Ayah: Antara Keteladanan dan Kepahlawanan


Dua minggu terasa tak ada dorongan untuk menulis. Dua pekan tepat, keluarga besar kami ditinggalkan ayah kami tercinta. Hari Sabtu dan Minggu di minggu ke dua bulan November yang lalu merupakan saat yang sungguh berat untuk kami jalani. Masa dimana almarhum ayah kami dalam kondisi kritis pasca operasi hingga akhir hayatnya menghadap Sang Maha Pemilik Hidup. Meskipun merasa tidak percaya dengan takdir ini, namun kamipun harus mengikhlaskan kepergian aya kami tercinta teriring doa semoga segala amal ibadah dan kebaikannya diterima di sisiNya, segala dosa dan kekhilafan diberikan ampunan, ditempatkan di sisiNya yang mulia, dan kamipun segenap keluarga dapat meneruskan segala cita-cita mulianya.

Sabtu itu bertepatan dengan 12 Rabi’ul awwal 1421 H, hari bersejarah yang senantiasa diperingati sebagai Hari Maulud Nabi. Hari kelahiran sekaligus wafatnya junjungan ummat muslim seluruh dunia, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sehari semalaman, ayahanda dalam kondisi tanpa sadar pasca menjalani operasi. Muhammad adalah suri teladan terbaik bagi setiap individu muslim. Muhammad adalah uswahtun khasanah, manusia paripurna dengan keluhuran akhlaknya yang tiada tercela.

Adapun hari Ahad, 10 November 2019, merupakan hari yang sungguh penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sepuluh November 1945, segenap pejuang dan elemen masyarakat Surabaya menentang kesewenangan Jenderal Malaby yang memicu pertempuran dahsyat. Tak kalah Kiai Hasyim Ashari sebagai pimpinan organisasi Nahdzatul Ulama dengan lantang meneriakkan resolusi jihad yang keramat. Setiap usaha perjuangan dan perlawanan kepada kaum penjajah adalah bentuk cinta tanah air. Rasa cinta tanah adalah sebagian dari iman. Dari momentum pertempuran Surabaya inilah lahir peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Antara keteladanan dan kepahlawanan. Dua kata, dua ungkapan yang sungguh berkebetulan hadir bersama dalam momentum detik-detik terakhir kepergian ayahanda kami. Momentum tersebut seolah mengingatkan, bahkan menunjukkan, bagaimana figur ayah kami berperan utama setidaknya di lingkungan keluarga kecil kami. Ayah adalah teladan bagi kami. Ayah juga pahlawan bagi kami, bagi ibu kami dan bagi kami sebagai anak-anaknya.

Ayah adalah teladan. Meskipun terlahir dari keluarga petani yang sederhana dan hidup dengan serba pas-pasan, ayah semenjak kecil, remaja, hingga dewasa merupakan sosok yang gigih dalam menuntut ilmu. Jika teman-teman sebayanya merasa cukup memiliki kemampuan membaca dan sedikit berhitung, serta lulus dari Sekolah Rakyat, alias SR, ayah terus menuntut ilmu hingga tingkat ST, bahkan akademik teknik hingga meraih gelar B.E. (Bachelor of Engineering). Ketika kemudian jenjang pendidikan teknik dinaikkan stratanya menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, ia termasuk diminta untuk menjadi barisan pengajar pelopor di STM (Sekolah Teknologi Menengah) negeri yang ada di wilayah Kabupaten Magelang. Ia adalah pemecah rekor di desa kami sebagai sosok yang memiliki gelar akademik.

Sebagai sosok yang lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan keluarga petani menjadikan darah petani tidak pernah sirna dari denyut nadinya. Meskipun memangku profesi formal sebagai seorang guru negeri, namun ia tidak pernah bisa dilepaskan dari dunia pertanian. Di lingkungan sekolah ia memang sosok guru. Selebihnya, saat ia sudah kembali ke lingkungan keluarga di desa kami, ia tetap mengayun cangkul dan memegang sabit tanpa canggung. Ia olah dan kelola beberapa petak sawah sebagai tambahan penghidupan bagi keluarga kami. Tiada ada rasa gengsi dan malu di sudut nuraninya. Ia benar-benar sosok teladan sebagai manusia yang tidak menganut seperti kacang yang lupa dengan lanjarannya. Ia tetap low profile, rendah hati dan tidak keminter dalam kesehariannya.

Ayah adalah pahlawan kami. Dengan penghasilan sebagai guru dan petani, ayah harus menghidupi keluarga kami dengan enam bersaudara. Sebagai putra sulung dari kakek-nenek kami, ditambah lagi adik-adiknya tidak ada yang melampaui pendidikan lebih tinggi dari bangku Sekolah Rakyat, iapun tidak bisa sepenuhnya melepas tanggung jawab untuk membantu keluarga kakek-nenek kami tersebut. Pilihan hidup sederhana menjadi sangat logis untuk kami jalani bersama.

Meskipun dengan ekonomi keluarga yag sederhana, ayah senantiasa mengobarkan prinsip cinta ilmu dan berusaha menggapai jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Dari enam bersaudara, alhamdulillah kami semua berhasil meraih gelar sarjana semuanya. Sulung kami sarjana psikologi dan kini meneruskan profesi sebagai guru SMP. Anak ke dua ayah, sarjana ekonomi dan menjadi wirausahawan. Saya anak ke tiga, sungguh bersyukur lulus sarjana dan master teknik. Adik kami si Kembar, sarjana pendidikan dan kini mengajar di MTs dan SMK. Adik terkecilpun sarjana kedokteran gigi dan kini menjadi dosen di sebuah politeknik negeri.

Pencapaian ayah kami sebagai B.E., sebagai guru STM, sebagai ayah yang mengkuliahkan putra-putrinya, sebagai ayah yang anak-anaknya bergelar sarjana dan tidak nganggur adalah nilai juang kepahlawan yang luar biasa bagi kami. Ia menjadi sosok pemecah rekor kebajikan yang sungguh patut menjadi teladan bagi lingkungan tempat tinggal kami. Manusia memang tiada ada yang sempurna, demikian halnya dengan ayah kami. Namun dengan segala amaliah hidupmu, kami senantiasa bangga dengan kiprahmu.

Dengan keteladanan dan kepahlawan di hari keteladanan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad dan Hari Pahlawan, Engkau pergi untuk menghadap kepada Kekasuh Sejati. Jasad dan ragamu memang telah tiada. Namun segala cita-cita, nasehat, ajaran, dan petuahmu senantiasa terngiang. Engkau memang telah mangkat, namun keteladan dan kepahlawananmu senantiasi terpatri dalam sanubari kami. Segala rekam jejak langkah ringkihnya tercatat sebagai kebaikan. Kami bersaksi bahwa Engkau adalah orang baik. Orang baik, selamanya tidak akan pernah mati karena kebaikan lebih kuat dari kematian.

Titip rindu untuk ayah kami di surga dalam damainya. Tabik.

Ngisor Blimbing, 24 November 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Keluarga dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s