Api Amrah nan Tak Kunjung Padam


Api. Kemarau dan api. Panas dan api. Demikianlah hari-hari ini kita mendengar kabar tentang kemarau, tentang kekeringan, juga tentang kebakaran. Kebakaran rumah, kebakaran pabrik, kebakaran semak-belukar, kebakaran hutan belantara di Sumatera, Kalimantan, bahkan dataran Amazon di Amerika Selatan. Musim kemaarau memang tengah mendera kita. Sekian minggu dan bulan hujan tiada pernah datang. Hari-hari senantiasa diwarnai dengan terik sinar matahari. Daun-daun menguning, bahkan layu, untuk kemudian gugur berjatuhan.

Jadilah dedaunan itu menjadi seresah. Berserak dan menumpuk di atas tanah. Rerumputan dengan serabut akar bersumbu pendek tak lagi mampu efektif menyerap sisa-sisa air. Mereka lunglai, lalu layu, untuk kemudian mati mongering. Demikian halnya dengan semak belukar dan rumpun-rumpun perdu. Semua kering, semua gersang. Mereka rentan jika tersulut api. Daun kering, rumput kering, semak kering, perdu dan belukar kering seolah sekam yang siap meluncurkan api.

Sampah-sampah menumpuk. Ada dedaunan, ada pula plastik dan botol. Tak sedikit pula lemari dan Kasur yang turut terbuang. Di masa kemarau yang sungguh panjang, masih banyak sampah-sampah itu teronggok di pinggir jalanan, di got-got dan kali-kali. Mereka juga tersebar berserak di lahan-lahan  dan kebun kosong. Ada pula yang tersangkut pada aliran kali yang megecil, namun tidak sedikit pula yang terlanjur hanyut hingga muara pantai bahkan masuk ke dalam kedalaman samudera.

Adapun sebagian kecil diantara masyarakat yang masih menyisakan asa dan rasa peduli tentang kebersihan lingkungan, tak sedikit yang terpaksa membakar sampah-sampah yang tak surut untuk selalu menggunung. Bakar adalah cara pintas dan singkat untuk mengenyahkan sampah. Bakar memang bukan pilihan terbaik. Namun laju pertambahan sampah yang semakin menggunung itu tidak mungkin diimbangi dengan pembiaran dan tangan yang berpangku tangan. Bakar, pilihan pahit yang sementara harus ditempuh.

Membakar sampah di musim kemarau nan panjang haruslah dilakukan dengan sangat hati-hati. Salah-salah, sepercik api yang terbawa angin bisa menyambar benda-benda lain yang kering kerontang. Api bagaikan amarah. Dari setitik, ia bisa membesar, berkembang menggelombang. Dan jika hal demikian yang terjadi, api itupun meluas sulit dikendalikan. Hutan-hutan ribuan hektar yang terbakar tak jarang hanya dipicu oleh senila punting rokok yang dibuang sembarangan.

Api ibarat amarah. Api bagaikan dendam. Api amarah, api dendam yang terpercik akan sangat sulit untuk dipadamkan. Api-api itu harus dikendalikan dengan sebaik-baiknya. Api, kemarau, kekeringan, dan kebakaran hanyalah bagian kecil dari bencana-bencana yang kini mendera kita sebagai bangsa dan negara. Tidak terbatas kebakaran di dunia fisik, kebakaran-kebakaran dalam arti yang lain juga terjadi di berbagai bidang dan lapangan. Di bidang politik ada kebakaran dahsyat. Di sektor hukum, ekonomi, ideology, bahkan sosial budayapun demikian. Api-api it uterus memercik, terus membesar, terus membara membakar amarah dan memecah belah persatuan bangsa.

Waspadalah, waspadalah!

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s