Kisah Bocah Kualat di Festival Teater Anak 2019


Syahrun, sebut saja demikian namanya. Ia seorang anak yatim dan hanya tinggal berdua dengan emaknya yang janda. Siang malam sang emak berusaha mengasuh dan mendidik anaknya semata wayang. Namun ketidaklengkapan asuhan orang tua menjadikan Syahrun sering berulah. Ia bahkan telah mendapatan gelar sebagai anak yang nakal di kampungnya.

Suatu sore, matahari telah condong di ufuk barat. Musim kemarau yang panjang telah menjadikan siang hari senantiasa terik dan menjadikan kerongkongan setiap orang kehausan yang luar biasa. Selepas bermain bersama dengan beberapa temannya, Syahrunpun meras kehausan. Dilihatnya dahan pohon manga sebelah rumahnya tengah berbuah dengan sangat rimbunnya. Buah manga berkulit semburat kuning yang telah matang tersebut seolah melambai mengajak siapapun yang melihat untuk memetik dan menikmati kesegaran buahnya. Syahrunpun tergoda.

Dengan sebuah galah dan berbekal beberapa butir batu, Syahrun dan temannya beraksi. Dengan galah beberapa butir manga pada dahan rendah mudah diraihnya. Namun beberapa buah yang lain bertengger di pucuk pohon. Iapun melempar batu yang digenggamnya. Salah satu batu justru berbalik arah dan meluncur ke genteng atap rumahnya sendiri. Si Emak yang ada di dalam langsung teriak. Syahrun dan kawannya panik dan langsung kabur.

Seketika sang emak yang ada di dalam rumah langsung dan terkaget tadi keluar rumah. Ia mendapati beberapa buah manga milik tetangga sebelah berserakan di batas pagar halamannya. Ia bergumam, “ Siapa bocah-bocah yang berulah mencuri manga tetangga sebelah ya?” Ia tentu bahwa yang berulah justru anaknya.

Singkat cerita si Emak bebersih dan menyapu halaman rumah. Syahrun pulang. Hari segera jelang Maghrib. Syahrun segera disuruh mandi dan bersiap ke langgar untuk kemudian ngaji kepada Haji Zaenal.

Namanya juga Syahrun, ia selalu berulah dan tak patuh dengan emaknya. Mandi sore tidak bersegera. Saat adzan berkumandang dan teman-teman sebayanya bergegas ke langgar ia belum juga kelar. Dengan tergesa ia memang menuju langgar, namun sudah pasti setelah qomat terdengar.

Merasa malas ikutan ngaji, Syahrun pulang ke rumah. Rupanya rumah kosong. Emak Syahrun pergi kondangan. Saat beberapa temannya ada yang melintas, Syahru justru mengajak mereka bermain talempong. Lempar kaleng kosong dengan butir batu untuk menentukan siapa yang jaga. Singkatnya justru Syahrun yang ketiban sial untuk berjaga.Teman-temannyapun segera menghambur ke segala penjuru untuk bersembunyi.

Malam yang pekat tenti tak bersahabat bagi Syahrun. Ia lama tak dapat menemukan persembunyian kawan-kawannya. Saking lelahnya ia justru menggeletak di balai bambu hingga tertidur. Di tengah tidurnya Syahrun bertemu dengan peri penjaga pohon mangga. Merasa telah dibebaskan dengan lemparan batu pada buah mangga sore sebelumnya, si peri sangat berterima kasih. Syahru tak mau kehilangan kesempatan. Ia meminta peri membawanya terbang ke bulan. Syahrun dan peri akhirnya terbang ke bulan naik sebuah roket.

Ketika tiba di bulan, rupanya para penjaga bulan tidak menerima kehadiran Syahrun. Mereka sering melihat Syahrun melawan nasehat emaknya. Mereka bahkan akan menangkap dan menghukum Syahrun. Syahrun lari, peri mangga tak berdaya membantu. Syahrun berteriak, meronta, meminta tolong kepada siapapun. Kejadian itu sungguh membuatnya takut yang tak berujung. Tiba-tiba datang Haji Zaenal dan beberapa teman ngajinya. Sosok mereka membawa sinar putih yang menyejukkan.

Usut punya usut, ternyata si Syahrun hanya bermimpi terbang ke bulan bersama peri. Ia merasa sangat menyesal atas kebiasaanya tidak patuh taat kepada emaknya. Ia benar-benar merasa telah kualat dan mendapatkan hukuman atau balasan atas kedurhakaannya. Semenjak saat itupun Syahrun menjadi anak yang taat patuh dan berbakti kepada emaknya.

Kisah di atas hanyalah sebuah dongeng. Meskipun ceritanya sederhana namun sungguh mengandung nasehat yang luhur. Kisah tersebut dipentaskan oleh anak-anak Sanggar Sajadah di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki sebagai bagian dari ajang Festival Teater Anak 2019.

Sederhana namun bermakna dalam. Itulah nasehat-nasehat yang kebanyakan dikemas dalam sebuah cerita dongeng. Ketika dongeng tersebut dipentaskan sebagai sebuah aksi teatrikal oleh anak-anak dengan pembawaan yang ringan tanpa beban, bahkan banyak kemasan gelak tawa penuh kelucuan, anak-anak lain yang turut menyaksikan seolah tidak sedang dinasehati. Namun yakin dan pasti anak-anak dengan penuh kegembiraan menhayati setiap alur cerita. Dan pastinya tanpa sadar nasehat kebaikan itupun tertanam ke dalam sanubarinya yang terdalam. Betapa dengan sastra, dengan dongengan, dengan drama dan aksi teater, sebuah nasehat dapat dikemas dengan sangat apik untuk menjadi pegangan hidup sesama. Inilah wujud tontonan yang memberikan tuntunan yang kini semakin jarang bahkan menghilang karena tidak lagi dipentaskan. Mari nonton teater lagi. Seru tahu!

Ngisor Blimbing, 14 Oktober 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s