Berkarib Dengan Kesederhanaan


Hidup sederhana konon merupakan salah satu ajaran berdasarkan perilaku Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Derasnya gelombang hidup materialisme saat ini justru semakin menjauhkan ummat Islam dari perilaku hidup sederhana. Terlebih bagi yang berpandangan dan menganut paham materialisme, seringkali segala hal diukur dengan nilai material, ya dengan uang, dengan harta, dan bentuk kekayaan yang lainnya.

Ada hal menggelitik dalam sebuah diskusi pada sebuah grup di sebuah media sosial. Seorang ibu meng-copy paste, dan mengunggah postingan panjang lebar tentang kebanyakan sikap orang tua masa kini yang justru “membunuh anaknya secara halus”. Tentu tidak sedikit orang tua milenial masa kini dulunya bertumbuh-kembang dalam suasana serba keterbatasan, bahkan serba kekurangan. Betapa banyak generasi sukses masa kini dulunya berasal dan bertumbuh sebagai generasi yang harus banyak laku prihatin, bekerja keras, hidup dalam kesederhaan, menjalani segala proses kesusahan hidup. Intinya segala keterbatasan dan kesusahan tersebut telah menggembleng, menempa, mendidik, membentuk sosok-sosok berketerbatasan meraih dan menggapai kehidupan yang lebih baik, sukses, bahkan kaya raya.

Nah dari posisi pencapaian kesuksesan inilah kemudian kita, sebagai orang, tua kemudian memiliki sudut pandang dan cara yang berbeda dalam mendidik anak-anak kita. Ketika di masa kecil kita dulu susah untuk makan secara cukup dan bergizi, kita jadi berpandangan jangan sampai anak kita mengalami hal yang sama. Ketika kita sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah hanya dengan nasi putih yang dibuburi garam putih, anak kita tentu harus sarapan dengan menu empat sehat lima sempurna. Kitapun berusaha memberikan asupan gizi terbaik untuk anak-anak kita.

Ketika kita berangkat ke sekolah tanpa alas kaki, hanya berseragam saat upacara bendera, dan jalan kaki lagi, anak-anak kita harus lebih baik. Jika kita dulu sekolah hanya bermodal sebuah buku catatan dan buku pelajaran paket yang dipinjamkan sekolah, tentu anak-anak jaman now tak boleh demikian. Bersekolah dengan seragam yang layak, sepatu yang baik, dan layanan antar jemput adalah sebuah kelumrahan bagi anak-anak masa kini.

Jika dulu sepulang sekolah kita harus turun ke sawah membantu pekerjaan orang tua, anak-anak sekarang tugas utamanya adalah sekolah dan belajar. Tidak cukup belajar di sekolah, sore hari harus ikut les atau bimbingan belajar. Masih kurang lagi, kitapun bias berlangganan layanan online bimbingan belajar semisal ruang guru.

Andaikan dulu kita harus bangun pagi untuk memasak dan menyiapkan sarapan sendiri karena orang tua juga sudah mruput ke sawah ataupun ke pasar, sudah ada pelayanan yang menyiapkan segalanya. Jika dulu kita musti mencuci dan menyetrika baju sendiri, untuk anak-anak kita semua itu sudah diambil alih tugasnya oleh asisten rumah tangga.

Kondisi keterbatasan, laku prihatin, kerja keras, mandiri yang dulu secara langsung ataupun tidak langsung menempa, menggebleng, mendidik kita menjadi generasi yang tangguh, kuat, jujur, berkarakter itu kini justru kita jauhkan secara sesadar-sadarnya dari anak-anak kita. Dengan pemikiran kesusahan hidup yang dulu kita alami jangan sampai dialami juga oleh anak-anak kita justru telah membawa kita sebagai orang tua “terlalu memanjakan” anak-anak kita. Jikapun anak sekolah dan mendapatkan PR dari gurunya, orang tualah yang kini lebih heboh. Jika anak-anak menghadapi ujian sekolah, orang tualah yang kini paling merasa stress. Anak-anak? Mereka harus senantiasa happy, nggak boleh susah, nggak boleh stress. Tepatkah hal demikian?

