Manusia Nilai Manusia Harta Manusia Istana


Manusia yang manakah kita? Sebuah pertanyaan retoris yang tidak mudah dijawab oleh masing-masing pribadi. Ada beragam dimensi yang dimiliki setiap individu manusia. Ada bermacam cara pandang untuk mengidentifikasi sifat atau karakter seseorang. Menarik saat menyimak ungkapan Cak Nun yang melakukan pendekatan karakteristik manusia sebagai manusia nilai, manusia harta dan manusia istana. Hal tersebut diungkapkan salah satunya pada saat pemberian ijazah maiyah kepada tiga tokoh penyair, Taufik Ismail, Sutardjo Calzoum Bachri, dan Iman Budi Santosa.

Manusia nilai merupakan sosok pribadi yang taat berkarya dalam rangka menegakkan nilai-nilai luhur yang dimiliki dalam kesejarahan antropoligis manusia atau masyarakat. Nilai kebajikan, nilai kebenaran, nilai kejujuran, nilai keindahan, nilai keagamaan, bahkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Mereka adalah segolongan orang yang meyakini, menghayati, dan mempraktikkan setiap nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai luhur tersebut dapat berasal dari sumber manapun. Agama, tata susila, tradisi dan adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan dari setiap kebijaksanaan apapun dari setiap proses yang terbimbing oleh-Nya. Mereka adalah manusia yang telah lulus menyandang sebagai manusia sejati. Mereka sangat tahu bagaimana menempatkan dunia dan akhirat, memposisikan harta dan martabat, antara jasmani dan rohani, antara jiwa dan raga, antara apapun yang berdimensi material dan spiritual. Mereka berdiri di atas semua itu.

Adapun manusia harta sudah pasti sosok insan yang mengorientasikan hidup dari sudut pandang pencapaian kepemilikan harta yang sebanyak-banyaknya. Ingin punya uang yang sebanyak-banyaknya. Ingin punya emas, intan, berlian, permata yang berlimpah ruah hingga cukup untuk tujuh turunan. Ingin memiliki rumah mewah beserta dengan segala macam perabotan yang serba mahal dan luks. Dalam setiap usaha atau karya apapun dari jenis manusia harta adalah meraih laba yang sebesar-besarnya. Jika harus sikut kanan, sikut kiri, injak bawah, jilat atas mereka tak peduli. Dalam diskursus manusia jaman now mereka diidentikkan sebagai manusia berpaham materialistik dan kapitalistik. Segala hal rupa yang ada dalam diri dan lingkungan sekitarnya merupakan aset modal yang harus dikembangkan demi memupuk keuntungan yang sebesar-besarnya.

Sedangkan golongan manusia ke tiga adalah manusia istana. Istana merupakan simbolisasi dari derajat, pangkat, kedudukan, dan kekuasaan. Status sosial dan kedudukan, serta penghormatan bagi manusia jenis ini sangatlah penting. Bekerja, meniti karir, dipandang sebagai jalan untuk meraih tingkat penghormatan dari manusia lain. Mereka berprinsip dengan kekuasaan di tangan, segala hal dapat diraih dan diciptakan. Bahkan, kekuasaan itu sendiri merupakan aset modal untuk memperkaya diri. Golongan manusia istanapun termasuk penganut paham materialistik yang semakin akut dewasa ini.

Dalam konteksi dimensi ukhrawi dan duniawi, manusia nilai jelas berorientasi kepada nilai-nilai keabadian. Adapun manusia harta dan manusia istana cenderung kepada nilai kesementaraan dunia fana ini. Antara manusia harta dan manusia istana seringkali menyatu dalam sosok-sosok yang serakah bin lalim. Mereka memperalat harta untuk berkuasa. Mereka juga memperalat kuasa untuk menumpuk harta. Demikian sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan ketiga figur penyair sebagaimana tersebut di atas? Taufik Ismail dikenal sebagai salah seorang tokoh sastra Angkatan 66 yang masih produktif menulis puisi hingga saat ini. Sutardji Calzoum Bachri dikenal sebagai Presiden Puisi dengan bait-bait puisi yang berbeda dengan patron umumnya puisi. Adapun Iman Budi Santosa, ia adalah murid utama dari Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi, yang juga terus aktif menyuarakan puisi yang syarat dengan nilai kerendahan hati seorang Jawa yang sejati. Untuk apakah mereka bertiga menulis puisi hingga hari ini? Untuk mengejar uangkah? Untuk menumpuk hartakah? Untuk mengejar popularitas dan pujiankah? Untuk meraih kuasa, derajat, dan pangkatkah? Jawaban tegasnya tentu tidak! Mereka berpuisi dan bersyair hingga hari ini untuk memperjuangkan tegaknya nilai, untuk melestarikan keluhuran nilai, dan lebih dari itu semua untuk membangun kemanusiaan.

Originalitas dan otentitas Taufik Ismail, Bang Tardji, dan Pak Iman telah terpatri dalam rentah waktu yang tidaklah pendek. Bukti karya sastra yang sekian banyak tidak bisa memungkiri hal tersebut. Kesaksian dari banyak orang, dari berbagai kalangan mulai sesama penyair, kritikus sastra, wartawan, penikmat seni, bahkan orang kebanyakan sudah teramat banyak. Mereka adalah manusia yang telah mencapai derajat kemanusiaannya. Mereka segelintir manusia yang memilih jalan berbedda dibandingkan mayoritas jaman now yang lebih berorientasi materialistik.

Hari-hari ini, bahkan waktu-waktu ke depan manusia semakin tenggelam dalam modernitas jaman. Jaman yang bagi segelintir manusia jernih dirasakan sebagai jaman edan. Jaman dimana manusia justru semakin telanjang dana sing dari nilai-nilai keluhuran yang menjadi fitrah hidupnya. Bagaimana kemerosotan akhlak tidak semakin menggila? Bagaimana ketidakjujuran dan kepalsuan semakin dikenakan secara bangga sebagai pakaian? Korupsi yang menggurita, kemaksiatan yang menghanyutkan, tatanan norma dan nilai kehidupan yang berjumpalitan, yang benar direndahkan, yang salah justru diagungkan, bagaimana ini semua menjadi pemandangan sehari-hari? Jawabanya diantaranya adalah karena dewasa ini semakin sedikit keberadaan manusia nilai.

Bagaimana nilai akan tegak jika manusia bersekolah dan menuntuk ilmu hanya demi kelak dapat menjadi kaya raya? Bagaimana ujung dari manusia yang berkuasa hanya demi menumpuk harta hingga kaya raya? Menjadi petani hanya ingin kaya raya. Menjadi pedagang, pemusik, artis, politikus, aparatur negara sipil, tentara, polisi, bupati, gubernur, menteri, presiden, bahkan rohaniawan dan agaman bayangkan jika orientasinya hanya ingin harta, hanya ingin berkuasa, hanya ingin menjadi kaya raya? Sudah pasti kehancuran nilai!

Mari kembali ke nurani. Monggo menggali kembali nilai-nilai luhur kemanusiaan kita. Hanya manusia nilai yang dapat mengemban amanah harta dan kuasa dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan bersama. Demi diri sendiri, demi sanak keluarga, demi saudara, demi tetangga, demi masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan itu sendiri, jangan pernah meminggirkan dan mencampakkan nilai-nilai manusia yang sejati. Itulah kunci  kejayaan yang abadi, duni wal akhirat.

Ngisor Blimbing, 15 Agustus 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Maiyyah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s