Tata Titik Keseimbangannya Tuhan


Sekiranya kita menerima pendapatan tiga padahal kualitas ataupun kuantitas pekerjaan kita sebenarnya layak untuk menerima lima juta atau lebih, maka kelebihan jasa yang tidak terbayarkan tersebut pasti akan diganti dengan kesehatan jiwa raga, ketentraman keluarga, anak-anak yang sholih-sholihah, panenan yang berlimpah, segala macam kemudahan setiap urusan dan lain sebagainya. Yakinlah hitungan kelebihan kerja keras kita sebagai amal jariyah ataupun shodakoh kepada perusahaan, kepada bos, bahkan mungkin kepada negara. Hal ini tentu saja terlepas dari pahala yang akan kita panen kelak di alam keabadian.

Sebaliknya, sekiranya kita menerima gaji sepuluh juta, padahal kualitas ataupun kuantitas kerja kita seharusnya hanya dihargai dengan nilai yang lebih rendah, maka kelebihan bayar yang kita terima itupun tidak akan pernah luput dari perhitungan-Nya. Badan yang sakit-sakitan, keluarga yang tidak tentram, anak-anak yang tak berbakti, kesulitan-kesulitan dalam berbagai urusan ataupun bentuk yang lain, yakinlah akan menimpa kehidupan kita.

Kontradiksi, bahkan paradoks, nilai dan sudut pandang tata keseimbangan di atas pernah dibabar secara panjang lebar nan tuntas oleh Cak Emha Ainun Nadjib dalam salah satu episode diskusi Kenduri Cinta. Dalam hal bekerja, entah kita bekerja sebagai pedagang, petani, pengusaha, karyawan,buruh, pegawai, hingga pejabat lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, menteri, presiden hingga wakil rakyat dan lainnya, hukum tata keseimbangan tersebut mutlak berlaku. Setiap dari kita memiliki hak sekaligus kewajiban dalam kehidupan. Dalam hitung-hitungannya Tuhan, antar penilaian terhadap pelaksanaan hak dan kewajiban kita akan senantiasa ditempatkan pada neraca keseimbangan di atas prinsip keadilan.

Sewajarnya kita menerima suatu hak berdasarkan atau setimbang dengan nilai kewajiban yang telah kita tunaikan. Jika hak kita melampaui nilai kewajiban yang telah kita lakukan, maka kekurangan kewajiban yang tidak kita tunaikan tersebut aka nada hitungannya tersendiri. Demikian halnya jika kita melaksanakan kewajiban dan kemudian menerima imbalan yang lebih kecil daripada hak yang semestinya, maka demikian pula hukum kesetimbangan juga akan berlaku. Tidak harus menjadi pejabat ataupun pembesar negara, setiap kita, sebagai insan orang per orang akan tunduk kepada ketentuan tersebut. Sadar atau tidak sadar, yakin atau tidak yakin, percaya atau tidak percaya, Tuhan tidak mempedulikannya.

Tuhan adalah dzat yang Maha Adil. Dalam neraca keadilan Tuhan, tata keseimbangan senantiasa menjadi poros daripada keadilan-Nya tersebut. Seberapa besar kita berbuat baik, sebesar itu (bahkan dilipatgandakan) nilai kebaikan yang akan kita terima. Sebaliknya seberapa besar kita menabur benih kejahatan, maka kelak kita akan memanen buahnya juga. Marak kasus korupsi di negeri inipun tidak akan terlepas daripada naraca keadilannya Tuhan.

Orang boleh mengira bahwa dengan melakukan kecurangan dan korupsi ia akan cepat kaya, tanpa susah-susah menunaikan suatu kewajiban. Namun camkan dan jangan pernah menyalahkan takdir jika kemudian sakit-sakitan, meninggal karena jantung ataupun stroke, anak-anak yang menjadi korban narkoba atau pergaulan bebas, keluarga yang terpecah belah dan tidak rukun, bisa jadi merupakan bayaran tunai atas segala kejahatannya yang langsung diberikan ketika masih di dunia. Jikapun tidak ketahuan dan tidak mengalami ketidaknikmatan apapun di dunia, apakah para koruptor itu yakin dapat lolos dari pengadilan-Nya kelak di hari kebangkitan?

Dengan demikian alangkah bersyukurnya orang yang ketika hidupnya di dunia senantiasa menebarkan kebaikan, melakukan setiap kewajiban melampaui laku semestinya meskipun menerima imbalan hak yang tidak setimbang. Tidak akan pernah ada yang hilang. Tidak ada yang sia-sia. Sebesar biji ataupun sebuah kebaikan yang dilakukan anak Adam, bukankah Tuhan menjanjikan akan memperlihatkan balasannya kelak di alam akhirat.

Alangkah celaka orang yang menerima hak melampaui nilai sewajarnya dari kewajiban yang ia lakukan tanpa pernah merasa berdosa. Terlebih jika tindakan tersebut disengaja. Perilaku koruptif, makan gaji buta merupakan contoh perbuatan yang bahkan telah melampaui perilaku yang tidak dilandasi atas hak yang syah sama sekali.

Lalu sekiranya kita meyakini keadilan Tuhan yang terterapkan sebagai neraca keadilan berdasarkan tata titik keseimbangan tadi, masihkah kita berani untuk berperilaku curang nan culas? Semua kembali kepada kesadaran pilihan kita masing-masing. Monggo…..

Ngisor Blimbing, 19 Oktober 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s