Kembali ke urain di awal tulisan ini, seberapa banyakkah orang tua atau keluarga jaman now yang memilih konsisten pada jalan hidup sederhana. Seberapa banyak sih orang yang tingkat kesuksesannya tidak ingin ditampakkan sebagai rumah mewah, mobil mewah, asisten rumah tangga yang banyak? Seberapa orang yang masih mau menganut hidup sederhana di tengah pola hidup materialisme saat ini.

Mungkin hanya segelintir keluarga yang meskipun berpenghasilan di atas rata-rata tetapi memilih setia hidup dalam kederhanaan dan kebersahajaan. Mungkin ada yang menjalani sebagai prinsip dan pilihan hidup. Mungkin juga ada yang menjalaninya sebagai proses pendidikan untuk tumbuh-kembang anak-anaknya di masa depan. Bagaimana menanamkan karakter mandiri, ulet, jujur, kerja keras, berpendirian, berempati terhadap orang lain, jika kondisi dalam lingkungan terdekat di keluarga masing-masing justru jauh dari praktik-praktik nilai yang dimaksud?

Mungkin penghasilan kita lumayan besar, bahkan berlebih. Namun dengan membeli kenyamanan hidup  dengan standar tinggi dan mahal, akankah lebih bisa memberikan lingkungan yang positif bagi tumbuh-kembang anak-anak kita?

Dengan pilihan pola hidup sederhana, di samping mengkondisikan lingkungan keluarga untuk menstimulasi anak-anak lebih mandiri, terbiasa dengan segala keterbasan, berkesadaran bahwa setiap kenyamanan harus dibayar dengan kerja keras, keluarga biasanya akan memiliki lebih banyak budget untuk membeli buku, untuk berpiknik bersama, untuk ber-quality time sesering mungkin, yang pada ujung dapat mendorong anak-anak tumbuh sebagai pribadi dan manusia yang utuh. Bayangkan jika penghasilan justru teralokasikan untuk kredit rumah mewah, kredit mobil mewah, membayar sekolah berstandar internasional yang mahal, sementara simpul-simpul kedekatan hati diantara sesama keluarga justru tidak “terbiayai” secara memadai?

Bagaimana anak-anak akan menyadari manfaat dan pentingya berkendaaraan umum untuk mengurangi kemacetan, untuk menghemat bahan bakar yang kita impor dari luar negeri, untuk mengurangi laju pencemaran lingkungan dari emisi gas kendaraan, jika kemana-mana ia diantar dengan mobil mewah lengkap dengan sopir pribadinya. Bagaimana ia akan lebih mandiri? Bagaimana ia akan lebih berempati terhadap orang lain yang kurang beruntung dan tak memiliki sarana kendaraan pribadi untuk pergi kemana-mana? Bagaimana ia mandiri dalam urusan pulang -pergi ke sekolahnya? Salah satu jawabnya menurut kami adalah dengan pola hidup sederhana tadi.

Bayangkan jika dalam kesederhaan kita lebih banyak berderma? Bayangkan jika kelebihan atas kebutuhan hidup kita digunakan untuk memodali saudara kita dalam berusaha? Mungkin akan lebih banyak saudara kita yang kurang mampu untuk bangkit dari lingkaran kekurang-beruntungannya. Ah, mungkin banyak lagi kemungkinan lingkar keberkahan sekiranya semakin banyak diantara anak manusia yang sadar dan memilih untuk mengikuti jejak Kanjeng Nabi yang hidup dalam kesederhaan.

Sederhana bukan berarti tidak pintar, sederhana bukan berarti tidak berharta banyak, sederhana bukan berarti tidak sukses. Justru kesederhaan merupakan tingkat kesuksesan tertinggi karena dalam perilaku kesederhaan terkandung makna filosofis yag sangat dalam bahwa seseorang telah mampu menundukkan ego dan nafsunya. Nafsu dan ego untuk sombong, ego dan nafsu untuk bermewah, bermegah, berfoya-foya di tengah derita sesama. Kesederhanaan akan senantiasa memiliki keluasan dan kedalaman dimensi untuk diselami dalam rangka menjadi diri yang lebih baik. Saya jadi teirngat ungkapan Narashimarao, salah seorang Perdana Menteri India, “Plain living hingh thinking”. Hidup sederhana, berpikir fantastik (cerdas). Monggo.

Ngisor Blimbing, 18 Desember 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Keluarga dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s