Bajrangi Bhaijaan, Film Kemanusiaan Lintas Batas Konflik


India dan Pakistan, dua negara sekandung yang masih berseteru. Perbedaan pandangan hidup dan keyakinan telah menggariskan mereka berpisah sebagai dua negara. Sekian tahun berjalan luka lama belum juga hilang. Konflik di tingkat elit seringkali memicu insiden di perbatasan. Masing-masing pihak membentengi perbatasannya dengan kawat berduri, berlistrik pula. Berlintas batas di kedua negara harus melalui serangkaian prosedur pemeriksaan yang sungguh ketat. Kedua belah pihak seolah tenggelam dalam perang tertutup yang tidak berkesudahan.

Namun apakah kondisi demikian harus senantiasa demikian? Tetapi apakah selamanya mereka kemudian harus terus saling bermusuhan? Tidak adakah jalan diplomasi yang membawa kedua belah pihak dalam persahabatan dan kedamaian? Tidak adakah akar darah dan sejarah yang dulu pernah mempersatukan mereka ketika terlahir sebagai sebuah negara yang bersatu, kelak akan tumbuh kembali?

Bagi para elit, India dan Pakistan adalah sebuah keniscayaan. Di sisi lain, rakyat di kedua negara lebih cepat menerima kenyataan. Jalan perpisahan memang telah diambil. Namun yang pasti mereka lebih mendambakan hidup sebagai sudara tetangga yang rukun, damai, dan saling menghormati satu sama lain. Duduk sejajar secara terhormat sebagai sesama bangsa yang berdampingan. Bagaimanapun secara individu banyak orang India yang memiliki saudara sedarah di Pakistan. Demikian sebaliknya, tidak sedikit warga Pakistan yang memiliki kerabat warga India.

Bajrangi Bhaijaan. Ia seorang putra India. Semenjak kecil ia adalah penyembah Dewa Hanoman yang setia. Kesetiaan Hanoman kepada Rama, kepada Shinta, kepada Ayodya, kepada Ibunda Anjani, kepada kejujuran, kepada jalan kebajikan, kepada cinta kasih dan kemanusiaan telah turut menempa soso pemuda India tersebut memiliki sikap, sifat, dan perilaku sebagaimana Hanoman.

Menginjak usia dewasa, pemuda Bajrangi bertemu sengan seorang gadis yang menjadi pujaan hatinya. Gayung bersambut, cintapun berlabuh. Di saat ia mendantangi ayah si gadis dan mengutarakan lamarannya, sang calom mertu mempersyaratkan ia dapat menikahi kekasihnya setelah memiliki rumah yang layak. Bajrangi hanya diberikan waktu tiga bulan untuk membuktikannya. Jika dalam waktu tiga bulan ia tidak memiliki rumah yang layak, maka si gadis pujaan hati akan dinikahkan dengan pemuda lain yang lebih mapan.

Di tengah fokus untuk memenuhi syarat calon mertuanya, Bajrangi menemukan seorang anak kecil perempuan yang terpisah dari kedua orang tuanya. Sayangnya anak kecil tersebut bisu. Ia tidak bisa menjawab ketika ditanya siapa namanya, dimana rumahnya, dan siapa nama kedua orang tuanya. Tentu saja sisi nurani Bajrangi sangat tersentuh. Sebagaimana Hanoman yang pembela cinta kasih dan persaudaraan kemanusiaan yang tulus, ia bertekad untuk menyatukan kembali anak temuaanya hingga dapat bersama ayah ibunya kembali. Bagaimanapun cara dan kemanapun ia harus pergi akan dijalani Bajrangi. Ia kemudian memanggil bocah gadis itu dengan Muni.

Bajrangi sangat menyayangi Muni. Kemanapun dan dimanapun Muni selalu bersamanya. Ia ibarat sosok pelindung yang benar-benar bertanggug jawab. Tak heran jika kemudian Muni menjadi akrab dan kekasih, bahkan keluarga calon mertuanya.

Suatu hari, saat berada di kerumunan orang-orang di pasar, Bajrangi menyempatkan melakukan pemujaan kepada Dewa Hanoman pada sebuah kuil di sudut pasar. Awalnya Muni duduk manis di sampingnya. Bajrangi khusyuk berdoa. Selesai berdoa ia menengok ke samping. Ia tidak lagi menjumpai Muni. Ia panik, ia sangat khawatir terhadap keselamatan Muni.

Tepat di seberang jalan depan kuil terdapat sebuah masjid. Bajrangi dengan perasaan ragu memberanikan diri memasukinya. Demi Muni. Sebagai seorang penganut Hindu, ia tidak pernah memasuki tempat ibadah ummat lain. Ternyata Muni memang berada di dalam masjid. Melalui celah dinding pembatas, ia melihat Muni melilitkan kainnya ke atas kepala dan muka. Sebagaimana perempuan lain, Muni berdoa dengan mengadahkan kedua tanganya. Sebuah cara yang berbeda dengan yang dilakukannya saat memuja dan berdoa di depan Dea Hanoman. Kepala Bajrangi bagaikan tersambar petir. Ternyata Muni berbeda dengan dirinya. Muni seorang muslim.

Suatu ketika lain, keluarga calon mertua tengah berkumpul. Mereka sangat asyik menonton pertandingan olah raga antara regu India melawan Pakistan. Di akhir pertandingan ternyata regu India kalah. Semua anggota keluarga di ruangan tersebut terlarut dalam duka kekalahan. Di tengah hening mencekam yang tiba-tiba datang, sosok Muni kecil justru melompat-lompat kegirangan. Seluruh anggota keluarga heran dan bertanya-tanya. Ada apa dengan Muni?

