Menyegarkan Kembali Ingatan kepada Diponegoro


Sebagai putra kelahiran Magelang, saya, demikian pula dengan anak saya, sudah semenjak kecil mengenang sebuah sosok patung perkasa di sudut Alun-alun Kota Magelang. Sesosok berjubah putih dengan pancaran kesucian jiwa. Seorang panglima perang yang sungguh-sungguh dalam berperang dan berjuang melawan penjajahan. Dia yang semenjak kecil meninggalkan kenikmatan dunia istana untuk lebih memilih hidup sederhana di tengah dan bersama rakyat biasa. Dialah pengobar Perang Jawa yang sungguh menyejarah. Dialah Pangerang Diponegoro.

Keberadaan patung Pangeran Diponegoro di pusat Kota Magelang bukan tanpa alasan yang mendasar. Sejarah mencatat Magelang sebagai ibukota pemerintahan Karesidenan Kedu menjadi tempat perundingan bersejarah yang mengakhiri Perang Jawa yang telah berlangsung lima tahun. Di samping itu, sebagai salah satu area medan perjuangan Diponegoro, sudah pasti sangat banyak warga sekitar Magelang yang merupakan anak turun para pengikut setia Sang Pangeran.

Dengan latar belakang tersebut di atas, sebagai anak bangsa ataupun secara khusus sebagai warga Magelang, kami senantiasa memiliki perasaan kedekatan tertentu dengan Pangeran Diponegoro. Hal tersebut mendorong keinginan untuk senantiasa tidak hanya sekedar mengenang dan mengenal, namun lebih daripada itu untuk selalu menggali sejarah dan mempelajari nilai-nilai kejuangannya. Kami meyakini bahwasanya perjuangan Diponegoro senantiasa relevan untuk menjadi bekal generasi masa kini dalam rangka mengisi kemerdekaan. Tidak hanya bagi kita, namun terasa lebih penting lagi untuk anak-anak kita.

Dalam beberapa kesempatan agenda yang berkaitan dengan Diponegoro, kami senantiasa mengajak anak-anak. Bedah buku tentang Takdir Sang Pangeran yang mendatangkan narasumber Peter Carey sang penulis di Perpustakaan Kota Magelang pada medio tahun 2015 menjadi titik awal perkenalan anak kami dengan sejarah Diponegoro. Tentu selepas itu banyak cara pendalaman lebih lanjut dalam rangka mempelajari riwayat sejarah dan perjuangan Diponegoro. Termasuk yang di masa akhir liburan sekolah lalu kami lakukan, mengunjungi Tegalrejo dan Gua Selarong.

Adalah semenjak usia bocah, RM Ontowiryo si Diponegoro kecil telah diasuh oleh nenek buyutnya di Tegalrejo. Sultan Hamengkubuwono I yang merupakan kakek buyut sang pangeran berharap pengaruh-pengaruh negatif dari pejabat Kompeni yang sudah merayapi istana tidak mempengaruhi tumbuh kembang Diponegoro. Diponegoro tumbuh menjadi remaja dan pemuda di tengah alam desa yang masih asri. Dia tumbuh besar di tengah rakyat dan kawulo kerajaan yang tengah terhimpit penderitaan jaman akibat tingkah ulah kaum penjajah. Hal inilah yang membangkitkan tekad di dada Pangeran untuk kelak melakukan perlawanan kepada kaum penjajah.

Tatkala rumah di Tegalrejo diserbu pasukan Kompeni pada pertengahan tahun 1825, guna meloloskan diri dari pasukan musuh, Diponegoro dengan menunggang kuda kesayangannya menerjang sebuah pintu kori yang ada di salah satu sisi dinding pekarangan rumah. Tidak saja menyebabkan pintu kori rusak, jebol di kanan kiri pintu tersebut turut jebol. Sisa tembok jebol tersebut masih abadi dan menjadi saksi sejarah dikobarkannya Perang Diponegoro atau dikenal juga sebagai Perang Jawa.

Selepas meninggalkan kediaman di Tegalrejo, Diponegoro menyusun kekuatan di kawasan Gua Selarong, wilayah Bantul sisi barat. Di sinilah pengikut Diponegoro semakin bertambah banyak. Di sini pulalah kemudian turut bergabung para tokoh pejuang dan ulama. Ada di barisan tersebut nama-nama Kyai Mojo dan juga Panglima Sentot Alibasyah.

Jantung bertahanan di wilayah Gua Selarong dikendalikan dari Gua Kakung dan Gua Putri. Tidak hanya kaum Adam yang bergabung untuk mengangkat senjata, kaum perempuanpun dengan peran khusus turut serta mengambil bagian. Letak Gua Selarong yang berada di lereng bukit menjadikannya sebagai tempat yang strategis sebagai basis pertahanan. Di satu sisi pihak musuh tidak mudah untuk menjangkaunya. Sisi lainnya, Diponegoro dan pengikutnya juga memiliki keleluasaan untuk mengawasi wilayah di bagian bawah termasuk gerak-gerik pergerakan musuh.

Pertama kali berkunjung ke Selarong saya masih bocah, bahkan belum bersekolah di TK sekalipun. Di masa itu kawasan Selarong merupakan kawasan dengan tutupan vegetasi tumbuhan yang sungguh rapat. Suasana hijau dan hawa yang sejuk sungguh menentramkan jiwa. Di salah satu sisi gua gemericik jatuhan air yang terjun bebas dari sebuah air terjun menjadikan latar pemandangan yang sungguh menawan. Di sisi atas perbukitan seingat saya waktu itu banyak tumbuh pohon jambu kluthuk. Rombongan kami yang memang terdiri atas anak-anak SD dengan suka cita memanjat pohon-pohon jambu yang ada, memetik jambu yang masak kuning kemerahan, dan membawanya dalam tas-tas ransel lungsuran tentara.

Selarong kini tentu tidak bisa lepas dari konteks dinamika jaman. Pohon-pohon jambu kluthuk yang dulu tumbuh rapat kini tidak tersisa lagi. Justru yang banyak kami jumpai di gelaran jualan warga sekitar adalah buah sawo kecik. Menurut salah seorang narasumber, konon pohon sawo kecik merupakan jenis pohon sandi atau identitas yang ditanam di pekarangan rumah oleh setiap sosok keturunan Pangeran Diponegoro, terutama pasca Perang Diponegoro surut.

Perjalanan kami kali ini ke Tegalrejo dan Gua Selarong mudah-mudahan menguatkan ingatan kami kembali kepada Diponegoro, kepada sifat dan tabiatnya, kepada spirit dan semangat kejuangannya, kepada kegigihannya, kepada kecintaan terhadap tanah air, kepada nilai pengorbanan, kepada setiap kebaikan sikap dalam menegakkan nilai kebenaran hingga titik darah penghabisan. Bagaimanapun perjalanan bangsa dan negara ini masih sangat panjang. Nilai sejarah harus senantiasa digali sebagai pondasi dan bekal untuk melanjutkan perjuangan dalam rangka mengisi kemerdekaan. Semoga.

Ngisor Blimbing, 31 Juli 2019

Iklan

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Nusantara dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menyegarkan Kembali Ingatan kepada Diponegoro

  1. abu4faqih berkata:

    Pingin sesekali ke situ. Lokasi tepatnya di mana ya, Mas?

    Suka

    • sang nanang berkata:

      Meseum atau Pendopo Diponegoro Tegalrejo terletak di sisi barat Jln. HOS Cokroaminoto (masuk gang utara perlintasan kereta api).
      Kalau Goa Selarong berada di wilayah Kec Pajangan, Kab Bantul sisi barat

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s