Kisah Pendek Jum’at Pagi


Pagi ini ngojek singkat tak sampai 2 km. Ngojol tentu saja. Ndilalahnya tukang ojol yang satu ini super duper semanak grapyak bin sumringah. Tidak hanya senyum sapa standar sebagaimana umumnya pengendara, ojek yang satu ini dengan sangat bermurah hati mbabar cerita. Jadilah pagi ini mendapatkan kisah pendek dari abang ojek.

Cerita pendek yang dikisahkan abang ojek pagi ini tentu saja cerita yang masih berkaitan dengan keseharian abang ojek. Dia menceritakan bagaimana ia pernah mendapatkan penumpang seorang wanita cantik yang sedang kuliah doktoral di salah satu perguruan negeri ternama di Jogja. Kisaran usia masih under forty lah. Bagi si abang ojek, wanita tersebut kelas wahidlah dari standar kecantikan wanita pada umumnya.

Dari interaksi dalam jasa ojekan pada suatu ketika, si wanita tersebut menanyakan apakah abang ojek memiliki SIM mobil dan dapat mengantar-jemput dirinya untuk keperluan pada suatu hari. Kebetulan abang ojek kita ini memang memiliki SIM dan bisa menyetir mobil. Jadilah ia mendapatkan orderan sopir seharian untuk sii wanita cantik.

Singkat cerita, saat-saat dalam perjalanan antar-jemput yang hanya seharian itulah, ia mendapatkan kisah keluh-kesah si wanita cantik perihal kehidupan rumah tangganya. Ia telah menikah lebih dari 10 tahun. Keluarganya bahkan sudah dikaruniai dua orang anak. Nah, pilunya si wanita cantik tersebut bernasib kurang beruntung. Lelaki yang menikahinya, suami sekaligus ayah dari anak-anaknya tersebut ternyata bukanlah seorang lelaki dan ayah yang bertanggung jawab.

Lelakinya memang tanpan bin ganteng. Secara teori umum, wajarlah jika seorang wanita cantik mendapatkan suami yang tanpan. Sebaliknya, seorang lelaki tampan juga wajar mendapatkan istri yang cantik jelita. Cantik dan tampan berimbang dalam berdampingan. Kita semua tentu mafhum. Daya tarik cantik dan tampan ini lah yang kemudian menjadi magnet untuk mempersatukannya dalam ikat tali rumah tangga.

Suami ganteng saja ternyata tidak cukup. Dalam perjalanan kehidupan rumah tangga selanjutnya, barulah muncul belangnya sang suami tampan. Rupanya, ia dalam pribadi aslinya adalah seorang pengangguran tulen. Tidak menjadi masalah jika seseorang nganggur dalam suatu kurun waktu, namun ia berusaha untuk obah awak. Semestinya sebagai seorang lelaki, sebagai seorang suami, sebagai seorang kepala rumah tangga, dan memiliki rasa tanggung jawab kepada istri, kepada anak-anaknya, kepada rumah tangganya pastinya ia akan berusahan sekuat tenaga untuk dapat bekerja. Cilakanya si suami ganteng ini tipe orang yang ogah-ogahan, bahkan dalam perjalanannya dapat dianggap sebagai lelaki tidak bertanggung jawab yang hanya mau enaknya sendiri. Bahkan dalam kurun waktu usia pernikahan mereka, belum pernah sekalipun si suami memberikan nafkahnya kepada keluarga.

Masih mending kalaulah tidak bekerja dan tidak memberi nafkah jika mau mengurusi anak-anaknya. Bahkan untuk sekedar antar-jemput anaknya ke sekolahannya saja seringkali ngadat. Banyak sikap dan perilaku si suami, sebagai suami maupun sebagai ayah yang diabaikan. Hal demikian semakin memperburuk keadaan dan merenggangkan hubungan antar anggota rumah tangga. Anak-anak yang kian tumbuh besar bahkan tidak mau lagi menyebut ayahnya dengan panggilang ayah, papa, bapak, daddy, atau lainnya. Mereka seolah telah menganggap ayah kandung mereka sebagai orang lain.

Masih dari uraian abang ojek, pada intinya si wanita sudah berada di ujung kesabarannya. Tak segan-segan dalam berbagai kesempatan saat bercerita wanita cantik tersebut mengeluarkan kata-kata umpatan, bahkan (maaf) isi kebun binatang. Mungkin saking tertekan batinnya.

Inti kisah dari abang ojek tersebut adalah rasa salutnya dengan orang-orang kecil, seperti para tukang ojek , yang rela banting tulang, peras keringat, kerja keras di jalanan mencari nafkah untuk keluarganya. Betapa sii wanita cantik merasa sangat iri menyaksikan banyak lelaki sederhana namun memiliki sikap dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya.

Haduhhh. Saya sempat sekali dua kali saja menimpali tuturan kisah abang ojek pagi ini. Perjalanan yang tidak lebih dari sepuluh menit telah dibonusi dengan kisah pendek yang lumayan panjang untuk dituliskan ini. Hidup memang penuh warna-warni dengan kisah klasik berbagai pergulatan manusia dalam menjalani kehidupan masing-masing.

Kulon Balairung, 20 September 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Kisah Pendek Jum’at Pagi

  1. riky berkata:

    Kisah yang inspiratif kak, ganteng2 pengangguran buat apa.. Hihi. Btw salam kenal.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s