Elang Garuda Gunung Merapi


Tepat di bibir Kawah Ratu Gunung Tangkuban Perahu terdapat dua ikon binatang. Seekor maung atau macan, alias harimau. Satunya lagi berupa seekor burung elang, atau ada pula yang menegaskannya sebagai garuda. Maung belang berwarna kuning tentu dalam keyakinan masyarakat Parahyangan adalah personifikasi dari Ranghyang Prabhu Siliwangi, raja termasyur dari Kerajaan Pajajaran. Adapun elang atau garuda dulunya merupakan spesies endemic burung yang berhabitat di seputaran puncak gunung. Bagi sebuah gunung berapi, elang garuda juga menjadi burung yang seringkali memberikan sasmita atau pertanda yang berkenaan dengan peningkatan aktivitas kegunungapian.

Kejadian erupsi Gunung Tangkuban Perahu dua hari lalu mengingatkan saya kepada kisah Pak Isharyanto saat pembukaan Festival Lima Gunung ke XVIII bulan lalu berkenaan dengan burung elang garuda dalam kepercayaan masyarakat di kaki Gunung Merapi. Gunung Merapi merupakan gunung berai aling aktif di dunia. Dibandingkan dengan erupsi Tangkuba Perahu yang membubungkan tinggi kolom asap sekitar 200-an meter, Merapi dalam kondisi Siaga II saat inipun biasa meluncurkan awan panas hingga radius dua kilometer. Lalu apa hubungan antara elang garuda dengan aktivitas sebuah gunung berapi sebagaimana Gunung Merapi?

Peningkatan aktivitas gunung berapi seringkali ditandai dengan terjadinya gempa vulkanik atau getaran tremor yang semakin meningkat. Getaran ini menjadi dasar pengamatan aktivitas sebuah gunung berapi yang dilakukan dengan alat ukur gempa atau seismograf. Gempa tremor menyebabkan terjadinya perubahan suhu, tekanan, ataupun kelembaban udara sekitar yang sangat dipengaruhi aktivitas di dalam kawah magma ataupun pada permukaan kawah aktif. Untuk perubahan-perubahan parameter yang terakhir ini seringkali “sangat dirasakan” oleh binatang-binatang penghuni lereng gunung.

Saat terjadi perubahan suhu, tekanan, kelembaban, bahkan keberadaan gas tertentu menyebabkan ketidaknyamanan. Hal tersebut kemudian membangkitkan insting binatang-binatang yang ada untuk menjauh dari lingkungan yang kurang bersahabat. Akibatnya dalam kondisi demikian, secara berangsur-angsur binatang-binatang tersebut akan “mengungsi” alias turun gunung. Turun gunungnya binatang dari puncak dan lereng inilah yang dibaca oleh masyarakat sekitar lereng dan kaki gunung berapi sebagai sebuah kondisi bahaya. Dengan demikian, masyarakat bersiap untuk mengamankan diri atau mengungsi dengan menjauhi ring bahaya.

Elang jawa atau elang garuda adalah spesies burung endemik Gunung Merapi. Bagi masyarakat di selingkaran Gunung Merapi, elang garuda seringkali terbang ke kawasan pedusunan untuk mengabarkan kondisi “panas” di puncak gunung. Sang burung di siang bolong akan terbang melingkar-lingkar berkali-kali di atas beberapa perkampungan. Jika kondisi demikian berlangsung, masyarakat sudah paham bahwa Merapi telah mengalami peningkatan aktivitas. Masyarakatpun kemudian bersiap diri dengan segala kemungkinan. Sekiranya aktivitas tersebut berlanjut menjadi sebuah kejadian erupsi yang besar maka masyarakatpun siap mengungsi. Mereka akan dengan sukarela untuk menjauh dari lingkaran Gunung Merapi untuk sementara waktu. Mereka sangat paham bahwa sang gunung sedang menjalankan “hajatan” dan hal tersebut harus dihormati.

Keyakinan, mitos, bahkan pengetahuan masyarakat Merapi mengenai burung elang garuda ini merupakan sebuah nilai kearifan lokal yang telah digali, dinalar, dipahami, dikembangkan, bahkan diwariskan secara turun-temurun hingga generasi pada saat ini. Nilai inilah yang kini menjadi salah satu dasar pengetahuan mitigasi kebencanaan gunung berapi berbasis nilai kearifan lokal.

Lebih daripada sebagai sebuah nilai kearifan lokal yang menjadi basis pengetahuan mitigasi kebencanaan gunung berapi, juga dapat dikaitkan dengan filosofi dasar kehidupan dan kebangsaan negara kita. Garuda Pancasila sebagai dasar filosofi negara digali dari falsafah burung tunggangan Raja Airlangga dari Kahuripan yang diyakini sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang memerintah dengan adil dan bijaksana. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu yang menjadi nenek moyang kita, garuda merupakan sosok yang sangat setia dan berbakti kepada ibunya.

Atas kelicikan Kadru dan anaknya yang berwujud naga, Winata, ibu garuda harus menjalani laku budak karena kalah dalam suatu undian yang curang. Demi membebaskan ibunya dari cengkeraman perbudakan Kadru, garuda harus mencari air suci perwita sari. Air tersebut diyakini sebagai air suci keabadian. Barangsiapa meminum air suci tersebut, maka ia akan hidup dengan abadi untuk selama-lamanya. Dengan menjalani banyak rintangan dan ujian, akhirnya garuda berhasil mendapatkan air suci perwita sari.

Para naga putra Kadru tidak tinggal diam, mereka dengan segala tipu daya ingin merebut air suci perwita sari anugerah dewata dari tangan garuda. Terjadilah perseteruan yang tiada berujung. Inilah simbolisasi peperangan antara kebajikan dan kebatilan. Hingga dunia kiamat kelak, peperangan ini akan berlangsung terus-menerus. Ada orang baik, senantiasa ada pula orang jahat. Ada orang adil, akan ada pula orang yang lalim. Demikianlah adanya kehidupan di dunia fana ini.

Filosofi elang garuda sebagai sahabat masyarakat Gunung Merapi dan juga sebagai simbol kesetiaan kepada ibu pertiwi, kepada nilai kebajikan, kepada jalan kebenaran inilah yang melatarbelakangi sosok elang garuda diwujudkan sebagai patung berukuran raksasa yang menjadi latar utama panggung pertunjukan dalam gelaran Festival Lima Gunung XVIII tahun ini. Bukan dari batu apalagi perunggu, wujud patung elang garuda justru diwujudkan dengan bahan-bahan seadanya di sekitar Dusun Tutup Ngisor. Ada blarak atau daun kelapa, ijuk pohon aren, bahkan dahan dan daun pohon salak yang ditata secara artistic dan sungguh menarik. Sederhana namun sungguh sangat bersahaja.

Demikianlah elang garuda gunung Merapi kembali digali makna dan nilai filosofinya bagi sebuah nilai kearifan lokal sebagai bekal batin serta spiritualitas dalam menjalani kehidupan yang semakin penuh tantangan. Salam budaya….

Ngisor Blimbing, 28 Juli 2019

Tentang sang nanang

Hanyalah seorang anak kecil yang belajar menelusuri lika-liku kehidupan di jagad maya
Pos ini dipublikasikan di Jagad Budaya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s