Pesona Situs Istana Kaibon Banten Lama


Salah satu jejak sejarah Kasultanan Banten adalah keberadaan Istana Kaibon. Istana tersebut merupakan situs reruntuhan salah satu istana Kasultanan Banten yang sangat penting. Situs ini masih berada di Kawasan Banten Lama, tepat di sisi kiri jalan Serang arah Banten Lama atau Pelabuhan Karangantu. Bekunjung ke Banten Lama serasa kurang lengkap tanpa singgah di tempat ini.

Menyusul Kerajaan Demak dan Cirebon sebagai kerajaan Islam di Pulau Jawa, hadir pula Kasultanan Banten di ujung barat tanah Jawa. Baik Cirebon ataupun Banten konon dirintis oleh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Adalah Maulana Hasanudin, salah seorang putra Gunung Jati naik tahta sebagai sultan Banten yang pertama.

Salah seorang keturunan Sultan Maulana Hasanudin yang memerintah pada masa tahun 1800-an adalah Sultan Syafiudin. Sebagai tempat kediaman sultan pada masa itu, pembangunan Istana Kaibon sebenarnya dipersembahkan oleh sultan kepada ibunda tercinta. Dari peristiwa inilah nama Kaibon disematkan. Kaibon berasal dari kata ibu, ka-ibu-an. Kaibon bisa dimaknai sebagai istana untuk ibu, atau istana yang dipersembahkan untuk ibu.

Secara resmi, Istana Kaibon digunakan sampai dengan masa pemerintahan Bupati Banten pertama, Aria Adi Santika. Kasultanan Banten sendiri secara politik dihapuskan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1816. Istana Kaibon memiliki ciri khas arsitektur gapura gerbang terbuka berbentuk candi bentar, ataupun gerbang ambang tertutup (paduraksa). Sayangnya pada tahun 1832, istana ini dihancurkan oleh Belanda untuk menghapus sisa-sisa simbol kekuasaan Kasultanan Banten. Kini beberapa sisa gapura, tembok, dan pondasi bangunan istana masih dapat kita saksikan.

Kali pertama kami beranjang sana ke situs Istana Kaibon, kebetulan proses penataan Kawasan telah selesai dilakukan. Pada sekeliling situs dipagari keliling kawasan. Mengeliling situs di sisi pinggir telah tersedia trak jalan kaki yang dipadu dengan area pertamanan. Hanya seorang pemuda yang bertindak sebagai juru parker menyambut kedatangan kami. Ketika kami tanyakan karcis atau tiket masuk, ia hanya menjelaskan untuk berkunjung tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya dikenakan tarif parkir kendaraan saja.

Dari sisi area parkiran kendaraan, Istana Kaibon terhampar pada sebuah dataran yang lebih rendah. Kamipun turun menapaki jalur anak tangga yang tersedia sebagai akses utama memasuki situs. Gerbang utama berbentuk bentar mengarah ke utara, berada di sudut barat laut. Puluhan anak tangga harus kami tapaki untuk mencapai gerbang tersebut. Spot ini sangat bagus sebagai latar berfoto karena seluruh area situs istana hadir sebagai latar atau background yang sangat mempesona.

Tepat di sisi dalam gapura bentar, terdapat pelataran terbuka yang nampak seperti sebah teras. Mungkin di masanya, teras ini memang berfungsi sebagai siding terbuka kerajaan. Dari bagian ini, kita dapat menuruni anak tangga lain di sisi dalam yang menghubungkan ke bagian dalam istana yang lainnya.

Sisi dalam atau bagian utama situs Istana Kaibon kini hanya menyisakan lapangan berumput yang pada bagian tertentu terdapat tembok ataupun sisa pondasi yang dulunya tentu memiliki fungsi masing-masing dan mendukung fungsi istana secara keseluruhan. Selayaknya sebuah istana tempat tinggal pemimpin kerajaan, pada situs Istana Kaibon kita masih bisa menyaksikan bekas-bekas bagian sebuah istana. Ada  bekas siti hinggil, ada bekas pagelaran, kediaman raja dan keluarga, taman, keputren, kesatriaan, bahkan kendang kuda. Meskipun kini kita hanya bisa menyaksikan sisa-sisa reruntuhan Istana Kaibon, namun kita bisa membayangkan seperti apakah bangunan asli dan utuh dari istana ini di masa lalu.

Eksotika sisa bangunan atau reruntuhan Istana Kaibon yang sungguh mempesona paling sesuai dinikmati pada saat pagi dan sore hari. Di saat tersebut, matahari sudah tidak terik menyengat dan udara lingkungan setempat tidak panas. Kunjungan pada tengah hari sebenarnya tidak menjadi masalah. Hanya saja pada saat demikian, matahari akan terasa terik dan menghadirkan hawa udara yang panas. Suasana panas terasa bertambah panas karena pada sekeliling area sama sekali tidak ada pohon besar sebagai peneduh kawasan. Di pinggir sisi kanan pintu masuk situs memang terdapat sebuah pohon asem besar yang berimpit dengan pohon beringin, namun kehadirannya hanya bisa dirasakan saat kita berada di bawah dahannya saja.

Dari berbagai sisi, situs Istana Kaibon Banten Lama ini mengingatkan kita kepada situs Candi Ratu Boko di sisi selatan Candi Prambanan. Monggo buktikan sendiri dengan mengunjunginya secara langsung.

Ngisor Blimbing, 31 Desember 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Wisata dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s