Nikmat Yang Selalu Terlupakan


Secara sederhana, hidup yang enak adalah hidup yang penuh berlimpah kenikmatan. Badan sehat adalah nikmat. Kerja lancer dan karir terus menanjak adalah kenikmatan. Anak-anak yang penurut dan pintar adalah kenikmatan. Mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa berucap, hidung bisa bernafas, semua adalah kenikmatan. Rasa damai dan hati yang tentram juga nikmat. Nafas adalah nikmat. Semua yang berkenaan dengan hidup kita sejatinya adalah kenikmatan-kenikmatan yang dilimpahkan Sang Pemberi Nikmat, Tuhan Yang Maha Kasih Maha Penyayang. Maka nikmat manalagi yang bisa kita dustakan?

Dalam beberapa waktu akhir-akhir ini, Tuhan tengah menunjukkan kepada diri kami pribadi berbagai peristiwa yang sungguh bermakna untuk berkaca tentang kenikmatan. Orang tua kami yang dipanggil keharibaanNya melalui lantaran tidak bisa buang air besar air kecil adalah salah satu pembelajaran tentang nikmat yang luar biasa. Dalam keseharian, kita mungkin berpikir bahwa mekanisme buang air besar buang air kecil adalah sebuah hukum alam yang terjadi secara alamiah. Kita seringkali melupakan bahwa di balik hukum alam senantiasa ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Sepandai apapun seseorang, sekaya apapun dia, secanggih apapun alat dan teknologi yang dimiliki manusia, ternyata tidak akan sama sekali dapat membantu saat Tuhan menentukan seseorang tidak bisa buang air besar air kecil.

Nikmatnya bisa buang air besar air kecil justru baru terasa betapa sangat berharganya, betapa sangat tak ternilainya, betapa tidak murahnya, betapa tidak kuasanya kita untuk mengendalikan tatkala Tuhan memberikan cobaan dengan mengangkat kenikmatan tersebut dari diri kita. Betapa untuk satu urusan kecil yang berhubungan dengan kakus tersebut seseorang harus rela membayar dokter dengan mahal, harus dirawat di rumah sakit sekian hari sekian bulan, bahkan keluar uang bermilyar-milyar untuk mengembalikan kondisi buang air besar air kecil yang normal. Nikmat sehat baru terasa nikmat justru tatkala kita sedang tidak sehat.

Demikian halnya dengan kaki. Selama ini dengan anugerah kaki yang normal dan sehat, banyak aktivitas dan kegiatan yang dapat dilakukan. Berdiri, jongkok, melangkah, berjalan senantiasa dapat dilakukan dengan mudah dan tanpa perlu bersusah payah. Bahkan untuk melompat berakrobat, hingga berlari dan berolah raga, merupakan aktivitas yang dilakukan dengan bawah sadar. Segala seolah otomatis dan tanpa perlu campur tangan pihak tertentu.

Seminggu lalu, sayapun ingin menikmati kecerahan pagi sambal berjongging ringan di sekeliling danau kampung sebelah. Berkenaan dalam beberapa pekan ke depan saya ingin mengikuti sebuah perlombaan lari, jongging pagi itu ingin saya jadikan sebagai latihan dan pemanasan untuk persiapan lomba tersebut. Di minggu sebelumnya, dua kali saya berkesempatan jongging juga.

Untuk latihan kali terakhir tersebut, saya sudah niatkan untuk dapat keliling danau setidaknya lima kali putaran. Perlahan nan pasti, sayapun memulai melangkahkan kaki dengan ringan. Perlahan dan pelan langkah kaki sedikit saya percepat. Kebetulan suasana danau pagi itu sungguh sepi. Hanya ada beberapa orang lain yang sekedar jalan santai, ataupun lari-lari kecil seperti saya. Suasana yang sepi tersebut justru menjadikan saya lebih leluasa dan santai menikmati mentari pagi yang cerah disapu hembusan angina yang sedikit sepoi-sepoi.

Satu putaran berjalan lancar. Lintasan keliling danau yang tidak kurang dari 1 km tersebut berhasil saya selesaikan tidak lebih dari lima menit. Putaran ke dua sudah mulai terengah. Nafas sedikit memburu dan kaki mulai sedikit terasa berat melangkah. Putaran ke dua setengah, lutut kaki terasa agak nyeri. Setelah beberapa ayunan langkah saya paksakan, nyeri lutut justru semakin terasa. Akhirnya sayapun melanjutkan putaran hanya dengan langkah jalan biasa.

Niat hati hendak keliling tiga putaran segera urung. Duduk di kursi bawah sebuah pohon lebih menjadi pilihan. Sambil meneguk air mineral, tenggorokan terasa segar tak terkira. Kaki sengaja saya selonjorkan agar terasa rileks dan nyeri yang terasa segera menghilang. Akhirnya tidak sanggup lagi untuk meneruskan aktivitas laptihan pagi itu. Sayapun memutuskan untuk pulang.

Kaki yang sedikit kaku dan pegal adalah hal yang lazim selepas kita beraktivitas fisik. Sehari dua hari biasanya juga akan pulih sendiri. Namun apa yang saya rasakan kali ini kok berkepanjangan. Dua hari ke tiga hari, tiga hari ke empat hari, hingga lima hari dan sepekan, nyeri di lulut kanan-kiri belum juga hilang. Sayapun baru berkesimpulan bahwa saya mengalami cidera lutut saat lari beberapa hari sebelumnya. Hingga menuliskan catatan inipun cidera belum mendapatkan kesembuhan.

Sehat memang kenikmatan yang tiada tara terasa nikmat tatkala sakit lutut seperti kali ini. Barulah kini bisa berpikir betapa mewahnya lulut yang tidak nyeri dan sehat-sehat saja. Dua nikmat utama yang seringkali kita lupakan adalah asyikhatu ‘ala waktiha, nikmat’ sehat dan nikmat waktu. Demikian petuah para room kyai dalam ceramah-ceramahnya. Mungkin kinilah saatnya lebih berkaca, berkontemplasi, dan mawas diri. Betapa banyak sekali nikmat-nikmat karuniaNya yang kita lupa untuk mensyukurinya. Semoga.

Ngisor Blimbing, 5 Desember 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang rakyat kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Religi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s