Tari Soreng: Dari Arya Penangsang Hingga Sumpah Pemuda


Sumpah! Sumpah merupakan kebulatan tekad seseorang. Sumpah bisa menjadi energi pendorong yang sungguh luar biasa dalam rangka menggapai sebuah keinginan atau cita-cita. Mapatih Gajah Mada bersumpah, seluruh penjuru Kepulauan Nusantara bersatu di bawah panji Negeri Wilwatika Majapahit. Kita tentu sangat paham dengan Sumpah Palapa. Bangsa kita mengenal varian sumpah, diantaranya sumpah pocong, sumpah tanah, sumpah darah, dan lain sebagainya.

Di kalasenjanya Kasultanan Demak Bintoro hingga masa awal Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Pajang, seorang Arya Penangsang bersumpah menuntut balas atas kematian orang tuanya, bahkan juga atas tahta Demak. Sejarah selanjutya mencatat dengan gagah berani ia mengobarkan perlawanan dari Kadipaten Jipang Panolan. Ia seorang ksatria sejati sehingga detik-detik kematiannya sungguh heroik. Dengan usus terurai akibat tusukan tombak Kyai Plered andalan Sutawijaya, ia gugur dengan gagah setelah Keris Pusaka Setan Kober yang ia hunus justru memotong-motong ususnya sendiri yang terlanjur terburai.

Kegagahan, kejantanan, jiwa kesatria sosok Arya Penangsang ini meniupkan inspirasi menjadi sebuah tata gerak energik nan gagah, sosok-sosok prajurit kesatria dengan sorot mata elang, dengan perawakan yang kekar, bahkan dengan kumis yang mbalang melintang, terlahirlah tata gerak sebuah tari keprajuritan yang dikenal sebagai tari soreng. Tari soreng dirintis para seniman petani di seputaran kaki Gunung Merbabu, Magelang, Jawa Tengah.

Hari ini bangsa besar ini kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda. Dua puluh delapan Oktober 1928, hampir genap seabad, para perwakilan tokoh muda kala itu mendengungkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Hari-hari belakangan, kita merasakan banyaknya rongrongan terhadap spirit persatuan kesatuan. Hasutan perpecahan dan permusuhan diantara sesama anak bangsa tersebut harus dilawan. Setidaknya melalui momentum Sumpah Pemuda kita haru kembali meresapi, menggali, dan memaknai semangat persatuan.

Hari ini, bertepatan dengan kumandang Sumpah Pemuda yang kembali diteriakkan, ribuan anak bangsa di wilayah Kabupaten Magelang meresapi kegagahan dan kegigihan tokoh ksatria seperti Arya Penangsang ataupun para pemuda pendahulu negeri ini untuk merapatkan kembali barisan. Tari soreng dipilih untuk menggabungkan seluruh energi potensi anak bangsa di seantero Lima Gunung, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbing, dan Menoreh. Berkumpul bersama, berbaris bersama, bergerak bersama, bersenandung bersama, berteriak bersama. Jadilah lebih dari 12.000 anak bangsa menarikan tari yang kini menjadi salah satu ikon dan identitas khas Kabupaten Magelang.

Semangat Pemuda! Semangat Sumpah Pemuda! Semangat Garuda! Semangat Panca Arga! Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas! Merah putih jiwa raga kita. Pancasila hati nurani kita. Salam budaya!

Kulon Balairung, 28 Oktober 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s