Hujan-hujanan Musim Hujan


Pernah lihat raut muka para bocah yang ceria berhujan ria. Betapa bahagia raut muka bocah-bocah itu. Dengan sekedar berbaku kaos oblong, atau bahkan tanpa baju sama sekali, anak-anak itu berlarian sambal tertawa lepas. Kita sebagai orang dewasa mungkin secara praktis pragmatis berpikir dengan akal, apa enaknya hujan-hujan begitu? Kedinginan. Kotor. Bisa-bisa masuk angin ataupun remati kambuh. Bukannya kegembiraan, namun paling mungkin justru penyakit yang dating. Dari sini saja sudah sangat nampak perbedaan standar atau kriteria ala para bocah dan orang dewasa. Bahagia harusnya sederhana, sebagaimana bahagianya para bocah yang berhujan ria menyambut musim penghujan yang sungguh telah terlambat tiba.

Bahagia memang sederhana. Bahagia jelas soal hati. Sesederhana itu. Uang yang melimpah belum tentu bisa menjamin hati seseorang merasa bahagia. Buktinya, banyak orang yang uangnya pas-pasan cengar-cengir, ketawa-ketiwi always happy. Jabatan yang menterengpun tidak serta merta menjadikan orang bahagia. Pejabat sekelas Hansip yang hanya jadi suruhan Pak RT, Pak RW, paling pol jadi kepercayaan Pak Lurah juga sudah merasa adem-ayem jiwa raganya. Tidak perlu uang berlimpah, memiliki rumah mewah, mempunyai kendaraan gagah hanya untuk merasakan bahagia. Intinya bahagia ya soal hati itu tadi. Sederhana, sebagaimana para bocah yang riang bermandi hujan.

Dari sudut pandang orang tua atau orang dewasa, kena air hujan alias kehujanan adalah sebuah malapetaka. Tubuh orang tua tentu kian renta. Sepengetahuan kami hamper sama sekali tidak ada orang tua yang sengaja berhujan ria. Kalaupun dia kehujan adalah karena sebuah keniscayaan. Sedang berjalanan di trotoar tiba-tiba hujan dan tidak mendapatkan tempat berteduh, kehujananlah dia. Sedang berkendara motor, tidak bawa mantol, sudah menunggu berteduh lama hujan tidak reda, bersengajalah ia berhujanan untuk secera tiba di rumah. Jelas pastinya tidak akan dijumpai orang tua yang sengaja buka baju dan berlarian di gang-gang kampung untuk menikmati curahan air hujan.

Bagi anak-anak hujan adalah media bermain. Hujan adalah teman yang senantiasa ditunggu sekian lama. Saya dengan pasti katakana hal ini ketika kemarin melihat dengan mata kepala sendiri ketika anak sulung kami pulang dari sekolah, masih berseragam utuh, sengaja pulang berhujan ria. Tidak mau menunggu hujan yang hanya sebentar reda, justru hujan deras nan lebat dia terjang dengan keriangan. Tidak berpikir Panjang dengan baju seragam yang basah kuyup, tas dan buku yang juga mungkin kebasahan bahkan rusak, atau sepatu yang kemasukan air dan sangat mungkin lepas lem solnya. Apalagi pikiran tentang masuk angina, flu, pilek, batuk. Tidak, anak-anak hanya tahu bermain. Dan permainan hujan-hujanan itu mereka nikmati sebagai sebuah kebahagiaan yang murah meriah.

Saya sendiri ingat dengan masa sekolah dasar di tepi Gunung Merapi tiga puluh tahun silam. Bahkan tidak musim hujan kami terbiasa bersekolah dengan tanpa alas kaki alias nyeker ria. Lebih-lebih di musim penghujan, berhujan-hujan adalah kesenangan kami sehari-hari. Jangankan berbekal paying atau ponco untuk antisipasi agar jangan kehujanan, paling mewah kami berbekal pemes alias sebuah pisau lipat. Jikapun hujan kami tengah berjalan di tepian sawah atau bulak antar desa, dengan pisau lipat tersebut kami bisa langsung memotong sepelepah daun pisang untuk dijadikan payung. Yang agak lebih antisipasif, ada diantara kami yang memanfaatkan sisa plastik bungkus pupuk urea yang lebih praktis dilipat diantara buku dan mudah dibawa kemanapun. Jika tiba-tiba hujan dating, lastik itupun bisa langsung direntang. Di bawah rentangan plastik itulah, serombongan anak-anak berjalan bersama di bawah guyuran hujan lebat. Kita bahkan merasa sedang memainkan barongan bahkan ular naga.

Tidak hanya berhujan ria dengan daun pisang ataupun plastik bekas, rute jalan yang kami lalui untuk pulang-pergi ke sekolah di musim penghujan juga seringkali pindah jalur. Di musin hujan, terlebih jika sungai-sungai meluap airnya, kami justru pergi atau pulang sekolah dengan menyengaja lewat di tepian sungai ataupun justru menyeberangi sungai yang tengah banjir kimplah-kimplah tersebut. Ada semacam sensasi lain yang mungkin memacu adrenalin kami. Tentu ada alasan lain juga. Kami berangkat pulang sekolah lewat sungai yang meluap kadang didorong oleh pengharapan ada kelapa ataupun ranting kayu kering yang hanyut di kali. Sungguh lumayan pulang sekolah menjinjing beberapa butir buah kelapa.

Setelah kini menjadi orang tua bagi anak-anak kami, kami termasuk orang tua yang memegang teguh komitmen untuk menjamin hak-hak anak-anak kita untuk berhujan ria di musim penghujan. Tentu dalam proporsi dan kondisi yang pas. Bagaimanapun masa kecil kami telah mengajarkan betawa bermain hujan adalah sebuah kemewahan yang sunggu luar biasa di benak seorang anak. Alih-alih khawatir anak-anak akan sakit flu, pilek, batuk, demam, atau lainnya, kaya justru sungguh percaya ainul yakin bahwa berhujan ria akan membangkitkan sebuah ketahanan dan kekebalan tertentu bagi jiwa dan raga anak-anak ketika berhadapan dengan air hujan. Dengan demikian kami tidak pernah mencegah ataupun melarang anak-anak yang ingin bermain-main dalam dan dengan hujan. Biarlah mereka merdeka menikmati hujan sebagai sebuah bentuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Kasih Maha Sayang.

Selamat menikmati musim penghujan. Hujan adalah nikmat. Hujan adalah rejeki. Hujan adalah prasyarat kehidupan. Benih tumbuh menancapkan akar perlu air. Benih menumbuhkan tunas juga butuh air. Ketika benih telah tertumbuh akar dan tunas, maka iapun senantiasa membutuhkan air untuk menghadirkan batang, cabang, ranting, hingga daun, bunga, dan buahnya. Dari air yang mengairi tunas tumbuh, lumut tumbuh, rumput tumbuh, tumbuhan tumbuh untuk selanjutnya binatang dan manusia untuk hidup. Air adalah syarat kehidupan. Dan dari hujanlah salah satu air dihadirkan dalam kehidupan kita. Air adalah kehiduan itu sendiri.

Masih takut dengan air hujan? Masih khawatir memberikan kebebasan anak-anak untuk berhujan ria? Enggaklah yau…..

Ngisor Blimbing, 11 Desember 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Alam dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s