Rumah Dunia: Rumah Baca, Rumah Bahasa


Setahun sudah berlalu ketika kami berkesempatan menimba ilmu kepenulisan esai kepada penulis  yang satu ini. Kang Haris, demikian nama panggilan lelaki penulis Balada Si Roy ini. Ia memang lebih dikenal publik dengan nama pena Gol A Gong. Lelaki berlengan satu ini, selain masih terus aktif di dunia kepenulisan, ia juga mengampu dan mengelola Rumah Dunia. Rumah Dunia merupakan sebuah sanggar literasi sebagai tempat bernaung para penggiat sastra di Kota Serang.

Gol A Gong, dengan kekuatan magic lima jarinya, telah menulis lebih dari 125 buku. Tulisan tersebut berbentuk kumpulan puisi, cerita pendek, esai, hingga scenario tayangan acara tivi. Pada umur 11 tahun lelaki aruh baya ini harus menghadapi sebuah kenyataan yang sungguh menyedihkan, kehilangan sebelah lengan. Saat bermain dengan teman-teman sebayanya di pinggiran Alun-alun Kota Serang, ia terjatuh dari pohon, cidera, dan pata tulang. Penanganan luka yang sedikit terlambat menyebabkan jalan amputasi tidak terhindarkan.

Meskipun mendapati kenyataan harus hidup denan satu tangan tidak sama sekali menendorkan semangat petualangannya. Dari pengalaman-pengalaman saat berpetualan itulah, tulisan-tulisannya terlahir dan kemudian diterbitkan, serta banyak dibaca banyak orang. Menulis adalah pilihan jalan hidup yan secara nalar dan sadar ditempuhnya. Atas prestasinya dalam dunia kepenulisan, beberapa pneghargaan kepenulisan ternama pernah diraihnya. Anugerah Tokoh Sastra pernah diberikan oleh Majalah Horizon dan Balai Pustaka kepadanya (2013). Anugerah lain, diantara Anugerah Peduli Pendidikan dari Kemendikbud (2012), National Literacy Prize (2010), Indonesia berprestasi Awards (2008), serta Pustaloka Nusa Jasadharma (2006).

Sebelum mendirikan Rumah Dunia, Gol A Gong pernah menekuni profesi wartawan di Majalah HAI dan Tabloid Pramuka. Iapun pernah menjadi penulis skenario tivi di beberapa stasiun tivi ternama, seperti ANTEVE, Indosiar, RCTI, juga menjadi asisten manajer di Banten Tv. Kini ia juga aktif sebagai Penasehat Forum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia dan Dewan Pembina Komunitas Penulis, Forum Lingkar Pena.

Jumat sore itu, saya sengaja membawa anak-anak bertandang ke Rumah Dunia. Kebetulan pada jeda masa libur pasca Hari Natal, kami mengagendakan jalan-jalan bin dolan-dolan ke Kota Serang. Ketika tiba di area Rumah Dunia, Nampak suasana sedikit sepi. Tidak ada aktivitas baca puisi, berdongeng, ataupun latihan teater. Ketika kami memarkirkan motor di pinggir pelataran tepat di bawah kerimbunan sebuah pohon hanya nampak seorang bapak tua tengah duduk-duduk pada sebuah balai Panjang di bawah pohon. Di teras saung kopi memang tampak beberapa muda-mudi tengah asyik berbincang dan berdiskusi.

Kamipun berkeliling area bagian depan Rumah Dunia. Kamipun berfoto pada beberapa spot yang menarik. Bertandang ke Ruma Dunia untuk pertama kalinya memang teramat sayang apabila tidak terabadikan dengan baik. Setelah merasa cukup berfoto bersama, kami melangkah melewati jalanan kampung menuju ke rumah kediaman Kang Haris.

Setelah memasuki sebuah gerbang pagar besi warna hitam bergapura sederhana, kami tiba pada sebuah pelataran yang dikelilingi dengan beberapa deretan bangunan lain di sekelilingnya. Ada sebuah pendopo berdinding samping setengah badan, dimana sebuah meja sedang dikelilingi beberapa anak yang sepertinya sedang berlatih suatu adegan drama. Ada rumah induk yang merupakan rumah tempat tinggal Kang Haris dan keluarga. Sangat sederhana namun rumah tersebut Nampak anggun dan memancarkan aura energi positif yang sungguh menyegarkan pikiran. Entah apa yang menyegarkan tersebut, namun kami dapat merasakannya dengan pasti.

Di sisi kanan pelataran ada sebuah ruang terbuka yang dipagari dengan rak-rak berisi ribuan buku bacaan. Ruang tersebut nampaknya merupakan ruang pustaka utama. Tepat di kanan kiri ruang pustaka utama berderet beberapa petak pondok berdinding anyaman bamboo yang sepertinya berfungsi sebagai tempat tinggal para personil punggawa Rumah Dunia.

