saja yang diperbolehkan mengambil penumpang di suatu pangkalan.

Di pagi pertama kedatangan kami di Bangkok, kami sengaja jalan pagi menyusuri jalanan depan hotel. Phaya Thai Road, demikian salah satu jalan utama yang membentang dari National Stadium hingga Victory Monument. Pada salah satu sudut perempatan, kami terhenyak dengan sebuah pemandangan yang kurang lazim. Ada banyak orang antri rapi dalam sebuah berisan di tepian jalur trotoar. Ada ibu-ibu berjas rapi. Ada bapak-bapak berdasi mulus. Ada anak sekolah, ada mahasiswa juga. Ada pekerja non-formal dan lain sebagainya. Awalnya kami mengira mereka tengah antri pesanan makanan selayaknya “nasi uduk” untuk sarapan pada pedagang kaki lima. Namun perkiraan kami segera pudar, karena di ujug antrian terdepan sama sekali tidak ada penjual makanan. Lalu mereka sedang antri apa coba?

Ternyata mereka sedang mengantri abang ojek yang akan mengantar mereka ke tempat tujuan aktivitas. Jika BTS atau MRT atau kereta api telah mengantar penumpang hingga stasiun terdekat, maka warga tersebut masih tetap membutuhkan sarana transportasi jika tempat tujuan tidak atau jauh dari stasiun. Demikian yang naik bus, halte ataupun bus stop sangat mungkin hanya di jalanan utama. Untuk masuk mblasuk ke jalanan kecil, tentu mereka juga butuh sambungan kendaraan. Maka ojeklah yang kini menjadi jawaban sementara bagi permasalahan tersebut.

Lebih luar biasanya lagi, ternyata di papan yang terpampang di setiap pangkalan ojek tidak hanya mencantumkan data nama abang ojek, foto, dan nomor identitas, ada juga tambahan informasi yang sangat penting bagi calon penumpang, yaitu wilayah operasi antaran dan tarif resminya. Hal ini tentu sangat memudahkan bagi calon pengguna karena akan terhindar dari pemalakan tarif ojek. Dengan aturan tersebut, penumpang tidak perlu tawar-menawar harga lagi dan dapat menggunakan ojek kesayangan dengan nyaman.

Sebagaimana perkembangan dunia digital, sebenarnya di Bangkok juga ada layanan ojek berbasis online. Namun sepanjang keberadaan kami di Bangkok selama beberapa hari ini hampir sama sekali tidak menjumpainya. Beberapa layanan jasa ojek online yang melintas hanya khusus melayani antaran makanan kepada pelanggan. Mungkin kebijakan semacam ini bisa menjadi trend win-win solution untuk tetap melindungi keberadaan ojek pangkalan yang tidak harus terlalu ribet dengan urusan online per online-an. Kemajuan teknologi tentu menjadi sebuah keharusan. Namun demikian sekiranya dengan cara konvensional suatu permasalahan telah dapat terselesaikan dengan efektif dan efisien, apalah perlunya memaksakan diri harus serba online. Setidaknya mungkin ada suatu kesadaran juga bahwa yang serba online terkadang, bahkan sering, justru membuat manusia saling terasing satu sama lain jika tidak tetap dibarengi dengan interaksi sosial yang memadai.

Ratchathewi, 12 Januari 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Antri Ojek Bangkok City

  1. Sewa Mobil berkata:

    Di bangkok ada tempat sewa mobil atau hanya rental motor saja om?

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Sewa mobil juga ada. Ada yang berbasis online semacam grab atau uber. Ada juga berbagai aplikasi online untuk sewa mobil jam-an, atau harian. Saat pertama mendarat di Don Meung airport kami menuju pusat kota dengan sewa mobil lewat aplikasi Klook. Ada pula taksi meter dan taksi tradisional (alias tuktuk)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s