Selamat Jalan Ustadz Yunahar Ilyas


Berita kepergiannya di medsos sungguh mengejutkan. Salah seorang tokoh cendekiawan dan pendakwah Muhammadiyah yang senantiasa menjadi rujukan perihal seluk-beluk urusan fikih tersebut ternyata telah dipanggil-Nya. Prof.Dr.KH. Yunahar Ilyas, L.C.,M.Ag. telah berpulang keharibaannya pada Kamis, 2 Januari 2020 menjelang tengah malam di RSUP Sardjito, Yogyakarta. Kita, Muhammadiyah, ummat muslim, dan Indonesia kembali kehilangan sosok putra, ulama, suri tauladan terbaiknya.

Kepergian beliau di Hari Jumat ini langsung mengingatkan saya akan khutbah Jumat yang disampaikannya di Masjid Kampus UGM sekitar setahun silam. Khutbah Jumat 25 Januari 2019. Khutbah tersebut rupanya menjadi khutbah beliau yang turut kami dengar dengan khitmad dan senantiasa teringat hingga saat ini. Lain daripada khutbah Jumat yang selazimnya menghantarkan jamaah ke puncak kantuk, bahkan tidur pulas, khutbah beliau sungguh menarik. Dan anehnya saya kala itu bisa dengan penh minat dan konsentrasi menyimaknya dengan seksama hingga menyimpan di dalam memori hingga masih terngiang hingga hari ini.

Khutbah tersebut bertema Enam Kewajiban Seorang Muslim terhadap Al Qur’an. Al Qur’an menurut beliau merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Ada banyak kandungan isi Al Qur’an, diantara yang langsung disinggung dalam khutbah Usradz Yunahar adalah kabar atau ramalan masa depan. Di dalam salah satu surat Al Qur’an disinggung mengenai keruntuhan imperiuam Kekaisaran Persia yang saat itu merupakan negeri adikuasa yang sangat kuat. Nabipun menyampaikan wahyu berita tersebut kepada para sahabat.

Tatkala selang waktu yang dikisahkan dalam berita tersebut hampir dekat, para sahabat merasa khawatir jika berita tersebut tidak menjadi kenyataan. Nabi kembali menegaskan bahwa para sahabat harus meyakini kebenaran berita dari Al Qur’an. Keyakinan yang tebal terhadap Al Qur’an menjadi landasan dan modal utama kewajiban ummat Islam kepada Al Qur’an sebagaimana ketentuan bahwasanya iman kepada Al Qur’an merupakan salah satu dari Rukun Iman yang enam. Terbukti beberapa bulan berselang Kekaisaran Persia yang megah dan berkuasa ternyata tumbang oleh bangsa Romawi di bawah kepemimpinan Alexander Agung atau yang juga dikenal sebagai Iskandar Zulkarnain.

Berpijak dari kisah sejarah tersebut, Ustadz Yunahar kemudian menguraikan ada enam kewajiban seorang muslim terhadap kitab suci Al Qur’an. Keenam tersebut, meliputi mengimani, mempelajari, membaca, memahami, mengamalkan, dan membela Al Qur’an.

Setelah menanamkan keyakinan atau keimanan kepada Al Qur’an, seorang muslim wajib mempelajari Al Qur’an. Bagaimana cara membaca sesuai ketentuan makhrat dan tajwid yang benar, bagaimana isi dan kandungannya, bagaimana tafsirnya harus kita pelajari. Dengan berguru kepada para ahli Qur’an, mengaji iqra’, melalui berbagai kajian tafsir, lewat pengajian-pengajian hal tersebut dapat kita lakukan. Bukankah semulia-mulianya sebuah majlis adalah majlis yang di dalamnya terdapat pembelajaran tentang Al Qur’an?

Tidak hanya belajar tentang Al Qur’an dan mengetahui berbagai hal terkait dengannya, ummat Islam juga harus mau membaca Al Qur’an. Ayat pertama yang diturunkan itupun merupakan perintah untuk iqra, membaca! Membaca dalam arti wantah adalah membaca tekstual ayat-ayat dan surat-surat yang terkandung di dalam Al Qur’an. Dalam masyarakat Jawa kegiatan membaca atau semakan Qur’an ini dikenal sebagai nderes Qur’an. Nderes, bisa bermakna mengarus-utamakan, menghanyutkan diri di dalam lautan ilmu dan hikmahnya Qur’an. Nderes, juga dapat diartikan menyadap sebagaimana menyadap sari peti nila kelapa untuk dijadikan gula manis. Bukankah menmbaca Qur’an sangat besar pahalanya? Dihitung huruf per huruf sebagai anugerah kemurahan Allah SWT. Bukankah pula sebaik-baiknya sebuah rumah adalah rumah yang dihias di dalamnya dengan bacaan Al Qur’an? Demikianlah Qur’an harus dibaca.

Diimani sudah. Dipelajari sudah. Dibaca sudah. Sampailah ummat Islam untuk memahami Al Qur’an.  Memahami menjadi luas dan lengkap dengan menyatukan pengetahuan bacaan tekstual dengan makna konteksualnya. Melalui berbagai buku tafsir, berguru kepada para ahli alim ulama, melalui berbagai kajian temaki Qur’an diharapkan ummat Islam dapat memiliki pemahaman yang mendalam tentang kitab suci agamanya. Dengan perantara pemahaman yang baik, barulah ummat Islam akan dapat mengamalkan kandungan isi dan tuntunan Al Qur’an dengan lebih baik dan tepat yang merupakan kewajiban pribadi muslim yang ke lima.

Jika ummat Islam sudah sampai pada tataran mengamalkan Al Qur’an, maka Qur’an akan menjadi hiasan akhlak dan budi pekerti orang Islam. Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW sendiri diakui memiliki keluhuran akhlak sebagaimana ungkapan istri beliau bahwa akhlak Muhammad adalah Al Qur’an itu sendiri. Tak salah jika kemudian Muhammad diibaratkan Al Qur’an yang berjalan. Segala pikiran, ucapan lisan, tingkah laku Muhammad tidak lain dan tidak bukan adalah Al Qur’an itu sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika beliau diakui sebagai sosok manusia paling berpengaruh sepanjang jaman.

Jika Qur’an sudah diimani, sudah dipelajari, sudah dibaca, sudah dipahami, sudah diamalkan maka kewajiban selanjutnya bagi seorang muslim terhadap Al Qur’an adalah membelanya jika ada pihak yang menghina, mengejek, menginjak-injak ajaran Al Qur’an. Tidak hanya pembelaan dengan kata-kata dan tindakan, jika perlu berperang, berjihad dalam membela kehormatan Al Qur’an harus dilakukan oleh setiap insan muslim. Tidak hanya pikiran dan tenaga, jiwa dan ragapun jika diperlukan untuk membela Al Qur’an harus direlakan oleh ummat muslim.

Demikianlah apa yang masih terngiang dan terimat dari khutbah Ustadz Yunahar hampir setahun silam. Dengan kepergian beliau kita semua tentu merasa sangat kehilangan. Kami turut menjadi saksi bahwa beliau adalah sosok pribadi yang baik. Orang baik. Semoga kepergiannya khusnul khotimah, segala amal ibadah diterima di sisi-Nya, dimuliakan di haribaan-Nya. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Ngisor Blimbing, 3 Januari 2020

Gambar dipinjam dari situs Muhammadiyah

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Tokoh dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s