Tidak hanya melompat kegirangan, Muni menghambur lari ke depan tivi. Ia menunjuk-nunjuk bendera negara Pakistan dengan penuh bangga. Semua mata membelalak. Muni gadis Pakistan. Bagaimana mungkin?

Mengetahui demikian, calon mertua Bajrangi naik pitam. Bagaimanapun sebagai seorang India, ia membenci bangsa Pakistan. Kini ia menjumpai kenyataan calon menantunya membawa bocah Pakista ke rumahnya. Bagaimana mungkin? Dengan kemarahan yang memeuncak ia mengusir Muni. Entah bagaimana caranya Muni harus keluar dari rumahnya. Muni harus dikembalikan ke Pakistan.

Dengan kekhawatiran yang memuncak, Bajrangi membawa Muni ke kantor kedutaan Pakistan. Ia menceritakan apa adanya apa yang dialaminya. Tanpa passport, tanpa visa, bagaimana mungkin kedutaan mengizinkan mereka melintasi perbatasan. Petugas tidak percaya dengan cerita Bajrangi, bahkan ia marah, menghardik, dan mengusir Bajrangi keluar kantor.

Dengan usaha melalui kantor resmi kedutaan Bajrangi gagal. Ia tidak kalah akal. Ia menghubungi seorang agen perjalanan luar negeri. Dengan syarat uang yang tidak murah, Bajrangi menitipkan Muni untuk dibawa melintasi perbatasan dan dikembalikan kepada orang tuanya. Sayang sungguh sayang, ternyata sang agen justru akan menjual Muni ke pasar gelap. Untuk Bajrangi sempat menyelamatkan Muni.

Tidak ada jalan lain. Bajrangi harus mengantar sendiri Muni ke Pakistan. Ia harus menerobos pagar perbatasan. Ia berniat meminta izin kepada para petugas perbatasan secara langsung. Dengan berjalan kaki ia menapaki gurun pasir menuju garis perbatasan.

Di tengah perjalanan, seorang agen menawarinya untuk ikut rombongan. Melintasi perbatasan tanpa dokumen resmi adalah perbuatan kriminal berat. Tanpa interogasi, tanpa penengkapan, mereka sudah dicap sebagai mata-mata dan musuh negara. Hukuman tembak di tempat adalah konsekuensinya. Akhirnya Bajrangi turut diselundupkan melalui sebuah terowongan di bawah gurun pasir. Ketika sudah memasuki wilayah Pakistan, ia memilih untuk menemui pasukan penjaga perbatasan. Bagaimanapun ia ingin memintan izin memasuki Pakistan untuk mengantarkan Muni.

Sepasukan penjaga perbatasan penunggang onta menemukan Bajrangi dan Muni. Mereka langsung menodongkan senjata. Semua menghardik, semua mencecar galak. Bajrangi bercerita apa adanya. Tentang niatnya mengantar Muni dan tentang terowongan rahasia. Semua tidak ada yang percaya. Dengan jaminan sang komandan, Bajrangi tidak ditembak. Ia harus segera kembali ke India.

Bajrangi adalah pemuja Hanoman yang taat. Sebagai seorang utusan dan duta untuk mengantarkan amanah Muni menjumpai orang tuanya, ia tidak mungkin mundur gelanggang. Bagaimanapun caranya, dengan risiko apapun ia harus setia pada janjinya sendiri. Berkali-kali pasukan perbatasan memergoki dan menodongkan senapan. Ia tidak bergeming. Akhirnya rasa iba sang komandan tersentuh. Dengan berat hati ia mengizinkan secara lisan Bajrangi memasuki Pakistan. Namun demikian tidak ada jaminan keselamatan bagi Bajrangi dan Muni.

Bajrangi dan Muni menjalani hari-hari pelarian yang berbahaya. Mereka dituduh sebagai mata-mata. Mereka menjadi buronan polisi dan para intel. Terlunta-lunta mereka berpindah dari satu desa ke desa lain. Dari satu bus ke bus lain. Bersembunyi di masjid, di pasar, dan dimanapun. Beruntung mereka berjumpa dengan seorang wartawan. Merekapun berjumpa dengan banyak orang yang masih memiliki rasa kemanusiaan yang utuh. Seolah Tuhan senantiasa memberikan jalan keselamatan.

Singkat cerita, Muni yang bernama asli Sahidah dapat bersatu kembali dengan orang tuanya yang tinggal nun jauh di pedalaman Kashmir pada sebuah kampung di kaki Himalaya. Kisah perjalanan Bajrangi dan Muni yang diabadikan oleh wartawan yang menyertainya telah menyentuh rasa kemanusiaan warga India dan Pakistan secara luas. Bagaimanapun kedua negera mereka berkonflik dan bermusuhan, namun sesungguhnya di dalam lubuk hati mereka senantiasa ada benih kemanusiaan yang akan selalu mempersaudarakan sebagai sesama manusia.

Film dengan durasi hampir tiga jam ini benar-benar menguras perasaan. Anak sulung kami yang biasanya hanya kuat nonton tivi hingga jam 21.00 kali ini lebih betah. Kami belajar tentang kemanusiaan. Di akhir cerita tak terasa butir air mata menetes. Haru biru. Kami larut dalam jiwa baru. Semoga.

Ngisor Blimbing, 12 Agustus 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s