Tragedi Rumpun Kembang Anggrek


Menanam. Tidak harus menjadi petani untuk sekedar menanam kembang dalam pot di teras atau halaman rumah mungil kita. Termasuk, tentu saja menanam jenis tanaman hias puspa gumantung sebagaimana tanaman anggrek. Anggrek yang asli tanaman endemik Nusantara ini memang membutuhkan ketekunan, ketelatenan, dan ketelitian tersendiri untuk menanam serta memeliharanya. Effort yang tidak ringan ini justru bisa menjadi semacam penyeimbang otak kanan dan otak kiri. Antara sisi jiwa dan sisi raga. Antara sisi psikis dan fisik kita. Antara jasmani dan ruhaniah kita.

Menanam. Di dalam kegiatan menanam ada etos kekaryaan. Tidak hanya sekedar niat, namun menanam membutuhkan tekad. Tidak hanya berteori, dalam menanam memerlukan kerja praktik. Tidak hanya menebar bibit ataupun menyemai benih. Menanam bermakna memberikan curahan perhatian, cinta kasih, bahkan kasih sayang yang suci. Menanam berarti memberikan kesempatan hidup bagi makhluk hidup yang lain.Menghidupi kehidupan itu sendiri.

Perihal tanaman anggrek yang ingin saya kisahkan, saya sengaja mbibit tanaman jenis ini dari kaki gunung Merapi. Beberapa rumpun anggrek yang satu ini memang telah puluhan tahun ditanaman di sekeliling rumah tinggal di kampung halaman kami. Tersangkut di dahan pohon jambu kluthuk, menggumpal pada segumpal sabut kelapa yang digantungkan, ataupun pada beberaa sisi dinding batas pekarangan dengan tetangga.

Anggrek entah apa namanya. Yang jelas anggrek ini seolah menjadi ikon tersendiri bagi keasrian lingkungan rumah kami. Meski di masa musim kemarau, daunnya gugur serta batang utamanya mengering, namun ketika hujan tiba ia segera bertumbuh membangkitkan daun, dahan, bahkan kemudian bunga-bunga merah jambu keputihan yang sungguh indah nan mempesona. Sebuah karya cipta agung Sang Maha Pencipta yang mencitrakan keindahan Yang Maha Indah.

Dua rumpun jenis anggrek ini kini menggantung pada dua dahan batang pohon belimbing yang ada di muka rumah kami. Tidak hanya beberapa ruas batang dan akar yang sengaja kami bawa dari kaki Merapi, bahkan sabut media tanampun juga kami bawa dari kampung halaman. Bukan atas dasar gugon tuhon maupun kepercayaan mistik misterius, namun hanya sebuah alasan sederhana karena di pinggiran ibukota sungguh tidak mudah untuk mendapatkan selembar dua lembar sabut kulit kelapapun.

Di pekan akhir tahun, di masa curah hujan musim penghujan yang tengah memuncak, dua rumpun anggrek tersebut mulai kami tanam. Kami tali dengan beberapa utas kawat penguat. Kami alasi rumpun tersebut dengan beberapa lembar sabut yang melingkar. Kemudian seiring waktu berlalu, pagi-petang anggrek tersebut kemudian menjadi semacam kelangenan. Tanaman kesayangan. Demikianlah rasa memiliki, rasa ingin memelihara, merawat, menjaga, juga melindungipun berkecambah dan tumbuh di dalam jiwa kami. Rasa-rasa inilah yang sebenarnya menjadi asupan-asupan nilai untuk menghadirkan kelembutan jiwa dan hati kita sebagai insan manusia karena menanam adalah memberi tadi.

Rupanya menanam dan memelihara tanaman anggrek tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perhatian ekstra, butuh kesabaran, ketelatenan agar benih yang kita tanam dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Lebih dari itu semua, tentu juga dibutuhkan waktu yang tidak pendek sehingga akar-akar menjadi kuat menyerap nutrisi dan tunas-tunas muda tumbuh bersemi. Setidaknya hingga masa enam bulan, barulah akar berasa kerasan menancap kuat pada serpih bilah serabut sabut kelapa dan tunas-tunaspun hijau segar bersemi. Barulah terasa jerih payah pada masa sebelumnya mulai membuahkan hasil. Hati kamipun mengembang. Perasaan kami menjadi berbunga, meski bunga anggrek belum masanya muncul. Ada kegembiraan. Ada rasa syukur yang terpanjat kepada Tuhan. Jerih-payah tidak pernah sia-sia.

Nah, ketika hati kami tengah berbunga, ketika perasaan kami membuncahkan kegemberiaan dan rasa syukur yang mendalam, tiba-tiba tragedi itu tiba. Pagi petang remang-remang, mata kami terbelalak tidak percaya saat mendapati salah satu diantara rumpun tanaman anggrek kami tergeletak, terhampar tak beraturan di tanah bawah pohon belimbing. Perasaan kami seketika melayang. Seolah panas terik selama setahun terhapus sudah dengan hujan seharian. Usaha, ketelatenan, curahan kasih sayang selama kurang lebih setengah tahun dibuyarkan oleh tangan jahil tidak bertanggung jawab.

Bukan sekedar rusak karena terjatuh yang menjadi penyesalan kami. Justru rasa mendongkol itu sungguh menggumpal tatkala dengan nampak sangat jelas kerusakan yang terjadi akibat pukulan batang kayu dari seseorang yang terlalu pengecut untuk melakukannya di malam hari saat kami nyenyak terlela di pembaringan. Hati ini rasanya langsung ingin menjerit. Apa salah dan dosa tanaman anggrek kami?

Tanaman adalah anamah Tuhan. Ia hadir menjadi salah satu penyangga ekesistem yang utama. Dari karbon dioksida yang diserapnya, dari oksigen yang dihembuskannya, dari kesegaran hijau daun yang dipancarkannya, dari keindahan bunga yang ditebarkannya, bagaimana mungkin tanaman anggrek tersebut tidak berguna dan harus dirusak!

Sejenak dua jenak merasa marah, nurani kamipun membisikkan untuk tidak berlanjut dengan memanjakan perasaan sedih berlarut-larut. Daripada sibuk berprasangka tentang siapa pelaku tindakan sangat tidak terpuji kami tersebut, kami kemudian memilih jalan untuk segera memungut remahan rumpun tanaman anggrek yang sudah terlanjur hancur berantakan. Kami pungut sabut dan kawat yang terurai. Kami benahi kembali akar, tanaman, dan media pendukungnya. Kami gantungkan kembali sebagaimana kami gantungkan juga harapan ke depan yang lebih baik.

Kini, setelah masa satu bulan berlalu dari masa tragedi tanaman anggrek yang terjadi, anggrek itu kembali bersemi. Berseminya tunas anggrek kami itupun berimbas kepada berseminya kembali harapan dan pengharapan kami untuk terus menengadahkan tangan untuk senantiasa memohon kemurahan kasih sayang Tuhan Yang Maha Menghidupi Kehidupan.  Semoga dari setiap peristiwa kita bisa belajar. Rasakan indahnya, nikmati prosesnya, petik hikmahnya. Semoga.

Ngisor Blimbing, 21 Agustus 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Bubrah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s