Ndilalahnya di salah satu sudut pondok yang ada tergantung sebuah papan bulat sasaran lemparan anak atau mata panah. Tentu saja bagi anak-anak, peralatan itu sebuah kemewahan permainan. Tanpa menunggu komanda, Radya dan Nadya langsung mengambil anak panah masing-masing. Keduanyapun kemudian asyik tenggelam dalam permainan lempira anak panah. Barang siapa yang berhasil menancapkan anak panah yang dilemparkannya tepat pada titik pusat sasaran, makai a mendapatkan poin maksimal.

Saat kehadiran kami, rupanya ada salah seorang punggawa Rumah Dunia yang sedang sholat Ashar di ruang mushola yang ada di sisi sudut area dalam Rumah Dunia tersebut. Selepas sholat usai, pemuda tersebut langsung masuk ke dalam sebuah pondok yang berdampingan dengan kediaman Kang Haris. Tak sepatah katapun, ataupun seulas senyumnya ia berikan kepada kami. Ia memang sempat mengangguk, namun tak sama sekali menyambut kami. Mungkin ia sedang melakukan sebuah kesibukan. Kamipun memakluminya.

Saya berkeliling area dalam Rumah Dunia. Sejenak di muka rumah kediaman Kang Haris yang mengamati banyak hal. Ada gambar-gambar foto rekaman berbagai aktivitas Kang Haris di berbagai kegiatan kepenulisan. Ada poster-poster kampanye ajakan membaca. Ada pula deretan plakat dan trofi berjejer rapi pada sebuah rak di tepi ruang pendopo. Sore itu Nampak sepi. Mungkin memang tidak ada penghuni yang tinggal di dalam. Puas dengan berbagai pikiran dan lamunan, sayapun kembali ke anak-anak.

Radya Nadya masih asyik bermain lempar anak panah. Namun ada sosok lain di muka ruang pustaka. Setelah cermat mengamati, saya ingat dengan sosok tersebut. Ya, dialah Mas Arif. Salah seorang penggiat Rumah Dunia yang dulu pernah ketemu di Jogja. Ya, lelaki bergitar yang bersenandung di rumah joglo di Tebing Breksi. Kamipun kemudian berbincang.

Tengah asyik berbincang, datang Mbak Tantaka dengan sebuah mobil. Ia menyapa dari jauh dan menanyakan apakah saya memiliki janji untuk bertemu Kang Haris. Tentu saja saya menggeleng dan menjelaskan hanya sekedar mampir. Namun saat kami akan meninggalkan pelataran dan kembali ke area depan Rumah Dunia, Mbak Tantaka kembali menghampiri kami dan mempersilakan untuk bergabung dengan Kang Haris yang tengah ngopi bareng dengan beberapa tamu di teras kedai kopi. Kamipun menuju ke kedai kopi.

Di sebuah teras berlantai keramik putih, bertembok setinggi semester, dan berpagar bilah bambu, Nampak Kang Haris tengah tenggelam dalam perbincangan dengan para tamunya. Kamipun turut bergabung. Obrolan sedikit terputus oleh kehadiran kami. Kang Haris sedikit bertanya untuk mengingat kami, khususnya saya. Saya menyampaikan perna satu forum di acara Content Creative-nya Kemendikbud setahun lampau di Jogja. Kang Haris rupanya masih ingat. Memang saat kesempatan makan siang terakhir, kami terlibat obrolan satu meja tentang berbagai hal. Kang Haris juga menyampaikan tamu-tamunya tersebut merupakan rombongan mahasiswa IKJ yang sedang merencanakan sebuah film dokumenter berseting Rumah Dunia. Obrolanpun berlanjut. Tentu temanya tentang baca, buku, dan kegiatan kreatif terkait dengannya.

Sejurus kemudian Kang Haris berdiri. Dengan antusias ia mengajak keluarga kami untuk berkeliling ke area Rumah Dunia. Pada beberapa spot ikonik, Kang Haris selalu mengajak kami berfoto bersama. Ia sungguh hangat dan ramah menerima kami. Ia sangat bersemangat bercerita tentang berbagai hal. Ia bahkan menyinggung kisah kecelakaan yang dialaminya saat berumur 11 tahun kepada Radya dan Nadya. Semenjak pertemuan pertama di Jogja dulu, saya sungguh mengagumi sebagai sosok yang sangat ramah dan humble.

Sedikit waktu singgah dan berbincang semoga bisa mengilhami kami dan anak-anak kami untuk cinta dan gemar membaca, menulis, dan aktivitas lainnya yang terkait. Dengan mengenal Rumah Dunia, semoga menjadikan diri kami rumah baca, rumah Bahasa, bahkan rumah bina peradaban, setidaknya bagi diri kami masing-masing.

Ngisor Blimbing, 30 Desember 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s