Kontriversi Jajanan Bocah Mengandung Babi


Jajanan yang satu ini memang sudah lama menjadi kontroversial. Bentuknya sederhana. Bulat lonjong alias oval laksana telur. Telur yang satu ini memang bukan telur asli selayaknya telur ayam, telur bebek, telur puyuh atau telur-telur lain yang banyak dijuag di pasar. Baik dalam kondisi mentah maupun telah matang dan siap disantap. Telur yang ini jelas bukan telur rebus, atau telur asin. Pun telur ini juga tidak dapat didadar dan digoreng. Namun yang jelas, telur ini memiliki merk yang cukup termasyur. Namanya berbau asing, Kinder Joy.

Tambov, Russian Federation – June 01, 2017 Kinder Joy eggs with three Kinder Сars toys on gray background. Kinder Joy manufactured by Italian company Ferrero. Studio shot.

Kinder Joy, sejatinya bukanlah jajanan camilan. Meskipun di sebagian bagian dalam telur ada coklat yang lumayan digemari anak-anak, namun takarannya sangat minimalis hingga tidak mungkin mengenyangkan perut. Kita bisa langsung bisa membedakannya dengan jenis jajanan makanan kecil yang lain, seperti ciki-ciki, mie kremes, wafer, donat, aneka ragam gorengan, cireng, cimol, cilor, dan lainnya. Daya tarik jajanan yang satu ini bagi anak-anak memang bukan terletak pada sedikit coklat tersebut. Anak-anak menjadi sangat gandrung dengan jajanan ini justru karena adanya mainan kecil yang seolah menjadi bonus, bagaikan model lotre.

Jikalau anak-anak jajan karena lapar saat waktu istirahat jam sekolah, tentu hal tersebut merupakan sebuah kewajaran dan keumuman bagi anak-anak. Demikian halnya jika jajanan anak berupa mainan kecil yang murah meriah untuk dijadikan teman bermain anak-anak kita, itupun sebuah hal yang cukup lumrah. Nah untuk jenis jajanan anak-anak yang seumumnya ini biasanya juga tidak mahal, bahkan kebanyakan diantaranya dijual murah meriah sesuai dengan daya beli dan kemampuan kantong anak-anak.

Namun demikian, untuk jenis jajanan yang satu ini memang termasuk istimewa harganya. Sebutir telur segenggaman anak kecil, harganya jauh lebih mahal daripada seliter beras kelas menengah. Dibandingkan pertalit ataupun premiumpun juga lebih mahal. Harga yang dibandrol sebandingkan dengan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauk-pauk untuk ukuran jajan di warung tegal yang lebih bersahabat.

Berbeda dengan jenis mainan bocah yang dijual dengan cara-cara yang biasa, jajanan telur ini memang dikemas sedemikian rupa dan dibumbui dengan mitos gaya yang seolah membanggakan anak-anak. Dengan jajan benda yang satu ini, anak-anak seolah dicitrakan lebih kaya, lebih modern, lebih cerdas dan kekinian. Tata peletakannyapun biasa di sudut etalase yang mencolok dan terlihat langsung oleh anak-anak, bahkan juga bagi pembeli dewasa. Deretan etalase atau meja kasir menjadi tempat yang paling khas di mana jajanan ini bertengger. Jelas-jelas psikologis anak-anak yang ikut berbelanja pada suatu minimarketsedang dimainkan. Walhasil melalui teknik “iminh-iming” ini, banyak anak yang akhirnya merengek minta dibelikan. Demikian cantik dan jitu jurus marketing yang diterapkan.

Namanya anak-anak tentu paling demen untuk urusan jajan. Sehari-hari, tidak sekolah tidak di rumah, anak-anak senantiasa ingin jajan. Uang saku para bocah untuk jajan bisa jadi melebihi jumlah pengeluaran bulanan untuk sekolah mereka. Sepanjang tidak berlebihan dan boros, jajan tentu tidak menjadi masalah yang memberatkan orang tua. Namun jika harga sebuah jajanan anak lebih mahal daripada sepiring nasi, daripada seliter beras, bahkan lebih mahal daripada pertalit dan pertamax, tentu keberadaan anak-anak yang kecanduan dengan jajanan ini menimbulkan keresahan bagi para orang tua.

Jalan pintasnya ya banyak orang tua yang kemudian melarang anak-anak jajan telur aneh ini, meskipun si buah hati merajuk dan merengek, bahkan nangis-nangis. Dalam beberapa kesempatan, kami pernah menyaksikan anak-anak yang berguling-guling nangis di lantai depan kasir karena ibunya tak membelikan jajanan telur mahal ini. Namun tidak selalu mudah dan berhasil bagi orang tua untuk memberikan pengertian sehingga anak-anak bersedia membatasi diri untuk tidak ngiler dengan jajanan telur ini.

Tidak hanya bagi orang tua, fenomena jajanan telur mahal ini juga menjadi perhatian dan keprihatinan tersendiri bagi kalangan guru di tangkat taman kanak-kanak ataupun sekolah dasar. Tidak sedikit kasus anak-anak membelokkan uang iuran sekolah untuk jajan Kinder Joy. Dari cerita beberapa rekan yang diceritai oleh anak-anak mereka, ada banyak guru yang melarang jajan telur mahal ini dengan dalih atau alasan bahwa jajanan tersebut mengandung babi. Karena mengandung babi, maka jajanan tersebut hukumnya haram bagi anak-anak muslim. Dengan demikian anak-anak tidak boleh untuk membelinya.

Rupanya tidak hanya puluhan atau ratusan anak-anak dinasehati tentang kandungan babi dalam Kinder Joy. Suatu ketika anak kamipun bercerita tentang hal yang sama. Gurunya melarang ia jajan Kinder Joy karena ada babinya.

Terus terang dengan harga sebuah jajanan anak-anak yang dijual bebas namun sungguh mahal dan tak masuk akal, kami tentu turut berprihatin. Namun jika penanaman pemahaman yang disampaikan kepada anak-anak untuk tidak boros dengan jajanan yang satu ini disampaikan dengan cara yang tidak tepat, bahkan dengan tindakan bohong, menurut hemat kami justru bertentangan dengan konsep pendidikan itu sendiri. Salah satu nilai moralitas yang dijunjung tinggi dan ditanamkan sebagai karakter anak-anak adalah kejujuran.

Kenapa adanya jajanan yang terlalu mahal untuk kantong para bocah tidak disampaikan dengan kewajaran dan apa adanya. Bahwa harga yang terlalu mahal tersebut tidak seimbang dengan kemanfaatan ataupun kesenangan sesaat yang dirasakan anak-anak kita. Bahwa ayah-ibu mereka kerja keras banting tulang mengumpulkan uang, selayaknya uang jajan tidak digunakan dengan berboros ria. Anak-anak jaman now adalah anak-anak dengan tingkat rasionalitas berpikir yang melebihi orang tua pada jamannya. Dengan obrolan dan diskusi yang mendidik, anak-anak akan lebih paham dengan konteks persolanan jajanan mahal dan pesan moral yang disampaikan justru akan lebih tertanam sebagai sifat dan sikap anak-anak kita. Mendidik dengan cara berbohong adalah tindakan meruntuhkan nilai dan moralitas generasi masa depan. Moga menjadi perhatian bersama.

Ngisor Blimbing, 2 September 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s