Takut ’66, Takut ’98, Takutkah ’19


Takut ’66 Takut ’98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa.

1998
KUMPULAN PUISI TAUFIQ ISMAIL

Baru dua pekan Revisi UU KPK disahkan. Sebuah produk legislasi dadakan yang dirasa sangat kurang menjaring aspirasi nurani publik sehingga rakyat bercuriga ada agenda besar untuk melemahkan KPK. Ada kelompok-kelompok pro korupsi yang sedang bermain api. Dalam detik-deti akhir masa jabatannya, DPR ngebut dan ngotot untuk segera mengesahkan juga beberapa RUU kontroversial yang lain. RUKUHP, RU Minerba, RU Pemasyarakatan, mendapat sorotan yang tajam dari publik.

Tidak terhenti hanya sebatas aspirasi berupa cuitan di media sosial, rasa tidak setuju dan mosi tidak percaya terhadap para dewan telah membangkitkan aksi mahasiswa. Dalam beberapa hari ini, jutaan mahasiswa di seantero negeri unjuk rasa turun ke jalanan. Mereka meneriakkan tujuh isu tuntutan. Tidak hanya kalangan mahasiswa, adik-adik mereka yang masih duduk di bangku SMA dan SMK turut unjuk rasa. Hari-hari ini pemerintah dan para dewan seolah kebakaran jenggot. Tidak menyangka dan tidak menduga bakal menghadapi gelombang protes yang sungguh luar biasa.

Kamis inipun beberapa tokoh bangsa senior telah menemui dan berdiskusi denga Presiden. Gambaran hasil dari pertemuan tersebut sebagaimana banyak dilansir media massa bahwa Presiden meninjau kembali UU KPK dan menunda pmebahasan RUU lain yang kontroversial.

Jika rakyat telah bergerak, jika mahasiswa telah teriak, jika kaum pelajarpun telah muak, akankah seorang Presiden bergeming dari nurani rakyat. Sebagai pimpinan pemerintahan dan kepala negara yang dipilih langsung oleh rakyat, Presiden harus taku kepada rakyat. Bahwasanya mahasiswa merupakan pilar penyambung suara rakyat, maka sudah sewajarnya bila Presiden harus taat kepada aspirasi rakyat. Tulisan puis buah karya pujangga Taufik Ismail di atas benar-benar menjadi gambaran nyata kehidupan bernegara kita pada hari dan pekan-pekan ini.

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s