Bunganya Bu Ngadirin


Namanya Bunga. Ibunya juga bernama Bunga, tepatnya Bu Ngadirin. Tentu karena suaminya, alias Bapaknya si Bunga, bernama Pak Ngadirin.  Bunga anak ke dua dari pasangan Pak dan Ibu Ngadirin. Anak pertama alias si sulung bernama Sari. Ingat kan sebutan benang sari? Tentu masih sangat terkait erat dengan bunga. Karena serba bunga ini, tidak berlebihan jika keluarga yang satu ini kita sebut sebagai Keluarga Bunga.

Keluarga Bunga bagi keluarga kami bukanlah keluarga biasa. Dari segi hubungan darah atau silsilah sebenarnya tidak ada tali persaudaraan kekerabatan. Mungkin karena Bu Ngadirin dulunya dinas satu pabrik dengan kami, serta kebetulan juga rumah kami searah dan tetangga kampung, jadilah kami cukup sering berbarengan di kendaraan umum saat berangkat dan pulang kerja. Kebetulan pula sebagai sesama orang Jawa yang sama-sama di perantauan, kami akrab sebagai saudara.

Saling kunjung diantara keluarga kami adalah hal yang wajar dan biasa. Di momentum liburan hingga lebaran, kami sebagai keluarga yang lebih muda tak lupa berkunjung. Demikian halnya pada saat natal. Di antara empat anggota keluarga Pak dan Ibu Ngadirin, kebetulan Bu Ngadirin memeluk agama Katholik semenjak lahir. Memang ia berasal dari keluarga yang secara turun-temurun memeluk agama Al Kitab tersebut.

Bu Ngadirin termasuk sosok perempuan yang memiliki banyak ketrampilan rumah tangga. Salah satu ketrampilan yang paling menonjol adalah jahit-menjahti berbagai model baju. Dari tangan dinginnya pula akhirnya istri saya dapat sedikit-sedikit belajar membuat model baju dan menjahitnya menjadi pakaian jadi. Demikian sebaliknya. Istri saya yang lama menekuni berbagai ketrampilan pernak-pernik kelengkapan seserahan pengantin dan hias suntik puding mengajari Bu Ngadirin. Bahkan pernah satu RT ibu-ibu tetangga Bu Ngadirin mengadakan workshop singkat tentang teknik hias suntik puding yang dipandu istri saya.

Pun ketika di pekan lalu Keluarga Bunga menikahkan Bunga, keluarga kami juga turut dilibatkan sebagai bagian dari panitia. Jauh hari memang Bu Ngadirin berujar bila tiba waktunya ia punya gawe, kami diminta untuk bantu-bantu. Bukan sebagai orang lain tetapi sebagai keluarga dekat.

Untuk keperluan kelengkapan seserahan pengantin, istri sudah pasti didaulat untuk menata dan merias segala rupa seserahan. Dari seperangkat alat sholat,  pakaian, sepatu, jam tangan, dan lain sebagainya. Kurang lebih selama hampir dua minggu, istripun berjibaku mengisi waktu pulang kerjanya dengan lemburan tata-menata uba rampe seserahan tersebut. Saat tiba waktunya hari seserahan yang dikemas dalam acara siraman, dodol dhawet, serta malam midodareni tiba, semua perangkat seserahanpun siap dengan tampilan cantik nan menawan.

Tiba di hari-H pernikahan Bunga, kamipun dilibatkan sebagai pagar ayu – pagar bagus alias barisan among tamu atau penerima tamu. Semenjak emang pagi kamipun bergegas menuju gedung tempat pernikahan, sekaligus tempat resepsi. Kami sekeluarga, lengkap dengan anak-anak si Ponang dan si Nonipun berdandan pakaian tradisional gaya Surakarta.

Tempat resepsi pernikahan Bunga di HallF, sebuah gedung bergaya studio pertunjukan yang sering digunakan untuk shooting beberapa mata acara sebuah stasiun televisi swasta. Kebetulan Bunga memang bekerja di stasiun televisi tersebut. Sebagaimana nama, aneka dekorasi di setiap sudut gedung resepsi dihiasi dengan berbagai macam bunga. Bukan sekedar bunga plastik, semua bunga yang ada merupakan bunga potong yang asli nan segar. Sungguh sebuah konsep yang tentu sangat filosofis dan bermakna bagi seorang Bunga yang tengah meniti sebuah momentum yang sangat bersejarah dalam perjalanan hidupnya.

Selepas acara akad nikah di pagi harinya, menjelang siang dilaksanakanlah acara resepsi. Ribuan tamu undangan yang terdiri atas sanak kerabat dari kedua belah pihak pengantin pria dan wanita, para kolega, sahabat, rekan dari kedua orang tua dan keluarga besar, serta rekan sahabat dari kedua pengantin hadir mengular tak henti dan memenuhi ruang utama. Gending-gending khas Jawa dan alunan beberapa lagu mendayu nan romantik menjadi latar dan saksi syahdunya perhelatan resepsi yang berlangsung.

Tentu hari itu memang harinya Bunga. Diantara semua pasang mata, Bungalah yang paling berbunga-bunga. Diantara ribuan bunga yang hadir sebagai saksi, Bunga dan Bu Ngadirin nampak larut dalam kebahagiaan yang meluap-luap. Sebagai bagian dari barisan among tamu, kamipun turut merasakan kebahagiaan hari itu. Doa kebahagiaan, kerukunan, kesetiaan, dan keabadian bagi kedua pengantin dan segenap keluarga besar Bunga dan Bu Ngadirin tentu turut kami panjatkan. Selamat berbahagia untuk Bunga. Selamat berbahagia untuk Bu Ngadirin dan keluarga.

Ngisor Blimbing, 31 Agustus 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Ngisor Blimbing dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bunganya Bu Ngadirin

  1. mysukmana berkata:

    bunga semakin berbunga bungan dong om hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s